
Di rumah sakit.
Sanjaya dan Revano sudah berganti pakaian seluruhnya. Mereka berniat hanya berganti baju saja tetapi mereka memilih untuk mengganti semuanya agar bersih.
"Bagaimana, Ma?" tanya Revano yang baru saja datang, sekarang pria itu sudah sedikit merasa tenang.
"Mama juga masih menunggu, sabar ya sayang ..." sahut Lilis menggelengkan kepalanya pelan, ia juga bersyukur karena Revano sudah tidak panik seperti tadi lagi, entah apa yang dilakukan oleh Sanjaya kepada Revano tetapi Lilis sangat-sangat berterimakasih karena sudah memberikan pengertiannya kepada Revano.
"Baiklah, Ma." Revano meraup wajah menggunakan tangannya, bibirnya tak henti-hentinya melafalkan doa agar kedua kesayangannya selamat.
Satu jam berlalu, lampu emergency menyala sambil berputar-putar, menandakan bahwa operasi sudah selesai di lakukan.
Revano mengernyitkan dahinya heran karena tidak mendengar suara tangisan dari dalam sana, mendadak pikirannya menjadi abnormal. Tak hanya Revano saja, tetapi Sanjaya dan Lilis pun mempunyai pemikiran yang sama.
Deg ...
Antara bersyukur dan sedikit pasrah, Revano tanpa berbicara langsung berdiri di depan pintu ruangan operasi tersebut, ingin melihat di area dalam pun percuma karena pintu sangat buram dan tertutup oleh gorden disana.
Ceklek~
Pintu ruangan operasi terbuka, nampak ada Dokter dengan kacamata dan sarung tangan yang sudah di ganti pun keluar menghampiri keluarga pasien.
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar, Pak, Bu." ujar Dokter langsung menjelaskan.
"Anak saya bagaimana?"
"Cucu saya bagaimana?"
Tanya Revano dan Sanjaya mengenai keadaan anak dan cucu kedua secara bersamaan, membuat Dokter tersenyum melihatnya.
"Alhamdulillah, Ibu dan bayi selamat, si bayi sedang di bersihkan di dalam, sebentar lagi kami akan mengantarkan pasien ke kamar pasien."
Mendengar penjelasan sang Dokter membuat mereka bertiga bisa bernapas kembali normal, jantung yang tadi sudah bergemuruh sangat tidak normal, sekarang sudah kembali normal.
"Alhamdulillah ..." sahut Revano, Sanjaya dan Lilis bersama-sama.
__ADS_1
"Jenis kelamin bayi nya apa, Dok?" tanya Lilis penasaran.
"Laki-laki, Bu. Lahir dengan lengkap dan tanpa kekurangan apapun, ya walaupun terbilang lahir sebelum waktunya tetapi berat bayi nya bisa dibilang sangat wajar, Bu. Hampir seperti berat bayi yang lahir pada bulan ke sembilan seperti biasanya." ujar Dokter tersenyum manis.
"Alhamdulillah, Ya Tuhan, terimakasih!" pekik Sanjaya dengan girang, akhirnya keinginannya memiliki cucu laki-laki, terkabulkan juga.
"Pa!" Lilis memukul lengan suaminya sedikit keras.
"Maaf, Ma. Habisnya, Papa terlalu senang." Sanjaya memeluk Revano, "Akhirnya cucu laki-laki Papa lahir juga, Van!" bisik Sanjaya. Revano juga ikut senang mendengarnya, anak laki-laki yang ia impikan akhirnya lahir juga, anak yang akan menjadi waris di bidang perusahaannya.
"Silahkan untuk Ayahnya segera masuk dan mengadzani putranya dulu, Pak." ujar Dokter mempersilahkan Revano agar memasuki ruangan operasi.
"Saya permisi dulu, Pak, Bu. Nah itu pasien akan di bawa ke kamar inap, silahkan ..." Dokter menunjuk brankar dari dalam ruangan yang sudah terdorong keluar oleh beberapa suster. Nampak ada Delisa yang masih memejamkan matanya, Revano ingin sekali memelulnya dan mencium seluruh wajahnya, tetapi ia langsung sadar, buru-buru mengikuti langkah para suster dengan cepat.
Revano menangis tersendu, ia melihat bayi tampannya bergerak gerak di dalam tabung inkubator, ia mensejajarkan tubuhnya dan mulai mengadzani bayi mungin itu tepat di telinganya. Tangan Revano bergetar, hati nya juga ikut menghangat ketika anaknya meresponnya dengan tangisan yang sangat kencang.
Mungkin karena suhu tubuh bayi tampan itu tidak normal, maka di masukkan kedalam tabung inkubator bayi. Hal ini dapat di sebabkan seperti badan bayi basah dan lembab saat lahir, sehingga bayi tampan itu harus segera dikeringkan. Selain itu, suhu di sekeliling bayi saat lahir cenderung dingin terlebih bayi yang dilahirkan lewat operasi caesar.
***
Di kamar inap.
Kamar VVIP yang sudah Lilis pesan menjadi ruangan untuk menantunya. Lilis sengaja pesan kamar VVIP agar para keluarganya bebas keluar masuk tanpa batas ke dalam kamar tersebut.
Suasana di dalam kamar masih terasa hening, Revano sudah duduk di samping istrinya, menggenggam dan mencium tangan Delisa dengan belaian kasih dan sayang.
Sementara Sanjaya menunggu menantunya sadar pasca operasi, Sanjaya duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Sedangkan Lilis mengurus keperluan sang bayi karena Bi Romlah, Bi Aam, Mang Endang sudah datang ke Rumah sakit dengan membawakan peralatan kebutuhan untuk bayi.
Mereka masih menunggu di luar karena mereka belum tahu kamar Delisa.
"Sayang ..." Bisik Revano di telinga istrinya, menepikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Bangunlah ..." sambung Revano lalu di akhiri dengan mencium pipi istrinya.
__ADS_1
Ceklek~
Pintu kamar terbuka, ada Dokter dan suster yang masuk untuk mengecek keadaan Delisa.
"Selamat sore, Pak. Saya ingin periksa keadaan Ibu Delisa, permisi." ujar Dokter kemudian menutup mulutnya menggunakan masker, memasang alat stetoskop pada telinganya untuk mengecek stabilitas jantung Delisa.
"Mengapa istri saya lama sekali untuk bangun, Dok?" tanya Revano menatap Dokter.
"Istri Bapak sebentar lagi akan sadar, efek bius memang membuat tubuh terasa lemas seperti tidak memiliki tenaga." jelas Dokter.
"Lalu kapan akan sadarnya, Dok?" tanya Revano lagi.
"Efek bius biasanya hanya memakan waktu 1 jam lebih saja, Pak." jawab Dokter.
"Baiklah, Dokter. Terimakasih." sahut Revano.
Sanjaya ikut menghampiri mereka, mendengar penjelasan sang Dokter.
"Kapan saya bisa melihat cucu saya, Dok?" tanya Sanjaya.
"Kapan ya Sus?" tanya Dokter kepada suster nya.
"Maaf, Pak. Sepertinya besok pagi baru bisa bertemu, bayi nya masih harus di beri perawatan terlebih dahulu, karena kekurangan air ketuban, Pak." jawab Suster menatap Sanjaya.
"Baik, Sus, terimakasih ..."
"Ada pertanyaan lagi, Pak? Kalau tidak ada, kami permisi dulu, setelah Bu Delisa sadar, Bapak panggil kami saja" ujar Dokter kemudian melenggang pergi keluar.
"Huft ..." Revano menghembuskan nafasnya berat, lalu ia menyelimuti istrinya dan mencium dahinya. Kemudian pria itu langsung ikut duduk di sofa berdekatan dengan Sanjaya.
"Istirahatlah dulu, Van. Ada Papa disini, biar Papa yang menjaga Delisa." ucap Sanjaya menepuk pelan punggung putranya.
"Iya, Pa. Revano istirahat dulu ya, kalau Delisa sudah sadar, tolong langsung bangunkan Vano." pinta Revano dengan suara yang pelan.
"Iya, Van."
__ADS_1
Revano langsung mengangkat kakinya keatas, rasa lelah dan mengantuk memang sudah ia rasakan sejak tadi, tak menunggu lama-lama, ia pun langsung mengarungi alam mimpinya.