Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 41


__ADS_3

Setelah sampai di Rumah sakit, Revano berlari kearah UGD, ia melihat Lilis dan sanjaya yang sudah ada disana sedang menunggu.


"Van ... " seru Lilis sambil berdiri dan menghanpiri Revano.


"Aurel Mah Aurel ..." Revano masih terlihat bingung dan belum puas jika ia masih belum melihat kondisi putri nya dengan mata dan kepalanya sendiri.


"Duduk Van." Sanjaya menepuk kursi kosong di sebelahnya.


"Bagaimana bisa terjadi Pah?" tanya Revano kepada Sanjaya.


"Sudah kita bicarakan ini nanti," jawab Sanjaya dan langsung berdiri ketika melihat Dokter keluar dari ruangan UGD diikuti suster yang sedang mendorong brangkar Aurel, dilihatnya disana Aurel sudah terpasang dengan impusan di tangannya dan mata yang masih terpejam.


"Dok tolong beri penanganan sebaik mungkin untuk putriku." ujar Revano sambil menjabat tangan sang Dokter.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin tuan, karena nona Aurel saat ini sedang mengalami kritis, kalau begitu saya pamit dulu, do'akan kami selalu."


Mendengar penuturan sang Dokter membuat badan Revano menjadi lemas untung saja dengan sigap Sanjaya langsung memegang pundak Revano.


"Sudah Van kita do'akan saja yang terbaik." kata Sanjaya sambil menepuk pundak Revano yang sedang khawatir.


"Tidak Pah ... Aurel Mah Aurel." Revano tampak frustasi sambil menjambak rambut nya, ia tak mau kehilangan anaknya.


"Van jangan menyakiti dirimu sendiri," sahut Lilis sambil memeluk Revano yang sudah terisak.


"Iya Mah, Hiks ..." Revano membusungkan bahu nya dan meletakkan kedua tangannya di muka.


Beberapa saat kemudian, terbukalah ruangan Dokter membuat Revano langsung berdiri menghampirinya serta Sanjaya dan Lilis.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" cecar Revano ketika Dokter masih membuka masker dari mulutnya.


"Kondisi nya sudah lumayan stabil, tapi panas di badannya masih tinggi, kalau bisa jangan membuat nona Aurel untuk selalu memikirkan hal-hal yang berat tuan." ujar Dokter itu sambil menunduk, menurut pandangan Dokter, Aurel bisa saja di paksa untuk ini itu oleh keluarga mereka karena Dokter tahu Aurel itu anak siapa, karena Dokter itu bekerja di Rumah sakit milik Sanjaya.


"Baik Dok terimakasih." sahut Revano, Sanjaya dan Lilis bebarengan.


"Baik Tuan ... Nyonya, kalau begitu saya pindahkan Nona Aurel ke ruangan perawatan." ucap Dokter lagi.


Setelah Aurel sudah di bawa ke ruang perawatan, Revano segera ikut dan langsung masuk untuk melihat putrinya, sedangkan Lilis dan Sanjaya pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan dan lainnya.


Di dalam, Aurel yang sudah memakai infus di tangannya dan memakai alat membantu untuk pernafasan nya, lagi-lagi Revano tak tega melihatnya di tambah muka Aurel yang pucat dengan segera Revano memeluk nya.


"Aurel sayang maafin Dady ... Tidak bisa menjagamu dengan baik." Revano mengelus rambut panjang Aurel.


'Ran anak kita ...' Revano mengingat kembali mediang istrinya.


Aurel mengerjapkan mata nya dan menggerakan tangan nya.

__ADS_1


"Sayang ... Ya Allah Alhamdulillah ... Nak bangun sayang ..." Revano segera memencet tombol dan langsung saja ada Dokter dan suster mendekati kearahnya.


"Tuan ... Alhamdulillah Nona Aurel sudah sadar, jangan lupa untuk selalu makan makanan rumah sakit saja jangan makanan luar untuk sekarang, dan jangan di lupakan untuk selalu meminum obat nya, kalau begitu kami permisi dulu." ujar Dokter sambil mengelus rambut Aurel, "Jangan sakit-sakit nona ... Semoga lekas sembuh, di minum ya obat nya ..." imbuh Dokter.


"Tidak mau Dokter, obat itu pahit." jawab Aurel pelan hampir tak terdengar karena masih lemas badannya.


Dokter hanya tersenyum lalu meninggalkan ruangan itu.


"Dad ... "


"Ya sayang?" jawab Revano sambil mulai membuka makanannya.


"Tante Delisa Dad ... " Pinta Aurel entah yang berapa kali. Revano menepuk jidat nya.


"Aurel makan dulu nanti Dady jemput tante Delisa ya ..." Aurel pun mengangguk setuju karena memang perut nya yang sudah terasa sangat lapar.


Setelah makanan habis tanpa tersisa, Revano membujur Aurel untuk meminum obat tetapi Aurel menggeleng sambil menutup mulut nya.


Datanglah Lilis dan Sanjaya dengan membawa beberapa paper bag, bisa di pastikan oleh Revano isi nya baju ganti Aurel dan dirinya.


"Aurel minum obat nya dulu biar cepat sembuh ..." kata Lilis sambil mengambil obat sirup yang di pegang Revano.


"Emm Tidak mau Oma." Aurel menggeleng.


"Di icip dulu sedikit saja ... Enak tahu ..." bujuk Lilis membuat Aurel tergiur dan menempelkan jari telunjuknya kedalam sendok sirup, dan benar saja Aurel menyukainya.


"Bagaimana? Manis tidak?" ujar Lilis


"Ya Oma manis sekali ... Aurel mau meminum obatnya." kata Aurel.


"Pintar sekali cucu Opa yang cantik ini ..." Sanjaya mengelus pipi Aurel lalu ia duduk di sofa dan menyalakan TV di sana.


Ya, ruangan ini VIP jadi bisa saja empat atau lima orang masuk untuk membesuk tanpa ada bantahan.


"Oma ..." kata Aurel sambil memegang tangan Lilis.


"Ya sayang?" ujar Lilis sambil tersenyum dan mengelap dahi Aurel yang nampak basah kena keringat.


'Masih panas ternyata.'


"Aurel mau ketemu sama tante Delisa boleh?" ucap Aurel ragu-ragu.


Lilis menghela nafasnya panjang, ia harus menurunkan ego nya di saat seperti ini demi menyembuhkan cucu kesayangannya. Lilis menatap Revano penuh arti, yang di tatap malah diam saja bingung.


"Van, bawalah Delisa kesini." suruh Lilis, membuat Revano sedikit menyunggingkan senyumannya, Sanjaya kaget mendengarnya dari jauh.

__ADS_1


"Baik Mah tapi tidak tahu dimana alamat nya, katanya rumah yang baru bukan yang lama lagi." kata Revano menjelaskan kepada Lilis.


"Papah tahu alamatnya." sahut Sanjaya dari jauh. Revano dan Lilis langsung menoleh kearah Sanjaya.


"Nanti Papah berikan." sambung Sanjaya.


"Papah kok bisa tahu?" curiga Lilis.


"Ya karena pada saat itu pak polisi membawa alamat untuk menjemput Rosa." Lilis mendengarnya sangat lega.


"Ternyata Rosa membeli rumah hasil investasi kita, yang ada di Jakarta." sambung Sanjaya.


"Tahu kan Van?" tanya Sanjaya sambil menatap Revano.


"Iya cuma tahu investasi nya saja, tapi tidak tahu seperti apa seluruhnya." sahut Revano.


"Ingat Van itu juga harta kita." Revano hanya menganggukkan kepalanya malas.


Saking banyaknya investasi berbisnis di seluruh Indonesia membuat Revano tidak hafal seluruhnya, bisa-bisa nya Sanjaya hafal padahal sudah tua, pikir Revano.


"Baiklah nanti besok cucu Oma bertemu tante Delisa ya sayang." ujar Lilis sambil tersenyum.


"Yeeyyyy ... Yeyy bertemu tantee." seru Aurel membuat mereka ikut bahagia mendengarnya.


***


"Bi ... kok perasaan Delisa dari pagi tidak enak ya? Kaya ada yang mengganjal gitu tapi tidak tahu apa ya?" tanya Delisa kepada bi Romlah dan di Aam yang sedang bersantai duduk di Gazebo bersama-sama.


"Mungkin ada yang mencari kamu Non." sahut bi Aam.


"Bisa jadi begitu, ya ... kalau tidak pasti ada sesuatu." imbuh bi Romlah.


"Tapi Delisa sekarang masih mikirin pekerjaan kok, nggak ada yang lain. Eumm tapi tadi malem Delisa mimpiin Aurel kayak dia suruh Delisa ikut tapi ya namanya juga di mimpi jadi Delisa pergi gitu aja ninggalin Aurel yang lagi menangis." kata Delisa.


"Nah bisa jadi itu." sahut bi Aam.


"Iya Non bisa jadi Dek Aurel mencari kamu, kan kamu HP nya di konter mungkin Dek Aurel menghubungi kamu tapi tidak di respon, nih pinjam HP bibi saja untuk menghubungi Dek Aurel." ujar bi Romlah sambil memberikan HP nya.


"Tapi Delisa tidak ingat nomor nya bi ..." ujar Delisa khawatir.


"Ya sudah lebih baik sekarang Non Delisa sholat ... biar hati nya tenang." ucap bi Aam.


"Iya bi lagian ini sudah waktunya sholat dzuhur, kalau begitu Delisa masuk dulu ya bi Am ... Bi Romlah ..."


"Iya Non ..." sahut bi Aam dan bi Romlah bebarengan.

__ADS_1


__ADS_2