Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 92


__ADS_3

Lilis mengajak Delisa untuk duduk bersama sambil menikmati semilir angin yang sejuk di tambah gemercik air yang ramai membuat suasana semakin adem.


"Ma!" panggil Sanjaya dari arah pintu, ia melihat istri dan menantunya sedang menikmati suasana halaman belakang pada sore hari.


"Papa! Sini!" sahut Lilis melambaikan tangannya keatas.


Sanjaya pun lantas melangkahkan kakinya kearah mereka berdua dan duduk santai sambil menikmati wejangan yang ada di atas meja.


Delisa sendiri bingung harus memulai obrolan dari mana, sedangkan kedua mertuanya sibuk berdiam diri sambil memainkan ponselnya saja.


Padahal Delisa ingin mengatakan bahwa dirinya ingin mengajak mereka untuk pergi ke Jakarta dan sekedar mampir untuk menjenguk ibu tirinya, tapi Delisa sangat ragu untuk mengatakannya.


"Ma, Pa?"


"Iya sayang?" sahut Lilis melirik Delisa dan menaruh Hp nya.


"Iya Del?" sahut Sanjaya bebarengan.


"Eum nggak ada, nggak jadi." ucap Delisa menggelengkan kepalanya pelan, semburat wajahnya penuh bimbang dan ragu-ragu. Sementara Sanjaya dan Lilis mengerutkan dahinya kompak.


"Ada apa? Ceritakanlah, Mama dan Papa siap mendengarkannya kok," sahut Lilis santai, Sanjaya hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawabannya.


"Eum begini Ma, Pa. Jadi sebetulnya Delisa dan Mas Vano berencana ingin berlibur weekend besok," kata Delisa.


"Wah bagus itu, tapi Mama mau kamu harus kontrol dulu ke dokter, Del. Rawan dengan kandunganmu yang masih beberapa minggu itu." ujar Lilis.


"Iya bener Ma. Papa juga takut cucu Papa kenapa-kenapa, apa nggak bisa di undur dulu Del? Dua bulan atau tiga bulan kedepan?" tanya Sanjaya.


"Nggak bisa Pa. Delisa sudah kangen berat sama Ayah, Ibu, Hehe." Delisa tersenyum memandangi kedua mertuanya.


"Oh, jadi kamu ingin pergi ke Jakarta, Del?" tanya Lilis, Delisa menghela nafasnya pelan "Iya Ma, rencanananya begitu, tapi-"


"Tapi kenapa sayang? Mama izinin kok, asalkan kamu kontrol dulu ke Dokter dan kamu tetap hati-hati." jawab Lilis sambil memeluk Delisa dan mengelus bahunya pelan.


"Tapi Delisa juga ingin menjenguk B-Bu Rosa juga Ma." celetuk Delisa membuat Lilis melepaskan pelukannya dan menatap Delisa.


"Ya, pergilah dan katakan padanya jangan pernah mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain." Lilis mengatur nafasnya, jika kembali diingat dia akan merasakan sesak di dadanya dan hatinya sedikit berdenyut.


"Ma, sudahlah ..." sahut Sanjaya pelan dan memeluk Lilis untuk menenangkannya.


"Ma, apa Mama masih belum bisa memaafkan Bu Rosa?" tanya Delisa pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Nggak, dan asal kamu tahu Del, Mama nggak bisa memaafkan kesalahan dia sekalipun dia sujud di kaki Mama!" sentak Lilis sambil menghapus buliran air matanya.


"Ma-Maaf Ma, Delisa bukan menyinggung perasaan Mama, tapi Delisa hanya bertanya saja, Maafkan Delisa Ma" Delisa memeluk Lilis pelan, Sanjaya melepaskan tubuh Lilis dan membiarkan Delisa memeluk istrinya pelan.

__ADS_1


Pria paruh baya itu sedikit bingung, entah ia harus memilih siapa, dia juga merasa bersalah karena tidak pernah bercerita tentang masalah itu kepada istrinya. Di sisi lain, ia juga berpikir itu hanya perkara bodoh dan tidak ada kejadian bercinta dalam kejadian itu, hanya saja dirinya terjebak oleh Rosa.


"Ma, benar apa yang di katakan Delisa, menantumu. Apa Mamah belum bisa memafkan Rosa? Sumpah demi Tuhan Ma, Papa dan dia tidak melakukan apa-apa." kini Sanjaya ikut berbicara.


Lilis mendongak "Belum Pa, entahlah Mama juga belum percaya Papa dan Rosa belum melakukan apa-apa, sedangkan Rosa sudah tidak memakai pakaian apapun, Papa juga bukan?, Hiks ..."


"Apa Mama masih belum percaya tentang rekaman CCTV dan saksi mata, Anton?" jelas Sanjaya.


"Memang benar Rosa sudah bertelanjang, dan Papa pun begitu, tapi tidak ada kejadian apapun di sana Ma, percayalah" tambah Sanjaya lantang membuat Lilis diam dalam pelukan Delisa.


"Hiks ... Papa," sahut Lilis.


"Ya Ma?" tanya Sanjaya pelan, ia mulai melemahkan suaranya.


"Maafkan Mama, karena sepenuhnya Mama belum bisa memaafkan Rosa." ujar Lilis.


Sanjaya hanya mendengus pelan "Iya Ma, terserah Mama saja. Biarkan Delisa dan Vano pergi menjenguk Rosa, bagaimana pun dia juga pernah ada di kehidupan Delisa." jelas Sanjaya.


"Iya Pa, tapi Mama ingin ikut ..." pinta Lilis, membuat Sanjaya membulatkan matanya.


"Tidak-tidak, nanti Mama ribut lagi dengan nya ..." Sanjaya sudah menerawang untuk kedepannya.


"Tidak Pa, Mama hanya ingin berziarah ke orang tua nya Delisa saja," sahut Lilis terkekeh.


"Iya Pa, Mama dengan Delisa saja."


Delisa hanya diam sambil memeluk Lilis yang menyenderkan tubuhnya, sambil sesekali mengelus lengan Lilis.


"Del? Apa Mama boleh ikut?" tanya Lilis.


"Hah? Benarkah Ma?" tanya Delisa, karena ia tidak terlalu mendengar percakapan keduanya yang membuat dirinya semakin bersalah saja atas perlakuan ibu tirinya.


"Iya sayang, Apa Mama boleh ikut?" tanya Lilis lagi.


"Boleh, Ma. Boleh banget." ujar Delisa senang.


"Sayang!"


"Mommy!"


Kedua suara itu yang tak lain adalah Revano dan Aurel, ayah dan anak itu sedang kompak memakan eskrim yang ada di tangan mereka masing-masing.


"Loh cucu Opa sudah bangun, hm?" Sanjaya menaruh Aurel dalam pangkuannya.


"Iya Opa" jawab gadis kecil itu sambil menikmati eskrim nya.

__ADS_1


"Mama kenapa? Habis menangis kah?" tanya Revano tak sengaja melihat wajah Lilis.


"Sedikit Van," jawab Lilis sambil menyeka air matanya.


"Kenapa?"


Revano mendudukkan dirinya di depan Delisa, karena di samping nya sudah tidak ada tempat lagi selain Lilis.


"Kenapa Pa? Ada apa?" tanya Revano beralih kepada Sanjaya karena Lilis hanya menunjukkan wajah datarnya saja.


"Nggak ada, Mama hanya ingin ikut liburan bersama kalian saja." ujar Sanjaya, lalu ia menggendong Aurel untuk pergi meninggalkan mereka karena sedikit geram dengan istrinya.


"Sayang?" Revano mengerutkan dahinya menatap arah Delisa.


Yang di tatap hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berbicara.


"Mama sudah tahu?" Revano kembali bertanya.


"Ya, silahkan kalian jenguk Rosa." ucap Lilis dengan senyum manisnya, membuat Revano melebarkan matanya tak percaya.


"Apa Mama sudah memaafkan Bu Rosa, Ma?" tanya Revano sedikit pelan karena takut menyinggung perasaannya.


"Belum, Van. Mama masih sedikit gedeg dan jijik dengan perlakuan dia saja." Lilis memejamkan matanya sambil menghirup nafasnya dalam-dalam "Misalkan Papa Mu dan Rosa sama-sama mabuk, mungkin bisa Mama maafkan. Tapi, Rosa menjebak Papa kamu untuk melakukan perbuatan yang terlarang, sulit rasanya untuk memaafkan."


"Apalagi sama-sama wanita, harusnya dia mengerti karena Mama juga punya hati dan perasaan." tambah Lilis dengan suara menahan tangisnya.


"Sudah, Ma. Sudah-sudah" Delisa tersenyum penuh arti, dia juga sudah mengerti bagaimana perasaan ibu mertuanya "Sudah, Mas!" Delisa melotot kearah Revano karena Revano ingin berbicara.


"Ya, sayang. Baiklah kalau begitu bagaimana kalau kita berangkat besok saja? Papa juga kebetulan tidak ikut kan? Roy juga, jadi bisa dua atau tiga hari, bagaimana?"


"Tapi, Delisa besok ada kelas, Mas." sahut Delisa.


"Loh, kamu kenapa nggak ambil daring saja Del? Inget loh, kamu lagi hamil ..." Lilis mengusap perut Delisa dengan sayang.


"Sudah, Ma." sahut Delisa.


"Baguslah kalau begitu, memangnya besok ada kelas jam berapa?"


"Jam pagi, Ma. Dari jam sembilan sampai jam sepuluh." jawab Delisa.


"Ya sudah, kita pergi habis sholat dzuhur saja, bagaimana, Van?"


"Boleh, Ma. Berarti masih ada waktu buat besok ke kantor sebentar."


"Sudah petang, Ibu hamil jangan di luar, masuk-masuk ..." Lilis menggandeng tangan Delisa, sedangkan Revano menggendong Aurel yang beralih dari gendongan Opa nya.

__ADS_1


__ADS_2