Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 105


__ADS_3

Satu bulan berlalu ...


Di pagi minggu hari yang cerah, sepasang suami istri dan putri kecilnya yang tak lain adalah Revano dan Delisa serta Aurel sudah siap untuk pergi keluar.


Mereka menaiki mobil mewah dengan Revano yang menjadi supirnya. Sudah lama juga mereka tidak bertemu dengan Sanjaya dan Lilis karena kesibukannya yang semakin hari semakin meningkat.


Aurel merengek meminta pergi jalan-jalan, Revano sengaja membawanya ke tempat Opa dan Oma nya. Delisa sudah tahu, Aurel pun pasti senang jika bertemu dengan Opa dan Oma nya.


Tak menghabiskan waktu banyak, hanya sekitar setengah jam saja mobil Revano sudah masuk ke halaman rumah Sanjaya dan Lilis, Pintu gerbang terbuka lebar, satpam menyapa dengan sopan sambil membungkukkan tubuhnya.


Rupanya bocah kecil itu nampak murung setelah turun dari dalam mobilnya.


"Ayo sayang, kita masuk ..." ujar Revano setelah mengunci mobilnya.


"Daddy ... Aurel ingin pergi jalan-jalan! Bukan main ke rumah Opa!!" ujar Aurel memberengutkan wajahnya.


"Iya-iya, kita ke rumah Opa dulu, habis ini kita pergi ke Mall." sahut Revano mengiyakan.


Mendengar penuturan sang Daddy, wajah Aurel bersinar kembali, tanpa di suruh ia langsung beringsut lari ke dalam untuk menemui Opa dan Oma nya.


Revano dan Delisa yang melihat Aurel berlari hanya terkekeh saja, ada saja perlakuan putrinya itu. Revano merangkul Delisa masuk ke dalam rumah, rumah dimana yang menjadi saksi bahwa Delisa pertama kali kenal dengan Lilis dan Aurel.


"Sayang, hati hati." ujar Revano menuntun istrinya menaiki tangga kecil yang ada di depan rumahnya.


"Iya, Mas. Tahu kok ..." sahut Delisa sambil tersenyum.


Revano dan Delisa masuk kedalam rumah mewah dan megah itu, di sambut hangat oleh Sanjaya dan Lilis disana.


"Kalian ingin kesini tidak memberitahu dulu ... Untung Mama dan Papa tidak pergi keluar ..." seru Lilis seraya berjalan menghampiri Delisa.


"Hehehe ... sengaja Mah, kejutan." sahut Revano, kemudian mencium tangan Lilis dan memeluknya sekilas, Delisa pun memeluk Lilis bergantian dengan suaminya.


"Haduh, Mama gak sabar lihat cucu Mama lahir ... Kira-kira cowok apa cewek ya, Pa?" tanya Lilis melirik Sanjaya.


"Cowok-cewek." jawab Sanjaya sembari tersenyum, pria tua itu sudah di kuasai oleh cucu perempuannya, diajak main dan tidak boleh di ganggu gugat.


"Lha, memangnya kembar, Van?" tanya Lilis heran.

__ADS_1


"Gak, Mah." ujar Delisa.


"Bisa jadi, soalnya Mama lihat Rani pas hamil Aurel perutnya tidak sebesar ini." ujar Lilis membelai halus perut buncit Delisa.


"Tapi Dokter tidak pernah bilang kalau baby nya ada dua ..." ujar Delisa menjelaskan.


"Tapi Mas seneng sayang, kalau baby nya ada dua. Kalau ada satu pun tak masalah, kita bikin lagi ya, gak?" Revano menaik turunkan alisnya, Delisa yang mendengarnya hanya bergidik ngeri membayangkan kedepannya.


"Haish, kamu kira semudah itu mengandung dan melahirkan, Van?" ujar Lilis geram.


"Hahaha ... Revano hanya bercanda saja, Mah."


"Ayo Del, kita ke belakang saja, sepertinya udara nya lebih segar ketimbang disini." Lilis berdiri dan mengulurkan tangannya kedepan Delisa, Delisa tanpa ragu langsung menyambutnya.


Mereka berdua berjalan kearah yang di tuju, duduk di bangku taman, menikmati semilir angin sepoi-sepoi di tambah dedaunan yang segar serta kolam berenang yang airnya sangat tenang membuat siapa saja yang disana akan merasa nyaman.


Sementara Revano sangat kesal karena kedua orang tuanya lebih mementingkan istrinya dari pada dirinya. Melihat Aurel asyik bermain boneka bersama Sanjaya, Revano memilih untuk naik keatas memasuki ruang kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati.


"Ah, rasanya masih sama, hangat dan nyaman." Revano mengguling-gulingkan tubuhnya diatas kasur.


Kamar Revano masih dengan desain dan interior yang sama, Sanjaya dan Lilis tidak ingin merubah karena Revano melarangnya untuk mengubahnya. Hanya ada beberapa figura tambahan seperti foto tanaman dan beberapa stiker yang menempel pada dinding kamar itu yang sudah di pasang oleh Sanjaya.


"Em, Aqila! iya ini hadiah dari Aqila waktu dulu ..." Revano terkikik, ia teringat karena pada saat itu ia terbirit-birit menahan buang air kecil jadi ia taruh kado itu sembarangan di bawah Tv, hingga sekarang masih utuh, tidak ada seorang pun yang tahu.


Flashback ...


"Pak maaf ini hadiah dari saya." ucap seorang wanita sambil menjulurkan tangan nya di depan Revano.


"Hadiah untuk?" Revano kembali bertanya.


"Emm ya pokok nya buat bapak, terima ya pak plisss." kata wanita itu.


"Aqila? Dari jurusan hukum?" tanya Revano setelah melihat muka nya.


Aqila pun mengangguk.


"Pak pokok nya ini spesial banget dari dalam hati saya pak, saya denger denger bapak mau resign ya pak? Kenapa pak?" pertanyaan bertubi tubi yang diberikan Aqila untuk Revano.

__ADS_1


"Saya mau menikah." kata Revano mengarang. Pasalnya ia sudah tidak mau di dekati mahasiswi nya karena pikir Revano mereka masih bocah, ia hanya mau layaknya Dosen dan murid seperti biasanya.


"Buka saja deh ..." gumam Revano, ia mulai menyobek dan membuka kertas kado yang sudah mulai berdebu. Revano juga berpikir pasti Papa dan Mama nya sudah tahu, tapi mereka merahasiakannya atau dengan kata lain belum sempat memberitahunya.


Ada gelang hitam dengan inisial "R" di tengah-tengahnya, dan ada juga secarik kertas dengan bertuliskan "Semangat terus ya Pak." dengan di akhiri emoticon love.


"Hahaha ... Ada-ada saja Aqilah ini," Revano mengamati gelang nya, ia menyobek kertas tadi dan membuangnya lewat balkon, bisa-bisa Delisa ngambek kalau ia tahu.


Revano menyimpan gelang itu di laci kamarnya. Membiarkan gelang itu di simpan saja, mengenang dirinya pernah menjadi Dosen yang baik untuk para mahasiswa dan mahasiswi nya di kala itu.


***


Hari sudah mulai siang, Aurel si gadis kecil itu sudah mengamuk meminta pergi ke Mall kepada Daddy nya.


"Iya sebentar dulu sayang, Masyaallah ... salim dulu pinter ..." Delisa menghela nafasnya berat karena bajunya terus di tarik oleh Aurel.


"Cepat, Mommy ... Ayo!!!" ujar Aurel terus menarik tangan Delisa, ia tak mendengarkan apa yang di katakan oleh Mommy nya.


"Hey Aurel, masih siang loh ini ... Memang nya Aurel mau beli apa sayang? Malam kan bisa, kasihan Mommy nanti kecapekan ..." ujar Lilis menggelengkan kepalanya pelan, ia berbicara sembari melangkahkan kakinya mengikuti tarikan kecil Aurel.


Revano masih terlihat santai, ia pamit kepada Sanjaya, dan memintanya agar sering datang ke perusahaannya jika tidak ada pekerjaan, karena Revano juga ingin menjadi suami yang siaga untuk istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan itu.


Aurel berjalan lebih dulu di depan, sementara Delisa turun tangga tanpa memperhatikan kakinya.


Brugh ...


Brugh ...


Tiba-tiba saja ia terpeleset dan terjatuh, matanya sudah terpejam dan hanya mendengar teriakan histeris dari kedua mertuanya dan suaminya, ia juga mendengar putri kecilnya menangis ketakutan.


"Sayang, bertahanlah dulu, sebentar lagi kita sampai di Rumah sakit." Revano tak henti-hentinya menggenggam tangan istrinya dan sesekali menciumnya, terlihat pria itu sangat ketakutan di tambah darah segar yang mengalir dari paha istrinya membuatnya terngaga, pria itu terlihat sangat panik.


"Mang Eja, cepatkan sedikit laju mobilnya!" teriak Revano dengan lantang dan muka yang memerah.


"Baik, Pak." sahut Mang Eja.


"Tenangkan dirimu, Van! Delisa pasti baik-baik saja." sahut Lilis yang ikut khawatir melihat raut wajah Delisa yang memucat.

__ADS_1


Revano mengangguk cepat.


"Sabar sayang, sabar." Revano mencium tangan Delisa. Tangan Revano ikut bergetar, ia mengelus perut Delisa dengan lembut "Adek pasti kuat ya sayang"


__ADS_2