
Delisa dan Melati masih asyik mengobrol, tiba-tiba saja Revano turun menggendong Aurel dan mendekati Delisa. Delisa langsung merentangkan tangannya menyambut putrinya, tetapi Revano mendudukkan Aurel di samping Delisa.
"Kasihan adek, kalo ketindihan ama kakak nya" ujar Revano, lalu mengelus rambut Aurel "Daddy ke kamar dulu, Aurel sama Mommy ya"
"Iya, Dad." sahut Aurel pelan.
"Mas keatas dulu, sayang. Mari ..." Revano tersenyum kearah Melati lalu melenggang pergi setelah berpamitan.
Melati hanya ternganga melihatnya. Di tambah melihat Aurel yang sangat cantik, membuatnya semakin terpaku.
"Hai, Aurel ..." panggil Melati, Aurel hanya melirik lalu langsung menenggelamkan wajahnya pada tangan Delisa.
"Loh, kenapa ..." ujar Melati, ia kecewa karena ekspetasi nya terlalu tinggi.
Delisa hanya mengulum senyum nya "Sayang, ini teman kuliah Mommy, salim dulu. Duduk yang betul." Delisa memberi perintah, Aurel langsung terduduk dengan muka lesu sehabis bangun dari tidurnya.
"Salim, sayang."
Aurel bersalaman kepada Melati, lalu duduk kembali ke tempat yang tadi dia duduki.
"Ini nama nya tante Melati." ujar Delisa sambil menunjuk Melati yang ada di hadapannya.
"Jangan tante dong, kakak saja." elak Melati yang tidak mau di panggil tante.
"Iya, iya, ini kakak Melati." ralat Delisa.
"Halo, Aurel cantik ..." sapa Melati.
"Ya, kakak." sahut Aurel.
"Aurel sudah sekolah?" tanya Melati kepada Aurel.
Aurel hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sekolah dimana?" tanya Melati lagi, ia gemas dengan Aurel karena wajah nya begitu dominan mirip barbie di kartun-kartun yang biasa Melati tonton.
"Stamford International" jawab Aurel yang sudah fasih melafalkan bahasa inggris.
"Waw, hebat dong ... Kakak kira Aurel masih sekolah TK." canda Melati.
"Nggak dong, Aurel anak Mommy sudah besar gitu loh ..." jawab Delisa sambil terkekeh.
Tak terasa sudah lama mereka saling bercakap mengenai hal ini dan itu, hingga matahari terik mulai memunculkan dirinya.
Melati pamit pulang, Delisa juga berpesan agar Melati sering-sering bermain ke rumahnya, apalagi jika dirinya melahirkan nanti, sudah pasti Melati akan datang ke rumahnya bersama teman yang lain.
__ADS_1
Revano turun dari kamar, ia sudah melihat teman istrinya keluar dari halaman rumahnya melalui balkon atas kamarnya. Revano menghampiri kedua kesayangannya yang masih anteng duduk di ruang tamu, hanya saja Delisa fokus pada ponsel nya.
"Sayang" ucap Revano, Delisa menaruh ponselnya lalu merentangkan kedua tangannya.
Revano tersenyum lalu ia segera memeluknya dan hanya sekilas saja karena Aurel berada di sampingnya.
"Kamu lapar tidak? Makan ayo."
"Tidak, Mas. Tadi habis makan camilan, masih kenyang." jawab Delisa "Memang nya Mas sudah lapar? Apa mau Delisa temanin di meja makan?" imbuh nya.
"Iya sayang, ayo"
"Aurel, sayang. Aurel lapar tidak? Daddy mau makan, Aurel mau makan tidak, hm?" tawar Delisa, Delisa mengecilkan volume TV nya.
"Lapar, Mommy, Aurel juga mau makan." jawab Aurel sambil menatap ke arah Delisa.
"Ya sudah ayo Daddy gendong, buru Mom." sahut Revano seraya berdiri dan menggendong Aurel di belakangnya.
Delisa ikut bangun dan berjalan di belakang suami dan anaknya, sungguh momen indah yang Delisa lihat.
***
Pagi pun tiba, Delisa bangun lebih awal. Ia membuka gorden kamar serta jendelanya agar pasokan udara nya berganti, udara pagi memang terasa sangat segar jika di hirup.
Delisa segera mandi lalu melaksanakan sholat subuh. Setelahnya ia membangunkan suaminya yang ternyata sudah terbangun dan hanya saja Revano masih setia memejamkan matanya.
"Hm, iya sayang. Kamu disini ya tungguin, Mas."
"Iya, Mas."
Revano membalikkan tubuh nya lalu mencium istrinya gemas. Walaupun lagi mengandung, postur tubuh Delisa masih sama, dan hanya bagian-bagian tertentu yang ikut membesar seperti hal nya pada bagian dada, yang sudah siap mengasi jika anaknya sudah lahir nanti.
Delisa sengaja tidak membangunkan suaminya lebih awal, karena ia tahu bahwa suaminya sejak malam keluar dari kamar dan masuk sekitar jam 2 pagi, apalagi yang di kerjakan oleh suaminya jika bukan kerjaan nya.
Memang Revano sering menyerahkannya kepada Roy dan staf-staf yang di percayainya, tetapi kali ini ia inisiatif sendiri untuk mengerjakan project nya sendiri agar besok sudah bisa langsung di jelaskan kepada para karyawan-karyawannya.
Setelah sholat, Revano mendudukkan dirinya di meja rias dan mulai merapihkan rambut nya, dari menyisir nya hingga memberi pelembut pada rambut nya.
"Sayang? Ayo turun, Aurel bentar lagi pasti mau berangkat."
"Aurel kalau berangkat sekolah jadi tidak ingat ke kita ya, Mas."
"Hahaha ... Ya begitulah sayang, mungkin dia bahagia di sekolah bersama teman-temannya."
"Pasti sih, Mas. Teman-temannya baik, begitu pun dengan guru-gurunya juga."
__ADS_1
"Iya dong sayang, sekolah pilihan favorit dan pasti yang terbaik." sahut Revano lalu menggandeng istrinya turun ke bawah untuk sarapan pagi.
Dengan menenteng tas kerja nya, Revano terlihat sangat tampan sekali di tambah bau harum khas dari parfum nya menambah berkharisma saja pria satu itu.
Terlihat Aurel sibuk dengan sarapan pagi nya, di temani Sus Aam di samping nya, melihat kedua orang tuanya turun, Aurel tersenyum menampakkan barisan gigi nya yang rapih dan bersih.
"Pagi Daddy, Mommy." sapa Aurel kepada kedua orang tua nya.
"Pagi juga sayang" sahut Revano dan Delisa bersamaan.
"Mommy mau peluk adek" pinta Aurel dengan mengayunkan tangannya tanda Delisa harus mendekati dirinya yang sedang duduk manis sambil menikmati sepiring nasi goreng nya.
Cup!
Aurel memeluk Delisa sekaligus bayi yang di kandung di dalamnya, di akhiri dengan kecupan manis dari bibir putrinya untuk sang adik pada perut Mommy nya.
"Kakak Aurel makan yang banyak ya ... Adek juga mau makan sama Daddy" ujar Delisa meniru suara anak kecil, Revano hanya tersenyum manis melihat pemandangan yang ada di depan nya.
"Iya" Aurel menganggukkan kepalanya.
Delisa duduk di samping Aurel, sedangkan Revano duduk di hadapan istrinya. Mereka menikmati sarapan nya masing-masing hingga tak tersisa.
Aurel berpamitan berangkat ke sekolah takut jika terjebak macet di dalam perjalanan nya,karena jarak antara rumah dan sekolah nya cukup memakan waktu yang cukup banyak.
Setelah Aurel berpamitan, beberapa menit kemudian tinggal Revano yang pamit untuk pergi kerja.
"Mas? Apa tidak bisa agak siangan saja berangkatnya?" tanya Delisa setelah mencium tangan suaminya.
"Kamu kenapa sayang? Ada tugas kah? Nanti Mas bantu setelah Mas pulang kerja, oke?" jawab Revano mantap.
"Hehehe, Mas tahu saja. Tapi sepertinya deadline nya sore ini, Mas." sahut Delisa dengan cemberut, Revano langsung menyambar bibir mungil milik istrinya itu.
"Masa sih sayang? Ya sudah nanti Mas saja yang kerjakan, kamu duduk yang manis saja ya di rumah, jangan kerja yang berat-berat dan jangan berani pergi keluar tanpa bilang sama Mas." Revano memeluk Delisa erat lalu mencium seluruh wajah nya, dari mulai dahi, kelopak mata, pipi hingga yang terakhir lum😋tan lembut dari lidah suaminya.
"Adek, Daddy berangkat dulu ya ... Adek jangan bandel ya sama Mommy, Daddy sayang adek banyak-banyak."
Cup!
Revano membelai perut istrinya, anak nya itu kebetulan merespon ucapan Daddy nya dengan bergerak-bergerak di dalam perut istrinya, Revano tersenyum "Iya nanti Daddy beli susu buat adek, jangan nakal ya, baik-baik sama Mommy" Revano tersenyum menatap istrinya.
"Mas berangkat dulu ya sayang,"
"Iya, Mas ... Hati-hati bawa mobilnya!"
"Iya, sayangku ... Dadahh!" Revano melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Delisa ikut melambaikan tangan nya hingga mobil nya keluar dari halaman rumah.