Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 95


__ADS_3

"Bagaimana Dok?" tanya Revano setelah istrinya selesai di periksa.


"Boleh-boleh saja, asalkan Ibu nya tidak telat makan dan harus banyak-banyak minum air putih agar tidak dehidrasi." jawab Dokter.


"Baik, Dok."


"Sebentar, saya buatkan resep agar tidak mabuk di perjalanan nya. Jangan kecapekan juga ya Pak, apalagi kehamilan nya yang terbilang masih cukup muda." jelas Dokter.


"Baik, Dok." sahut Revano lalu menerima secarik kertas yang di berikan Dokter, dan menebusnya di bagian obat-obatan.


Revano dan Delisa kembali lagi ke rumah, Delisa nampak termenung dan tidak ceria seperti biasanya.


"Sayang, ayo turun." Revano mengulurkan tangannya kepada istrinya yang masih setia duduk di jok mobil.


"Iya, Mas." Delisa menerima uluran tangan suaminya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Ternyata sudah ada Lilis disana yang bermain bersama Aurel.


"Assalamualaikum" ucap Revano dan Delisa.


"Waalaikumsalam" sahut Lilis dan Aurel hampir bersamaan, Aurel langsung menaruh mainan nya dan berhambur ke pelukan sang Daddy, dengan sigap Revano langsung mengangkatnya dan menaruh putri kecilnya di atas pundaknya.


"Ayo Daddy, Mommy, kita berangkat!" seru gadis kecil itu.


"Iya, sayang. Kita makan dulu baru berangkat, oke?" sahut Revano.


"Aurel sudah makan sama Oma, Dad."


"Oh ya? Wah hebat dong ..."


"..."


"Bagaimana, Del?" tanya Lilis kepada Delisa yang duduk di sampingnya.


"Alhamdulillah kata Dokter boleh, Ma." jawab Delisa.


"Alhamdulillah. Kamu dan Vano habis dari mana saja?" tanya Lilis "Mama dengar kamu dan Vano kedatangan tamu? Siapa?" tambahnya.


Delisa pun menceritakan semuanya hingga tuntas, dari pertama Bu Marna datang ke rumah nya hingga kembali pulang ke rumah.


"Astaga, Vano!" geram Lilis.


"Bisa-bisanya ya kamu godain anak murid kamu tanpa sepengetahuan Mama dan Papa!" Lilis melirik ke arah Revano yang diam saja.


"Bukan, bukan begitu. Dia dulu tergila-gila sama Vano, Ma. Sampai dia bikin rumor kalau dia mengaku-ngaku jadi calon istri Vano, Ma. Vano jijik sama dia, dia juga pernah ngejebak Vano pas lagi dia sakit dan harus menikahi dia. Memang gila dia." jelas Revano, Delisa menatapnya kesal sekali.


"Dasar bocah kurang pendidikan!, baguslah ... Ingat pesan Mama, kalian berdua jangan pernah temui mereka lagi, Mama takut-"


"Nggak apa-apa Ma, mereka aslinya baik kok." sahut Delisa memotong omongan Lilis.


"Mama takut, apalagi dia sudah bercerai." tambah Lilis.


"Sudah, Ma. Biarkan saja, lagian mereka juga sudah insaf kayak nya" jawab Revano mengarang.


"Percuma, bisa juga lain di hati" jawab Lilis.

__ADS_1


"Ingat pesan Mama, Del, ingat itu." Lilis mengelus tangan Delisa.


"Iya, Ma. Kalau begitu Delisa dan Mas Vano makan dulu ya, Ma? setelahnya kita langsung ke Bandara saja," ujar Delisa.


"Pelayan ikut semua, Del? Tadi Mama lihat Sus Aam mengemasi barang-barangnya ke dalam koper dengan baju Aurel juga."


"Hanya Bi Romlah dan Bi Aam saja, Ma. Di rumah masih ada Bi Rami dan semua satpam."


"Oh iya-iya, Ya sudah sana kalian makan, biar Aurel sama Oma dulu, sini sayang ..." Lilis memangku Aurel, Revano menggandeng tangan Delisa menuju dapur untuk makan sebelum pergi.


Di sela-sela makannya, Delisa melihat Bi Romlah yang sudah siap dengan kopernya, ia baru ingat omonga Bi Rami pagi tadi, kelupaan karena buru-buru ke rumah sakit bersama suaminya.


Delisa meneguk air minum nya dengan sedikit cepat "Bi Romlah!" panggil Delisa, Bi Romlah mendengar dirinya di panggil, ia langsung menghampiri Delisa.


"Iya Nona?"


"Bibi bagaimana? Apa masih sakit pinggang nya?" tanya Delisa.


"Loh, Bibi kenapa? Mas baru tahu, Yang." sahut Revano sambil menguyah makanannya.


"Alhamdulillah, sudah mendingan, Nona. Hanya terkadang linu saja di bagian pinggang nya, sudah tidak seperti pagi tadi." jelas Bi Romlah.


"Alhamdulillah, syukurlah, Bi. Delisa khawatir Bibi kenapa-kenapa, pasal nya dari pagi nggak kelihatan-kelihatan eh tau-taunya lagi sakit." Delisa menggeleng pelan.


"Sudah biasa Nona, nggak usah di khawatirkan ..."


"Jangan begitu, Bi. Kalau ada apa-apa bilang saja sama kita." sahut Revano setelah menyelesaikan makannya.


"Nah bener kata Mas Vano."


"Sama-sama, Bi. Ayo biar nggak kelamaan, lebih baik kita berangkat sekarang saja." ucap Revano seraya berdiri dari meja makan dan menggandeng tangan Delisa untuk keluar, diikuti Bi Romlah di belakangnya yang menyeret koper bawaan barang-barang miliknya.


***


Di dalam perjalanan, mereka semua tertidur hingga sampai di Jakarta barulah mereka bangun untuk melanjutkan liburannya.


Liburan yang sangat di nantikan oleh Bi Romlah dan Bi Aam, karena mereka berdua menyarankan majikannya agar pergi ke Jakarta untuk menjenguk Bu Rosa, mantan majikan nya.


Pukul 21.20 mereka semua langsung menuju hotel yang sudah di pesan oleh Revano lewat online, dan Revano hanya memesan untuk satu malam saja.


Aurel, gadis kecil itu merengek minta tidur dengan Mommy nya, padahal Delisa mengizinkannya tetapi Revano tidak satu suara dengan istrinya.


"Mas ..." Delisa menatap Revano.


"Nggak sayang, nggak mau." sahut Revano.


Delisa menghela nafasnya, suaminya ini sudah upgrade ke mode anak kecil.


"Aurel mau tidur sama Mommy, bukan sama Daddy!" ujar Aurel membela diri dengan memeluk Delisa.


"Aurel tidur sama Sus ya? ada nenek juga loh ..." bujuk Revano.


"Nggak mau!" jawab nya sambil menggeleng.


"Ayo Mommy kita tidur, biarkan Daddy tidur di luar saja" Aurel menunjuk pintu kamar membuat Revano kesal dan langsung mengangkat putrinya melayang-layang di udara.

__ADS_1


"Aaaaa Mommy! Hahaha ... Hahaha ..." ucap Aurel sambil tertawa senang.


"Sudah, Mas. Turunkan!"


Revano pun lantas menurunkan Aurel, ia kembali usil dengan anak nya dengan cara memeluk Delisa erat hingga Aurel tidak bisa memeluk Delisa.


"Ah Daddy! Aurel mau sama Mommy! ... Daddy!!"


"Orang Mommy punya Daddy, wle ..." Revano menjulurkan lidahnya membuat Aurel mengerucutkan bibirnya dan langsung menggigit tangan Revano dengan giginya.


"Ah!" Revano langsung melepaskan rengkuhannya, ia memegang tangannya yang sudah ada tato manual buatan sang anak.


"Ahahahaha! Rasain wle ..." dengan cepat Aurel memeluk Delisa posesif dan menenggelamkan kepalanya ke ceruk Delisa.


"Sakit Mas? Enak? Haha mampus deh, siapa suruh jailin anaknya." Delisa terkekeh, ia mengelus rambut putrinya.


"Lumayan sayang, sampai berdarah loh ... Coba lihat" Revano mengadu kepada istrinya dengan menunjukkan bekas gigitan putrinya.


Kulit Revano yang putih hingga sekarang berubah menjadi warna merah.


"Di cuci dulu terus di kasih obat, Mas." Delisa masih terkekeh pelan.


"Daddy lebay," Aurel menoleh.


"Nih lihat, sini gantian biar Daddy gigit tangan kamu sayang" Revano menarik tangan kecil putrinya.


"No Dad. Noo!!"


"Mommy, Help!"


"Mas! Cepet cuci tangannya nanti kalo kelamaan jadi infeksi, cepet sana!" perintah Delisa.


"Iya sayang"


Revano menurut dan masuk ke dalam mandi untuk mencuci tangannya, Delisa langsung membuka kopernya dan mencari kotak P3K yang ia bawa dari rumah sebagai persiapan.


Setelah di obati, tanpa Revano dan Delisa tahu, Aurel sudah nyenyak tidur di kasur.


"Anaknya tidur duluan, Mas."


"Ngantuk dia, di pesawat bercanda mulu sama Sus nya." sahut Revano menjawab.


"Biar dia tidur disini, Mas."


"Aku nggak bisa leluasa buat peluk kamu sayang, nggak enak, sempit. Takut perut kamu kena tendang dia juga."


"Nggak akan, Mas. Aurel sekarang kalau tidur sudah anteng kok."


"Kan Mas cuma takut, sayang."


"Nggak, Mas. Sudah ayo tidur, biar besok langsung ke Ayah dan Ibu, Delisa rindu banget Mas."


"Iya sayang, ayo tidur."


Revano mematikan lampunya dan menggantinya dengan lampu tidur. Malam ini Delisa tidur di tengah-tengah kedua makhluk kesayangannya, Delisa menghadap Aurel dan memeluknya, sedangkan Revano memeluk Delisa dari belakang dengan kepala yang ia sandarkan di ceruk leher istrinya.

__ADS_1


__ADS_2