
Di dalam mobil, Revano mengintip Delisa di balik kaca film mobilnya yang tidak terlihat dari luar namun sangat jelas dilihat jika dilihat dari dalam mobil.
"Ya Tuhan, maafkan aku hingga membuat istriku menangis, sampai ketemu di kafe sayangku." gumam Revano menampakkan gigi rapihnya.
Revano melajukan mobilnya menuju perusahaannya, memang benar apa yang di katakan istrinya mengapa harus berangkat pagi-pagi? tentu saja karena Revano ingin cepat-cepat menikmati pesta nya.
'Apa perasaan aku saja ya? mengapa tadi Delisa menjadi mudah menangis dan lebih emosian dari sebelumnya?' batin Revano.
"Selamat datang Bos," sambut Roy hangat ketika melihat big bos nya sudah datang.
"Pagi Roy," sahut Revano.
"Bagaimana Bos? Lancar?" tanya Roy penasaran dengan menautkan kedua alisnya.
"Lancar Roy, apa persiapan sudah matang? Saya sudah tidak sabar menantikan itu." Revano bertanya balik.
"Sudah Bos, sudah pasti lancar dan aman." sahut Roy.
"Ya terimakasih. Tolong check-in kan hotel untuk satu malam saja, saya dan Delisa akan menginap disana, dan pastikan tempatnya nyaman, jangan lupa hias kamarnya se menarik mungkin," pinta Revano.
"Siap Bos," sahut Roy lagi.
"Baiklah, jam 9 kita berangkat."
"Apa Citra dan Sani tidak di undang bos? Kan mereka juga merupakan teman Delisa."
"Ah ralat, maksudku teman Bu Delisa" sambung Roy.
"Ajak saja, tapi setelahnya kalian harus bekerja kembali." pungkas Revano.
"Siap Bos, saya akan berbicara kepada mereka berdua terlebih dahulu."
"Terserah kau saja," sahut Revano malas, ia lebih memilih masuk ke dalam ruangannya.
***
Sudah tiga hari lamanya Sanjaya dan Lilis masih sibuk di negeri orang, mereka berdua masih setia tinggal disana tanpa memikirkan untuk pulang ke Indonesia.
Hari ini Sanjaya dan Lilis bertemu dengan beberapa kolega terkenal se dunia, dan pastinya sudah banyak miliaran orang mengenalnya.
"Papah Mama ingin keluar saja ya?" bisik Lilis karena menurutnya pertemuan yang membosankan.
"Ya Ma, Anton ada di luar" sahut Sanjaya pelan.
__ADS_1
Dengan begitu, Lilis langsung pamit ke belakang, banyak juga para istri-istri yang ikut menemani suaminya untuk pertemuan bisnis yang di adakan di tiap tahunnya.
"Astaga! Lega nya ..." ujar Lilis, saat ini wanita paruh baya itu mencari Anton di luar ruangan.
"Aih, kemana tu bocah, katanya di luar" Lilis memutar bola matanya malas.
"Ibu, apakah ibu perlu sesuatu? Biar Anton bantu." seru Anton dari belakang Lilis yang membuat Lilis kaget.
"Astaga Anton! Kamu mengagetkanku saja" ucap Lilis menghela nafasnya sambil memegang dadanya.
"Maaf Ibu, Anton tidak sengaja." Anton menggarukkan tengkuk nya yang tidak gatal.
"Ya nggak apa-apa. Oh ya, Anton apa jadwal kita setelah acara ini selesai?" tanya Lilis.
"Tidak ada bu, setelah ini kita kembali ke hotel" jawab Anton sopan lalu mengajak Lilis untuk duduk di bangku Rooftop.
"Saya sudah bosan di sini, apa sebaiknya kita langsung pulang ke rumah saja An? Tidak ada acara lain, semua sudah selesai bukan?" tanya Lilis lagi.
"Harus nya sih begitu bu, tapi nanti Anton lihat lagi jadwal untuk besok, semoga saja sudah tidak ada pertemuan lagi dengan Pak Sanjaya" jelas Anton membuat Lilis paham akan ketenaran akan kesuksesan yang di miliki suaminya, Lilis sebagai istrinya pun turut bangga.
"Amin An, saya sudah kangen dengan Vano, Delisa dan tentunya cucuku."
"Iya Ibu." Anton hanya menjawab singkat.
"An, tolong pesankan minuman saja, saya haus sekali" ujar Lilis membuka dompet nya lalu memberikan ATM berwarna hitam kepada Anton.
***
"Nona, apa Nona nggak pergi kuliah?" tanya Bi Romlah menghampiri Delisa yang masih fokus menonton tayangan drakor nya.
"Ah nggak Bi, Mas Vano ingin mengajak Delisa ke kafe siang nanti" sahut Delisa kemudian wanita itu duduk bersampingan dengan Bi Romlah.
Bi Romlah sudah tahu, saat ini dia hanya pura-pura menanyakan saja.
"Oh, kirain Bibi Nona kelupaan karena asyik menonton tayangan film nya ..." ujar Bi Romlah menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan.
"Hehe nggak Bi," sahut Delisa ikut terkekeh juga.
"Nona, apa Nona sedang mengandung?" tebak Bi Romlah sambil mengamati tubuh Delisa di depannya.
Glek!
Delisa bingung menjawabnya.
__ADS_1
"Eum, memang nya kenapa Bi?" tanya Delisa heran, pasalnya ia tidak pernah menaruh test-pack nya sembarangan, bahkan Delisa sudah membungkusnya di box untuk di perlihatkan kepada suaminya nanti.
"Hanya ada sedikit perubahan, Ini, ini, dan ini." Bi Romlah menunjuk pipi, perut dan terakhir dada Delisa yang memang terlihat cukup membesar.
'Ya ampun, apakah sebaiknya jujur saja kepada Bi Romlah?'
"Bi, sebenarnya memang Delisa sedang hamil hehe ..." Delisa meringis malu, sontak Bi Romlah membulatkan kedua matanya "Nona? Benarkah?" tanya Bi Romlah hampir tak percaya, mereka langsung memeluk satu sama lain.
"Ssttt, Bibi nggak boleh kasih tahu siapa-siapa ya? Delisa ingin membuat suprise buat Daddy nya" Delisa menaruh telunjuknya di atas bibirnya.
'Waduh suami istri kompak bener, suprise sana suprise sini' batin Bi Romlah.
"Alhamdulillah ya Allahu Robbi ... Bibi ikut seneng dengernya" ujar Bi Romlah terharu, majikan kecilnya sudah tumbuh besar dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Hehe iya Bi, Alhamdulillah Delisa juga masih belum menyangka di berikan baby oleh Tuhan secepat ini. Delisa belum periksa ke Dokter juga dan hanya memastikan lewat dua test-pack dan hasilnya tetap sama."
"Ya Allah Nona, seharusnya ke dokter saja, nanti Pak Revano marah lo ... Apalagi bibi jarang membuatkan susu hamil, mulai besok Bibi akan membuatkan susu hamil untuk Nona, mau bibi belikan rasa apa hm?" tanya Bi Romlah bak anaknya sendiri.
"Nggak usah repot-repot Bi, nanti Delisa akan bilang secepatnya dan pasti Mas Vano membelikannya banyak" Delisa mengelus pundak Bi Romlah.
'Tapi aku dan Mas Vano sedang ada masalah bi ...' tambah Delisa yang tak terucap di dalam batin nya.
"Baiklah Nona, kalau begitu bibi ke belakang dulu untuk menemani Bi Rami yang baru datang."
"Ya Bi,"
"Sebaiknya berangkat sekarang saja deh," Delisa mematikan saluran TV nya dan beranjak naik keatas untuk bersiap.
Bukannya bekerja, justru Bi Romlah cepat-cepat mengajak Bi Rami untuk bersiap juga, memakai baju senada dengan Bi Aam yang sudah ada di cafe dengan Aurel.
Aurel pagi ini hanya berpura-pura sekolah saja, mereka berangkat pagi sengaja tetapi malah pergi ke taman untuk berolahraga pagi menemani Sus nya. Dan sekarang mereka sudah ada di Arion Cafe bersama Revano, Roy, Citra dan Sani.
Delisa sudah siap dengan memakai dress dan polesan make-up yang sedikit tebal membuat aura ibu hamil itu semakin cantik saja.
Drttt ... Drttt ... Drttt ...
Ponsel Delisa berbunyi, suaminya sudah menelponnya.
"Assalamualaikum, iya Mas sebentar Delisa sedang bersiap dulu,"
"Waalaikumsalam, jangan lama-lama, aku tunggu di meja outdor di lantai tiga" tegas Revano dingin.
"Iya Mas," sahut Delisa pelan.
__ADS_1
Baru saja berdiri, tiba-tiba Delisa merasakan kepalanya berat seperti ada batu besar yang menimpanya, Delisa berusaha untuk berdiri dan menemui suaminya untuk meluruskan masalahnya.
"Adek jangan buat Daddy mu semakin marah, ayo bantu Mommy agar bertemu Daddy mu dan Mommy akan mengenalkan Adek kepada Daddy di sana." kata Delisa sambil mengelus perutnya.