Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 56


__ADS_3

Pagi ini, di Lapas Mordika French, Bi Romlah, Bi Aam serta Mang Endang sudah melangkahkan kaki nya di koridor penjara, untuk membesuk majikan nya.


"Selamat siang Bu, Pak, Ada yang bisa saya bantu?" ujar Pria berseragam polisi dengan senjata di tangannya.


"Kami mau membesuk majikan kami Pak."


"Atas nama siapa?"


"Bu Rosa." sahut Bi Aam cepat.


"Rosa Mahendra?"


"Iya"


"Mari saya antar." Pria gagah itu berjalan kearah jejeran jeruji-jeruji besi di ikuti Bi Aam, Bi Romlah dan Mang Endang di belakang nya.


Setelah sampai di bagian paling ujung, Polisi langsung membuka pintu jeruji besi dan memanggil Rosa untuk keluar, sebelum nya Rosa sudah di pakaikan borgol terlebih dahulu.


Rosa mengernyitkan dahi nya bingung, melihat para ART nya kemari, Rosa berharap mereka bisa membawa nya keluar dari sini.


"Bi Am, Bi Romlah ... Mang Endang ..."


"Nyonya ..." sahut mereka bebarengan.


"Tolong ... Tolong saya Bi .. Saya tidak kuat tinggal disini hiks ..." ujar Rosa terisak dan memegang kedua tangan Bi Romlah di depan nya.


"Nyonya jangan bersedih .. Seharus nya kami yang meminta maaf karena kami tidak bisa dan tidak tahu harus berbuat apa." ucap Bi Romlah pelan dan memeluk Rosa.


"Tolong saya hiks ..."


"Kalian minta bermohon untuk cabut tuntutan kepada Pak Sanjaya saja hiks ... Saya tidak suka disini hiks ..." lanjut Rosa.


"Kami-kami tidak bisa nyonya ..."

__ADS_1


"Sepertinya hanya Nona Delisa yang bisa melakukannya Nyonya." sahut Bi Aam yang sedari tadi diam.


"Delisa?" gumam Rosa, tanpa ba-bi-bu lagi Rosa langsung saja memohon dengan iba.


"Tolong saya Bi, Mang ... Saya tidak kuat untuk tinggal disini untuk kedepan nya .. Saya-saya- hiks ..."


"Nanti secepatnya kami hubungi Delisa." ujar Mang Endang melihat majikannya yang sudah kurus kering dengan rambut sedikit mengembang di tambah baju nya yang di kenakan tidak seperti dulu, aura majikannya kali ini sudah seperti orang gila.


"Kenapa harus bocah itu?" tanya Rosa lirih.


"Karena Nona Delisa bekerja dengan Revano, anak tunggal Pak Sanjaya nyonya." ujar Bi Romlah.


"Tolong saya untuk membujuk Delisa, pasti jika saya yang meminta dia tidak akan mau melakukan nya." ujar Rosa pasrah.


"Nona Delisa tidak seburuk yang anda pikirkan nyonya." sahut Bi Aam.


"Bu Rosa, waktu besuk anda sudah habis, silahkan kembali lagi ketempat anda." polisi menghampiri Rosa lagi.


"Saya meminta kalian dengan sangat, kali ini tolong saya untuk bebas dari sini, bujuk Delisa dan pastikan saya bebas dari sini, saya mohon..." ujar Rosa sendu.


"InsyaAllah nyonya, doakan kami selalu." Rosa hanya mengangguk kepalanya paham.


Rosa mengikuti langkah polisi dan memasuki kembali ke sel besi bersama teman-teman preman nya. Sedangkan Bi Romlah, Bi Aam dan Mang Endang sudah pulang dan bersiap menyambut Nona kesayangan nya di hari minggu, karena Delisa sudah berbicara di telepon, diri nya serta Revano akan menginap sekitar 1-2 hari nanti nya.


"Cih cemen sekali kamu Ros!" ujar wanita berbadan gagah menghampiri Rosa dan menamparnya dengan keras.


"Gini doang nggak betah, kalau nggak betah ya nggak usah belagu cari gara-gara sama tuan Max." lanjut nya lagi.


"Jangan ngadu lo, nanti kita nggak ada yang mijetin lagi dong sampai kita ketiduran, iya nggak temen-temen?"


"Iya bos ... Sudah lah Ros, takdir tuh harus di terima, mau nggak mau ya harus mau." ujar wanita satu nya lagi.


"Nggak usah nangis! Lemah!"

__ADS_1


Plak ...


Plak ...


"Hahaha ..."


Plak ...


"Hajar bos hajar!!"


Plak ...


"Hahaha ..."


"CUKUPPPP!" pekik Rosa yang sudah muak dengan teman penjara nya.


"Cihh ... Berani sekali kau berteriak seperti tadi di hadapan saya!" Wanita itu menarik kerah baju Rosa dan di sudutkan di bagian pojok tembok.


"Akhh-" Rosa mencoba menepis tangan wanita itu dengan kasar, tetap tidak ada hasil karena tangan yang cukup keras dan berat.


"Lo mau mati sekarang hah!"


"Hajar aja Bos! Orang kayak gitu nggak usah di kasih ampun!"


Brukk ...


Wanita itu mendorong Rosa dengan tenaga besar nya hingga Rosa tersungkur, darah segar mengalir dari hidung nya.


"Hiks .. Hiks ..." tak tau lagi, sekarang Rosa hanya bisa pasrah, dia berdoa agar Delisa mau membantu diri nya dan membujuk agar Sanjaya dan Lilis mau mencabut tuntutan untuk diri nya.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Kasihan banget ya guys ... padahal Author nggak tega buat nulis part ini, tapi alur nya emang harus begini๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ™ˆ...

__ADS_1


__ADS_2