Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 109


__ADS_3

Sanjaya menyuruh Lilis untuk menjemput dirinya di depan agar Aurel ikut dengan Lilis saja, sementara Sanjaya ingin bertemu dengan Anton untuk menghias ruangan kamar untuk cucu baru nya di dalam rumahnya karena Lilis mengatakan Delisa menginap di rumah nya sampai tubuhnya benar-benar pulih kembali, mungkin sekitar 2-3 bulan.


Sebelum masuk menemui Delisa, Aurel meminta melihat adik nya di ruangan bayi, mereka berdua hanya bisa melihat dari depan saja melalui kaca pembatas yang besar menutupinya.


"Adek Aurel yang mana, Oma?"


"Itu yang pakai gelang bewarna biru, temannya perempuan semua ya ... Dia sendiri yang paling tampan disini." gumam Lilis terkikik.


"Kenapa selimutnya berwarna pink, Oma? Kan Adek Aurel laki-laki." tanya Aurel, ia tersenyum menatap Adik kecilnya.


"Iya itu, mungkin Suster lupa untuk menggantinya." jawab Lilis asal.


"Oh begitu ya, Oma. Kenapa adek bayi wajahnya mirip semua, Oma?" tanya Aurel lagi.


"Itu berbeda sayang, coba Aurel perhatikan lagi." sahut Lilis santai.


"Sama saja." ujar Aurel yang masih mengamati bayi-bayi mungil yang ada di hadapannya "Hanya berbeda baju dan selimutnya saja, Oma." lanjutnya.


"Hm ..." Lilis hanya bergumam. Kemudian Lilis mengajak Aurel untuk menemui Mommy nya di kamar.


***


Pagi hari tiba, Revano membantu istrinya mengganti baju. Dengan sangat hati-hati dan pelan Revano membantunya, Revano meringis melihat jahitan yang terpampang pada perut istrinya itu, tetapi ia hanya bersikap netral saja karena takut istrinya insecure jika Revano mengatai perutnya.


"Mas, adek nya belum di bawa kesini juga sih ..."


"Lebih baik kamu sarapan dulu, sayang. Nanti biar Asi kamu keluarnya lancar dan adek nya tidak kelaparan." ujar Revano, lalu ia mulai menyedokkan suapan pertama untuk istrinya. Pagi sekitar jam tujuh pelayan Rumah sakit sudah memberikan sarapan untuk Delisa.


"Dada aku rasanya padet banget, Mas. Berat juga." sahut Delisa cemberut melihat dua buah gundukannya yang memang terlihat besar sekali.


"Ya mau bagaimana lagi sayang, Memang boleh jika Mas icip sebelum adek? Ketahuan Mama bisa di marahin nanti." ujar Revano melihat Lilis dan Aurel meringkuk di atas karpet tebal, mereka berdua ikut menginap disana dan sekrang masih tertidur.


"Ya lagian Mas pikirannya mesum terus!!" ujar Delisa jengkel.


"Kalau tidak mesum, tidak akan ada generasi penerus sayang ..." Revano menaik turunkan alisnya.


"Halah, memang dasarnya kamu sudah mesum, Mas." kilah Delisa.


"Itu sudah tahu." sahut Revano terkekeh.

__ADS_1


Setelah selesai menghabiskan makanannya, tiba-tiba saja pintu terbuka dan munculah Dokter dan Suster dengan membawa bayi mungil di atas brankar bayi. Revano dan Delisa melihatnya pun tersenyum senang karena yang ditunggunya akhirnya telah tiba.


Lilis ikut terbangun, ia menghampiri cucu nya yang sudah masuk kamar, saat ini mereka semua sudah lebih leluasa melihat wajah bayi tampannya.


Aurel, Lilis biarkan tertidur karena Aurel tertidur pada jam 2 dini hari, dan mungkin Aurel akan terbangun siang nanti.


"Ih, Mas curang ... Masa iya aku cuman kebagian hikmah nya doang ..." Delisa memanyunkan bibirnya, bayi mungilnya 98% sangat mirip dengan Daddy nya, mulai dari alisnya, hidungnya, bibirnya, dan garis wajahnya benar-benar tidak ada yang berbeda.


"Dia cuman ngontrak saja di perut kamu, sayang." ujar Revano.


Dokter dan Suster hanya ikut terkekeh mendengar sepasang suami istri yang sedang bercekcok kecil.


"Bu, bisa gendong baby new born?" tanya Dokter dengan lembut takut menyakiti hati pasiennya.


"Tidak, Dok." jawab Delisa jujur.


Suster memencet tombol kasur yang Delisa tiduri agar sandarannya berubah lebih tinggi, seperti yang Revano lakukan sebelum sarapan, bedanya Suster menambahkan ketinggiannya lagi.


"Ibu pasti bisa, saya ajarkan pelan-pelan ya, Bu. Seperti ini ..." Dokter mempraktekkan cara menggendong bayi di depan Delisa.


Memang Delisa cukup pintar, sekali coba ia langsung bisa walaupun masih di bantu Lilis dan Dokter bersamaan.


"Nah betul begitu, Bu ... Sekarang kita coba Meng-Asi ya, Bu ..." Dokter menyarankan, Delisa mengangguk pelan.


Delisa membuka kancing baju dan mengeluarkan salah satu buah dada nya, Suster membantu bayi mungil itu untuk mencari sumber makanannya.


Revano hanya terdiam melihatnya.


Setelah bayi itu merasa telah menemukan ****** dada sang Mommy, ia langsung mengisapnya dengan kuat, mata sipitnya terbuka menatap Delisa dari bawah.


"Ah! Aw-sh!" Desis Delisa. Rasa linu dan perih ia rasakan ketika asi nya keluar.


"Tahan, sayang." Lilis mengelap peluh keringat dari bayi mungil menggunakan tangannya.


"Tahan sedikit ya, Bu. Jika sudah merasa sering maka akan terbiasa ..." ujar Dokter.


"I-iya, Dok." jawab Delisa dengan muka yang meringis, ia juga merasa haru karena bisa menyusui anaknya.


"Bayi nya mau saya bawa kembali ya Bu, setelah selesai menyusui." Dokter berdiri di samping Lilis.

__ADS_1


Revano yang melihat putrinya terbangun, lantas langsung menghampiri lalu menggendongnya, dan mengajak untuk melihat adek nya dari dekat.


"Wah kakak nya baru bangun ya ..." Dokter menatap Aurel di gendongan Revano. Aurel nampak cuek, ia hanya fokus memperhatikan adik nya saja.


"Iya, Dokter ..." sahut Revano.


***


Bayi tampan itu di bawa kembali oleh Dokter dan Suster keluar dari dalam kamar.


"Mas, sudah kepikiran belum untuk nama adek?" tanya Delisa menatap suaminya.


"Kalau tidak ada ya biar Papa dan Mama saja yang memberi nama untuknya." sahut Lilis.


"Enak saja, Vano tidak mau." Revano mendengus kesal "Sudah ada sayang, tapi Mas kasih tahu jika sudah pulang saja ya ..." sambung Revano.


"Untuk sekarang, panggil saja dia Revan karena mirip denganku." Revano tersenyum geli menatap istrinya yang sudah memanyunkan bibirnya.


"Cih, mentang-mentang mirip kamu ya, Mas." sindir Delisa memincingkan matanya malas.


"Iya lah, kan Daddy nya." sahut Revano terkekeh.


"Adek namanya Revan, Dad?" Aurel bertanya dengan suara serak.


"Iya"


"Tidak."


Jawab Revano dan Delisa bersama, namun jawabannya saling bertentangan.


"Hm, ya sudah deh Mas kasih tahu saja. Namanya Athala Akashy Malik, 'Athala' yang memiliki arti pemberian, sedangkan 'Akashy' mengikuti nama, Mas. Dan 'Malik' dari Opa nya, supaya sama seperti Kakaknya." jelas Revano panjang lebar.


"Bagaimana, sayang?" lanjut Revano.


"Bagus, Mama setuju." sahut Lilis semangat, karena nama dirinya juga ikut hadir disana walaupun hanya 'shy' nya saja.


"Mas, apa boleh Delisa menambahkan 'pratama' di belakang nya? Eum kalau tidak boleh-"


"Boleh sayang, Mas sangat setuju. Jadi Athala Akasyh Malik Pratama, nama yang indah." sahut Revano tak ingin istrinya bersedih.

__ADS_1


"Terimakasih, Mas. Kalau itu Delisa ikut setuju." Delisa tersenyum senang.


__ADS_2