
Revano baru saja turun dari mobilnya. Roy dan Citra pun sama-sama keluar dari dalam mobil, hanya saja mereka berdua menaiki mobil yang berbeda.
"Hati-hati." Roy mendekati Citra kemudian menggenggam tangannya, Citra yang malu-malu karena posisi mereka membelakangi Revano.
Revano hanya berdeham lalu melangkah melewati Roy dan Citra.
"Sayang?" kata Revano seraya menghampiri istrinya.
"Ibu? sejak kapan Ibu datang?" Revano beralih menatap Rosa lalu mencium punggung tangannya.
"Sejak pagi, Mas." sahut Delisa menjawab.
"Ah maaf, Ibu belum sempat izin untuk masuk, Pak Revano." Rosa langsung mennyahut.
"Panggil saja Vano, Bu. Samakan saja seperti Mama memanggilku." jawab Revano sambil tersenyum. Rasanya kaku sekali jika panggilan formal digunakan antara menantu dan mertua.
"Baiklah ..." Rosa mengangguk paham.
"Mama, Ibu. Apa kalian sudah makan?" tanya Revano melirik Lilis dan Rosa bergantian.
"Sudah. Jika kalian ingin makan, pergilah ... ada Mama yang akan menemani Rosa. Sudah sana-sana ..." Lilis mengibaskan tangannya.
"Sebentar, Oma." sela Roy. Mereka yang sedang berkumpul sama-sama berbalik badan dan menatap seorang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan.
"Hai ... Apa kabar, Cit?" Delisa berdiri dan menyambut Citra dengan memeluknya.
"Alhamdulillah baik, Del. Bagaimana dengan kamu? Athala mana?" tanya Citra balik.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Kebetulan Athala masih tidur di kamar." jawab Delisa.
"Loh Roy, Citra. Tumben kalian kesini. Ada apa?" ujar Lilis.
Roy pun spontan menatap Rosa, ia tidak merasa bingung karena Rosa sudah terkenal mantan istri dari Pak Guntur yang sering muncul dari majalah, koran, televisi dan lain-lain. Begitu juga dengan Citra, wajah Rosa tak asing lagi dari memorinya.
"Eh, Bu Rosa, saya Roy. Salam kenal." Roy menjabat tangan Rosa, diikuti oleh Citra.
__ADS_1
"Saya Citra, Bu. Salam kenal ..."
"Roy, Citra ... Salam kenal juga." sahut Rosa ramah.
Revano duduk di dekat Delisa sambil melilitkan tangannya ke perut Delisa, ia tak peduli ada mertua dan rekan kerjanya disana. Delisa menahan tangan Revano karena suaminya bermanja tidak tahu tempat.
"Mas, lepaskan." bisik Delisa.
"Temenin Mas makan, Yang." balas Revano.
"Hm nanti ya, Mas. Mas makan duluan saja. Delisa ingin mengobrol dengan Citra dulu."
"Athala mana, Yang?"
"Bobo, Mas."
"Aurel?"
"Tadi Kakak kebelakang, Mas. Delisa tidak tahu, mungkin Kakak bobo juga."
Roy dan Citra masih berbincang-bincang mengenai pekerjaan dan lain lain. Tiba-tiba saja mereka dibuat kaget oleh Roy yang mengatakan bahwa mereka akan segera menikah. Minggu depan acara lamaran.
Ya, Roy berniat untuk mengikat pujaan hatinya lebih dulu, ia tak mau jika ada pria yang mendekati Citra. Kedatangan Roy untuk menemui Delisa adalah untuk memberitahunya. Lilis sudah ada disana, jadi Roy dan Citra tak perlu pergi ke rumahnya.
"Aku ikut seneng Cit, dengarnya ..." Delisa memeluk Citra, rasa bahagia menyelimuti hatinya. Tak disangka perasaan baru kemarin Citra dan Roy dekat, satu tahun dekat langsung dilamar saja.
"Omongan itu do'a ya ... Bener-bener ingin menikah sama Asistennya CEO ..." goda Delisa terkekeh.
Revano merasa dirinya terpanggil pun menoleh ke istrinya. Kemudian ia menyenderkan bahunya di ceruk istrinya "Tapi kamu istri CEO nya." bisik Revano hampir tak terdengar.
Delisa melirik, ia biarkan saja dan tak ingin menanggapi ocehan dari suaminya.
"Ya alhamdulillah, Del. Aku pun masih tidak menyangka di lamar oleh Roy secepat ini, padahal aku tidak ingin menaruh perasaan lebih padanya." ujar Citra terus terang.
"Semua takdir Tuhan. Kita tidak tahu seperti apa kedepannya. Tapi insyaAllah takdir Tuhan itu luar biasa. Dan yang tak di sangka akhirnya memang takdirnya yang seperti itu." sahut Rosa.
__ADS_1
"Ah iya, Bu. Ibu benar sekali." sahut Roy.
"Semoga kalian semua bisa hadir." sambung Roy.
"Pasti"
"Pasti dong"
"Pasti"
Jawab mereka semua dengan kompak. Roy dan Citra tersenyum hangat menanggapinya.
***
Roy dan Citra pamit untuk pulang. Mereka hanya ingin memberitahu saja. Dan tak lama mereka langsung pamit untuk pulang.
Revano masih berpakaian kerja lengkap karena menunggu istrinya menyelesaikan obrolan hangat dengan temannya.
"Vano, sana gih mandi dulu. Jorok banget kamu." ucap Lilis bergidik ngeri.
"Hm, ayo sayang." ajak Revano. Pria itu berdiri dan menarik tangan istrinya untuk berdiri.
"Sudah turuti saja bayi besarmu, Del. Tanamkan saja di pikiran kalian bahwa kita tidak ada disini. Iya kan Ros?" Lilis berkata demikian karena Delisa merasa tidak enak jika Revano berdekatan dengan dirinya di depan kedua orangtua nya.
"Iya benar, Lis." jawab Rosa setuju. Delisa tersenyum kikuk. Suaminya ini benar-benar memalukan.
"Kalau begitu, Delisa ke kamar dulu ya, Bu, Ma." Delisa berdiri.
"Vano juga Bu, Ma. Titip anak-anak jika nanti mereka sudah bangun." pesan Revano kepada Lilis dan Rosa.
"Siap, Van"
"Oke, Van. Tenang saja ... Semua pasti aman terkendali." sahut Lilis sambil mengedipkan matanya.
Revano hanya mengangguk saja. Mereka berjalan langsung menaiki tangga. Tetapi sebelumnya Delisa meminta ke Bi Rami agar makan siang Revano di bawa ke atas saja. Walaupun hari sudah mulai petang, pulang kerja pasti Revano akan merasa lapar. Entahlah ingin di sebut makan siang atau makan petang, Delisa pun tidak tahu.
__ADS_1