
Sampai di rumahnya, Delisa langsung menaruh motor matic ke dalam bagasi. Mobil-mobil sudah tersusun rapih disana, motor hanya terdapat empat saja, itu pun lima jika dihitung bersama motor kuno milik Mang Endang.
Delisa tersenyum senang kala melihat mobil yang di pakai suaminya belum terparkir disana.
"Assalaamualaikum," ucap Delisa ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam Nona," jawab Bi Romlah.
"Bi Romlah, sudah jangan capek-capek bersihin rumah. Nanti tunggu pelayan baru datang yang khusus membersihkan rumah, tugas Bi Romlah hanya urusan dapur saja." ujar Delisa yang melihat Bi Romlah sedang mengepel lantai.
"Nggak apa-apa Nona, saya juga harus andil dalam membersihkan rumah, tidak harus di dapur saja" jawab Bi Romlah dan melanjutkan pekerjaanya.
"Baiklah Bi. Oh ya, apa Bibi lihat Aurel dan Bi Aam ada dimana?"
"Tadi Aurel merengek meminta ke kamar, mungkin ada di kamar"
"Delisa ke kamar Aurel dulu Bi,"
"Iya Nona,"
Delisa pun melangkahkan kaki nya menuju kamar Aurel yang berada di bawah, pintu kamar sedikit terbuka, dilihatnya Aurel sudah tertidur dalam posisi memeluk bantal guling miliknya.
Delisa tersenyum "Bi!" panggil Delisa pelan.
"Iya Nona? Ada apa?" Bi Aam berjalan menghampiri Delisa yang masih mematung di depan pintu.
"Nggak ada Bi, Apa Aurel sudah tertidur pulas? Baru saja Delisa ingin memberikan es krim pesanannya"
"Biar Bibi simpan di dalam lemari es saja, bagaimana Nona?" sahut Bi Aam.
"Maaf merepotkan Bi," Delisa menyerahkan kantong plastik yang berisi eskrim kepada Bi Aam.
"Nggak apa-apa Nona, Bibi juga ingin ke belakang."
"Terimakasih Bi, kalau begitu Delisa ke atas dulu"
"Iya Nona," jawab Bi Aam, ia langsung menuju ke arah dapur tepat nya pada lemari es untuk menaruh eskrim agar tidak mencair.
Delisa buru-buru langsung menuju ke kamarnya, ia mengambil alat test-pack untuk ia gunakan sekarang, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.
Setelah di celupkan ke dalam air mani miliknya, perasaan Delisa sudah dag-dig-dug melihat hasilnya, menurut aturan penggunaan dapat dilihat setelah lima belas menit setelah di celupkan ke dalam air mani.
Jadilah Delisa menunggu sambil menutup kedua kelopak matanya,
__ADS_1
"Astaga? Benarkah ini?" Delisa sungguh terkejut, ia melihat ada dua garis merah jelas di alat test kehamilan itu.
"Sayang, anak Mommy ..." Delisa mengelus perutnya "A-aku hamil?" Delisa menarik nafasnya panjang menahan rasa terharu yang begitu dalam.
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah telah memberikan kepercayaan kepada saya, terimakasih telah menitipkan malaikat kecil di dalam rahim ku" Delisa buru-buru mengelap air matanya, lalu ia membasuh wajahnya agar tidak terlihat seperti sehabis menangis.
Setelah mencuci wajahnya, Delisa segera membersihkan kamar mandi, ia juga memasukkan test-pack ke dalam saku celana nya.
Ceklek~
Delisa keluar dari kamar mandi bertepatan dengan kedatangan Revano memasuki kamar.
"Assalamualaikum sayang"
"Waalaikumsalam Mas, maaf tadi Delisa tidak menyambut Mas di depan, Delisa kebelet pipis hehehe" alasan Delisa, ia masih was-was memegangi saku celananya agar tidak terlihat menggembung dan membuat suaminya curiga.
"Tidak apa-apa sayang. Mas ingin mandi, tapi Mas inginnya di mandikan, Mandikan ya?" ujar Revano menaik turunkan alis tebalnya.
"Boleh Mas, Mas masuk dulu saja nanti Delisa menyusul,"
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Revano kesal, karena Delisa terlihat ambigu dan bingung.
"Kenapa apanya Mas? Nggak kok, nggak kenapa-kenapa" jawab Delisa santai.
"Iya Mas" Delisa pura-pura mengambil jedai rambut yang ada di kolong laci make-up, ia langsung mengambil test-pack nya dan menaruh di kolong laci, menutupinya dengan berbagai alat makeup yang ada agar tidak terlihat.
"Cepat lah sayang, kamu mau ngapain kesitu hm?"
"Nggak ada, ayok Mas Delisa mandikan." Delisa menuntun Revano dan membawanya duduk di atas bath-up, Delisa memandikan suaminya seperti anaknya sendiri dari menyabuni tubuh Revano hingga keramas sambil sedikit memijati kepala Revano yang merengek pusing.
Setelah acara mandi selesai, Delisa juga ikut menggantikan pakaiannya karena basah kecipratan air yang tidak sengaja, mereka bersama-sama memakai bajunya di Walk in closet.
"Mas?" celetuk Delisa ketika sudah berada di atas kasur.
"Ya sayang?" sahut Revano.
"Ada apa sayang?" lanjut Revano karena Delisa diam saja.
"Aurel ingin ke timezone, Delisa sudah janji wekeend ini akan pergi ke timezone, Mas bisa kan?" tanya Delisa, ia merebahkan kepalanya diatas lengan besar Revano.
"Bisa dong sayang, apapun untuk kalian" jawab Revano sambil memainkan hidung Delisa.
"Terimakasih Mas."
__ADS_1
"Sama-sama sayang," Revano gemas sekali dengan tingkah istri kecilnya yang masih malu-malu dengan dirinya.
***
Pagi hari.
"Mas berangkat dulu ya sayang? Kamu hati-hati di rumah." pamit Revano kemudian mencium kening Delisa.
"Mas juga hati-hati bawa mobilnya,"
"Ya sayang, Mas berangkat dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam Mas."
Pagi ini Delisa tidak ikut berangkat bersama suaminya karena suaminya berangkat lebih dulu darinya. Delisa hanya ada kelas siang hari ini, jadi tidak perlu berangkat pagi-pagi.
"Mommy Aurel berangkat sekolah, dadahh!!"
"Aurel apa yang Sus ajarkan kemarin kemana, lupa, hm?" sahut Bi Aam menyaksikan majikan yang di asuhnya melewati sang Mommy nya begitu saja.
"Hehe, Assalamualaikum Mommy," Aurel menghampiri Delisa dan mencium punggung tangannya.
"Aurel sudah pintar ya, lebih pintar lagi yang mengajarkannya, terimakasih ya Sus!"
"Tidak perlu terimakasih, karena ini tugas saya Nona," sahut Bi Aam sembari tersenyum manis.
"Aurel belajar yang rajin ya, tapi nanti Mommy tidak jemput ya? Mommy pulang sore sayang"
"Sama Sus?" tanya gadis kecil itu.
"Iya sayang, nanti di jemput Sus." jawab Delisa sambil membenarkan rambut Aurel yang berantakan.
"Sudah cepat berangkat, kasihan Mang Karman sudah lama menunggu di depan"
"Dadahh Mommy! Love you!" teriak Aurel sambil membentuk love pada jari-jari kecilnya.
"Love you to sayang!" Delisa terkekeh, ada saja tingkah laku putrinya yang membuatnya tertawa geli.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, Delisa menyemprotkan minyak wangi yang berlogo JAR itu ke seluruh tubuhnya.
Salah satu parfum termahal di dunia yang dimiliki Delisa memiliki wewangian yang unik. Produk ini juga memiliki nuansa bunga yang kuat seperti bunga oriental dan dahlia.
Aromanya seperti dedaunan yang basah dan bunga-bunga mekar di udara. Aromanya yang halus, namun menyegarkan.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Delisa segera turun dan berjalan keluar menemui Mang Endang untuk mengantar dirinya ke kampus.