Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 74


__ADS_3

Revano terlebih dahulu mengantarkan putri nya hingga tepat di depan gerbang sekolah saja, karena peraturan sekolahnya tidak boleh mengantar melewati gerbang sekolah kecuali ada keperluan tertentu saja.


"Belajar yang rajin ya sayang ... Nanti pulang di jemput Mommy, jangan kemana-mana dulu, oke?" ucap Revano berjongkok meninggikan badannya dengan badan Aurel, sambil mengelus rambutnya.


"Yes Daddy,"


"Dadahh!" Aurel berlari memasuki gerbang sekolah sambil melambaikan tangan kecil nya kearah Revano.


Revano segera berlari kembali kearah mobil nya untuk melanjutkan perjalanan nya menuju kantornya.


Setelah menempuh kurang dari 20 menit, Revano sampai di perusahaan MS group, ia langsung saja memasuki gedung dan menaiki privat lift yang sudah pasti untuk dirinya.


"Ehm." Revano sedikit berdeham.


"Selamat datang kembali Bos," ujar Roy sambil tersenyum manis. Tak hanya ada Roy saja, disana ada Citra juga yang sedang menemani Roy duduk di meja kerja nya.


"Selamat pagi, Pak" ujar Citra menunduk sopan.


"Hm." sahut Revano sambil memberikan tas kerja nya kepada Roy dan tentu saja dengan senang hati Roy menerima nya.


Roy mengikuti langkah Revano yang ada di depannya, kali ini Roy sangat senang karena atasan nya sudah mulai bekerja kembali, jadilah sedikit mengurangi beban tugas yang di berikannya kemarin-kemarin.


"Apa anda ingin sarapan Bos?" tanya Roy dengan sopan dan menundukkan kepalanya.


"Tidak, keluarlah ..." jawab Revano datar sambil membuka laptop nya, dia mulai membenahi satu persatu berkas yang sudah di tumpuk oleh Roy untuk memverifikasi data-data yang sudah masuk.


"Baik Bos, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk memanggil saya." Roy langsung meninggalkan ruang CEO dan keluar menemui pujaan hati nya kembali.


"Roy, saya ke bawah dulu ya?"


"Ya Cit, hati-hati."


"Iya"


***


Di Lapas Mordika French, keadaan Rosa semakin terpuruk saja dengan badan yang mulai mengecil dengan raut wajah yang sudah lusuh dan rambut yang mengering.


"Bi Aam ... Bi Romlah ... tolong saya ... tolong saya ..." lirih Rosa sambil bersandar pada kedua lutut yang di tekuk dan sedikit mengeluarkan air mata dari pelupuk mata nya.


"Tolong saya ... Hiks ..."


"Delisa, maafkan saya yang biadab ini, saya memang sudah keterlaluan, maafkan saya Delisa ..." lirih Rosa lagi.


Satu persatu teman Lapas nya sudah bebas, dan hanya tersisa 4 orang saja dengan diri nya, menunggu sisa-sisa waktu penjara membuat batin wanita itu sedikit tertekan. Baru saja ia memasuki sel besi dari 2 bulan yang lalu, kini ia merasa sudah tidak kuat lagi dan hanya berharap ada orang baik yang membantu nya.


Dalam keterkurungan nya itu, Rosa sering kali bengong dan memikirkan perihal-perihal buruk tentang diri nya sendiri, ia sudah sadar akan semua kesalahannya.


Dia sudah berjanji setelah keluar dari Lapas akan meminta maaf kepada Delisa dan semua orang yang sudah di perlakukan buruk oleh diri nya.


Sholat!

__ADS_1


Teg ...


Rosa mengusap air mata nya, kemdudian ia berdiri dan mengetuk pagar besi untuk memanggil penjaga nya.


"Ada apa Nyonya?"


"Mukenah! Saya mau mukenah." ujar Rosa.


"Sebentar saya ambilkan."


"Terimakasih."


Selang beberapa menit kemudian, pak Polisi membawakan mukenah serta sajadah nya.


"Terimakasih." ucap Rosa lagi.


"Sama-sama Nyonya,"


Rosa segera mengambil wudhu karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, ia berpikir sudah memasuki waktu sholat dzuhur.


"Cih, tumben lu sholat." cibir wanita yang melihat Rosa menggelar sajadah sholat nya.


Rosa hanya melirik sekilas, ia tidak menanggapi omong kosong teman nya. Ia mulai melakukan sholat walaupun masih sulit untuk Rosa dan banyak kurang nya, tetapi niat yang mulia itu sudah Rosa panjatkan.


Selesai sholat, Rosa berdoa dan memohon ampun atas segala dosa yang telah ia perbuat.


"Amiin..." Rosa langsung merapihkan mukenah dan sajadah nya lalu kembali duduk bersama teman-temannya.


***


"Biar Mama saja yang memanggang kue nya, kamu cukup duduk manis disitu saja." kata Lilis menahan Delisa yang ingin berdiri.


"Iya Ma, ini mau bikin satu lagi atau bagaimana?" tanya Delisa.


"Cukup satu saja Del, ini loyang nya besar loh ..." ujar Lilis sambil tersenyum menampakkan deretan gigi nya.


"Baik Ma, biar Delisa cuci dulu wadah-wadah yang kotor nya." Delisa menyatukan wadah-wadah kotor dan membawanya ke wastafel khusus, ia mulai menyuci peralatan-peralatan tersebut, sedangkan Lilis masih berusaha melihat suhu oven agar kematangan kue nya terasa enak dan tidak terlalu mengempis.


Delisa duduk kembali setelah menyusun peralatan dapur di dalam rak.


"Masih lama, kita keluar saja yok Del."


"Nanti takut gosong Ma, biar Delisa disini saja."


"Di belakang mu sudah ada Bi Asih, jadi biar dia saja." lantas Delisa pun berbalik badan dan mengulum senyum kala melihat ada Bi Asih di belakang nya.


"Ah iya Nona, biar saya saja yang melakukannya."


"Kalau begitu saya dan Delisa keluar dulu, Bi." sahut Lilis dan menuntun Delisa agar ikut keluar.


"Baik Nyonya."

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dapur dan duduk di taman belakang, 1 jam lagi Delisa akan pergi menjemput putri nya karena Aurel pulang sekolah di jam 1 siang.


"Ma, Delisa keatas dulu ya? Mau bersiap buat jemput Aurel." ujar Delisa.


"Baiklah sayang, hati-hati ya?"


"Iya Ma ..." Delisa berdiri kemudian menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar nya.


Cukup lama Delisa berdandan, karena ia berencana untuk mampir ke kantor suaminya juga untuk bertemu Pak Muh, dan kedua temannya, Sani dan Citra.


"Ah sebaiknya aku pergi sekarang saja, takut di jalan macet, lebih baik aku yang nunggu lama dari pada anak ku yang kelamaan menunggu mommy nya datang."


Delisa keluar menaiki mobil bersama mang Eja, yang di khawatirkan Delisa tadi benar adanya, perjalanan cukup macet membuat Delisa khawatir akan terlambat menjemputnya.


Setelah terjebak macet, Delisa melihat gerbang sekolahan masih tertutup rapat menandakan anak-anak belum waktunya untuk pulang, Delisa hanya membuka setengah kaca mobil nya saja agar bisa melihat jika anak-anak sudah pulang.


Beberapa menit kemudian anak-anak sekolah sudah pulang dengan jemputannya masing-masing, Delisa bergegas turun dengan menggunakan kacamata hitam nya,


"Hati-hati Nona." ujar Mang Eja.


"Iya Mang."


Sambil melirik kanan kiri, Delisa masih mencari putri nya dan muncul lah Aurel berjalan sambil bergandengan tangan dengan temannya.


"Itu Mommy ku!"


"Good bye, Ayisa!"


"Bye Aurel!"


"Mommy!" Aurel berteriak memanggil Delisa, dengan cepat Delisa merentangkan tangan nya.


"Ayo kita pulang," ujar Delisa cepat karena tidak tahan sedikit terdesak dengan yang lain.


"Ayo Mommy." ujar Aurel senang.


"Kita ke Daddy dulu ya? Aurel mau kan?" tanya Delisa ketika sudah berada di dalam mobil.


"Eum ..." Aurel tampak berpikir terlebih dahulu.


"Ya sudah deh, Aurel mau main dengan Daddy, om Roy dan mbak Citra." lanjutnya.


"Tidak boleh sayang, hanya boleh menemani Mommy saja, jangan mengganggu mereka yang sedang bekerja ya ..." sahut Delisa.


"Baiklah Mommy." ujar Aurel pasrah dan memeluk Delisa.


...🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like, komen, hadiah, dan vote nya ya ... terimakasih🥰🙏🏼 maaf belakangan ini Author sedang sibuk di dunia Reallife ya teman-teman hehe ... Jadi mau tak mau harus di selesaikan dulu, maaf jarang up tapi di usahakan untuk up demi readers ku🥰🥰🙏🏼...


...#Salam hangat DGK...

__ADS_1


__ADS_2