
Rosa termenung di balik jeruji besi. Di hatinya masih tersimpan kesal teramat dalam kepada Sanjaya.
'Aihh! Dasar orang tidak tahu terimakasih! Sudah di bantu untuk jujur malah aku kena dampak nya! Seharusnya tidak usah jujur lagi.'
"Rosa cepat lah pijitin kaki ku, dari tadi kau diam saja." ujar teman Rosa di dalam jeruji besi itu sambil menunjuk kaki nya yang sudah berselonjor di paha Rosa. Dengan kesal Rosa memijat kasar, kalau menolak untuk memijat pasti Rosa sudah di gunjingkan dan dikucilkan oleh teman-temannya.
"Heh Rosa pijat yang benar! Gitu doang tidak bisa." ketus temannya lagi.
"Maaf." hanya kalimat itu saja yang bisa Rosa keluarkan lalu memijat kaki temannya lagi.
"Member baru tuh yang nurut sama kita-kita yang udah senior! Paham tidak Rosa, ha!" sentak temannya lagi yang sedang bermain kartu.
"Paham." angguk Rosa walaupun hatinya kesal, apalagi 2 tahun dirinya di penjara, ia sudah membayangkan bagaimana kehidupan untuk kedepannya.
***
"Nona Delisaa ... " teriak Bi Romlah menuju kearah dapur.
"Ya Bi ... Sebentar ..." Delisa yang masih memakai daster dan menecepol rambutnya tak membuat wajah cantiknya memudar melainkan semakin tambah kadar cantiknya.
"Ada apa Bi?" tanya Delisa sambil mengelap dahinya.
"Itu Non ... Ada Tuan Revano kemari." jelas Bi Romlah.
Glekkk ...
"Ada apa ya?" Delisa bertanya kembali.
"Kurang tahu Non ... Tadi hanya menyuruh Bibi memanggil Nona saja."
"Kalau begitu Delisa ganti baju dulu, sekarang baju nya sudah bau bawang ... Tolong Bi Romlah temankan Pak Revano dulu di depan." ujar Delisa sambil berlari ke kamarnya.
"Ada apa Rom?" tanya Bi Aam yang baru keluar dari arah dapur dengan baju khas andalannya.
"Anu Am, ada Pak Revano di depan."
"Hah yang bener kamu Rom?"
"Iya Am, sini kamu temani saya di sana." Bi Romlah menarik tangan Bi Aam.
"Haisshh aku baru saja selesai memasak Rom, aku ganti baju dulu nanti menyusul." Bi Aam menepis tangan Bi Romlah yang sudah menggandengnya.
__ADS_1
Di dalam dapur, Bi Romlah menyiapkan teh manis hangat beserta kue-kue yang baru saja Delisa buat dengan Bi Aam, ternyata ada kue bentuk Love juga yang delisa buat tadi pagi.
"Silahkan di nikmati Tuan." ucap Bi Romlah sambil menurunkan gelas dan toples di depan Revano.
"Tak usah repot-repot seperti ini Bu, Saya hanya mau bertemu dengan Delisa saja." ujar Revano.
"Sebentar Tuan, Nona Delisa sedang ada di kamarnya." ucap Bi Romlah beralasan.
"Terimakasih Bu."
"Panggil saya Bi Romlah saja Tuan, jangan di panggil seperti itu, kurang enak di telinga saya hehehe." Bi Romlah terkekeh karena menurutnya sangat aneh karena panggilan 'Bu' hanya boleh untuk suaminya saja.
"Iya Bi Romlah, terimakasih ..."
***
"Ayo sayang di makan dulu bubur nya." kata Lilis sambil menempelkan sendok di bibir Aurel.
"Makan dulu Nak, nanti Daddy pulang, sebentar lagi pulang." ujar Sanjaya meyakinkan Aurel yang sedang menangis.
"Huaaa ... Tidak mau Opa ..." teriak Aurel, Sanjaya hanya memegang impusannya agar tidak terguncang, dan benar apa yang di takutkan Sanjaya lama kelamaan keluarlah darah dari tangan Aurel.
Suster masuk dengan membawa peralatan di tangannya.
"Nah sudah, Nona Aurel jangan bergerak dulu ya?" Suster masih memutarkan bagian alat impusan agar air nya stabil.
"Iya Sus, hiks ..."
"Saya permisi dulu Tuan, Nyonya ..." ucap Suster dan melenggang pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Terimakasih Sus ..." sahut Lilis.
"Opa ... Oma ... Daddy?"
"Ya sayang, katanya Aurel mau bertemu tante Delisa? Benar?" tanya Sanjaya.
"Iya Opa."
"Daddy sedang menjemput tante Delisa, nanti pulang kesini bareng tante Delisa, Aurel suka?" tanya Sanjaya lagi.
"Heem ... Suka Opa, sukaaa sekali, kapan Daddy pulang nya? Opa beneran kan, tidak bohong?" tanya balik Aurel bertubi-tubi kepada Kakek nya.
__ADS_1
"Iya sayang."
"Nah kalau begitu Aurel makan dulu ya? Biar tante Delisa kesini kan Aurel sudah sehat lagi." bujuk Lilis, langsung saja Aurel memakan bubur itu sambil sesekali mengoceh dan tidak sabar menunggu Daddy nya pulang.
Lilis yang melihat Aurel sudah lengket dan bisa-bisanya kehilangan Delisa walaupun bukan siapa-siapanya. Lilis mulai mengingat perkataan Sanjaya dan Revano untuk membujuknya agar tidak membenci Delisa "Yang mengusik itu bukan Delisa Ma, tapi Rosa! Itu pun ibu tiri nya."
"Tapi menurut Papa si Delisa anak yang baik sama seperti istri pertamanya pak Guntur."
Kata-kata itu menari-nari diatas kepala Lilis.
Lilis menyadari tidak seharus nya ia benci kepada Delisa karena kelakukan Rosa, padahal di kejadian kemarin Delisa tidak ikut-ikutan, Lilis berpikir bodoh.
Tiba-tiba saja Lilis yang sedang menyuapi Aurel menangis sendiri.
"Loh Mama kenapa?"
"Pa ... Hiks ... Hiks ..." Lilis langsung memeluk Sanjaya.
"Eh kenapa Ma? Ada apa?" Sanjaya mengelus pundak Lilis.
"Mamasalah Pa, Mama salah, Mama sudah keterlaluan!" Lilis memojokkan dirinya sendiri sambil terus saja menangis di pelukan Sanjaya.
"Salah? Salah apa?" tanya Sanjaya yang memang tidak mengerti arah pembicaraan Lilis.
"Mama Pa! Tidak seharusnya Mama melukai Delisa seperti kemarin, Mamah mau minta maaf sama Delisa, Hiks ... Hiks ..." Sanjaya tersenyum simpul.
"Alhamdulillah kalau Mama sudah menyadari, nanti Delisa juga kesini sama Vano." Lilis mengangguk dan mengelap air matanya.
"Oma ..." seru Aurel lemah.
"Iya sayang ... Mau lagi bubur nya?" canda Lilis.
"Iya kan kata Oma biar Aurel sembuh nanti kan tante Delisa kesini, iya kan Oma?"
"Iya sayang, Aurel makan yang banyak ya ... Sini biar Oma suapi, Aaaaaa ...." Aurel menerima suapan dari Lilis hingga tandas, lalu Aurel juga meminum obat seperti kemarin, Namun kali ini Aurel meminumnya dengan senang hati tanpa paksaan karena sudah tahu rasanya.
"Pintar nya Cucu Oma, sekarang Aurel tidur ya? Oma temenin." Lilis merebahkan badannya disamping Aurel, brangkar yang Aurel gunakan memang sedikit luas.
"Kalau begitu Opa tidur di sofa ya? Aurel tidur yang nyenyak."
Walaupun masih pagi, tetap saja Lilis tertidur karena semalam sempat begadang karena suhu badan Aurel yang memang masih panas turun dan belum stabil.
__ADS_1