Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 110


__ADS_3

Sudah tiga hari lamanya Delisa di rawat di Rumah sakit. Kini saatnya ia kembali ke rumah, tetapi Lilis membawanya ke rumahnya, Revano awalnya tidak setuju dengan itu, tetapi Sanjaya merayu nya, akhirnya mau tidak mau Revano mengikuti keinginan kedua orang tuanya itu.


Delisa turun dari dalam mobil, berjalan dengan memegang lengan suaminya, ia melihat tangga di rumah mertuanya sudah tidak ada dan sudah berganti menjadi jalanan yang lurus, masih ada bekas aspal baru di area itu.


"Ma, kenapa tangga nya harus di bongkar?" tanya Delisa kepada Lilis. Lilis membawa bayi mungil dalam gendongannya.


"Papa yang menggantinya, karena Papa tidak mau jika kamu tidak mau main ke rumah Papa dan Mama lagi setelah kejadian itu." sahut Lilis.


"Hah?" Delisa ternganga mendengarnya, ada-ada saja mertuanya itu.


"Ya begitulah, sayang. Papa, muka doang yang galak, kelakuannya sangat perhatian." sahut Lilis lagi.


"Iya, Ma. Tapi kalau pun masih ada tangga juga Delisa tetap sering main kesini, Ma."


"Sudahlah, biarkan terserah Papa saja ... Mungkin ingin renovasi jalannya agar tidak bosan jika di lewati." jawab Lilis.


Delisa tak menjawab karena sudah di depan pintu rumah. Revano membukanya, Delisa di sambut hangat oleh para ART nya yang sudah berkumpul disana. Ada juga dekor dengan tulisan 'Welcome home to Baby Athala Akashy Malik Pratama' , Delisa dan Revano bahagia melihatnya.


Banyak yang mengabadikan momen spesial itu. Ada Roy, Citra, Sani, Pak Muh, serta teman kampus Delisa juga ada seperti Melati dan Affan juga hadir disana, mereka berbondong-bondong mendekati baby Athala untuk melihatnya karena penasaran dengan wajah tampannya.


"OMG, tampan sekali kamu Athala ... Tante lahirnya kecepetan nih ..." gurau Melati.


"Iri deh gue, masih kecil udah cakep, bagaimana jika besarnya nanti ..." sahut Affan menanggapi ucapan temannya.


"Pasti banyak yang naksir." jawab Melati.


"Heh mana bisa begitu, masih kecil jangan di ajarin yang tidak-tidak ya kalian ..." jawab Delisa spontan mendengar omelan kedua temannya. Athala sudah di gendong oleh Bi Aam karena Aurel hanya ingin adiknya terus dekat dengannya.


"Hahaha ... Kayaknya Mommy nya jealous nih, soalnya mukanya mirip Daddy nya semua." ucap Melati terkikik.


"Bosen deh aku dengernya ..." Delisa memutar bola matanya malas membuat Melati dan Affan tertawa.


Sementara Roy memeluk Revano dan memberi selamat atas kelahiran putra kecilnya.


"Terimakasih, Roy. Terimakasih juga selama saya tidak pergi ke kantor, kau yang sudah mengurus semuanya." jawab Revano.


"Ini sudah menjadi tugas saya, Bos. Tidak terlalu berat karena Pak Sanjaya yang menggantikan, Bos disana."


"Sama saja, intinya saya sangat bererimakasih. Silahkan kalian makan dulu, makan saja sampai kalian kenyang. Urusan kantor untuk hari ini lupakan dulu saja." ujar Revano menggiring Roy, Citra dan Sani untuk makan yang sudah tersedia disana.


"Pak Muh ..." Revano menjabat tangan Pak Muh.


"Pak Revano ..." sahut Pak Muh.


"Sayang, ini ada Pak Muh, kamu sudah bertemu belum?" pekik Revano melirik istrinya yang sedang mengobrol dengan Melati dan Affan di kursi.


"Belum, Mas. Pak Muh, kemari!" Delisa melambaikan tangannya agar Pak Muh mendekat.


"Neng Delisa selamat ya akhirnya lengkap sudah pernikahan Neng Delisa dengan Pak Revano karena kedatangan Athala ... Semoga Athala menjadi anak yang sholeh, selalu berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya serta orang lain." ujar Pak Muh.

__ADS_1


"Amin, Amin ... Terimakasih Pak Muh atas doa nya." tak hanya Delisa saja yang mengaminkan. Revano, Melati, Affan pun ikut menyahut.


"Kalau begitu, Pak Muh ingin langsung ke kantor saja. Permisi ..." ujar Pak Muh, ia juga memberikan bingkisan kepada Delisa untuk Athala.


"Datang siang saja, tidak masalah, Pak." ujar Revano.


"Tidak apa-apa, Pak. Terimakasih atas tawarannya, karena dapur kemarin belum saya bersihkan." jawab Pak Muh.


"Hati-hati ya, Pak Muh."


"Iya, Neng. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


***


Para tamu sudah mulai meninggalkan acaranya. Bi Romlah dan Bi Rami sudah pulang kembali karena mereka tidak ingin berlama-lama di rumah Sanjaya, mereka takut di cap jelek oleh Sanjaya dan Lilis. Terkecuali Bi Aam masih disana karena Aurel yang meminta Suster nya untuk ikut tinggal disana juga dengan dirinya, Lilis tak masalah karena Aurel juga masih butuh Bi Aam untuk keperluannya.


Sekarang hanya ada Bi Aam, Delisa dan Athala saja di ruang tamu. Revano mengajak Aurel keluar, sedangkan Sanjaya dan Lilis berpamit untuk istirahat.


"Kok Adek gak haus-haus sih ... Masih kenyang, Nak?" Delisa mengelus lembut pipi Athala yang tertidur.


"Gak apa-apa ya pinter ... Athala masih kenyang Mommy ..." ujar Bi Aam menirukan suara anak kecil.


"Kita ke kamar saja, Bi."


"Iya, Nona. Tapi, Bibi gak bisa membantu Nona berjalan ..."


Delisa berdiri dan berjalan mulai pelan-pelan hingga sampai ke dalam kamarnya, ia meluruskan kakinya di atas kasur. Sanjaya menyiapkan kamar untuk menantunya di kamar Aurel dulu, di lantai bawah.


Bi Aam menaruh Athala pada box bayi, dekat dengan kasur nya, box bayi dan kasurnya Sanjaya ubah dan di buat menyatu agar Delisa tak perlu berdiri untuk mengambil putranya jika menangis.


Setelah menaruh Athala di kamarnya, Bi Aam izin keluar, ia tidak enak jika harus di dalam bersama Delisa. Tetapi Bi Aam menunggunya di luar kamar.


Delisa menguap terus-terusan, menatap putranya yang masih nyaman dalam tidurnya.


"Adek bener ya, gak mau Nen? Mommy mengantuk nih ... Kita sama-sama bobo ya sayang." Delisa merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur.


***


Oekk ... Oekk ... Oekk ...


"Cup, cup, cup ... Sayangnya Daddy ... Haus ya Nak? Sebentar ya, Mommy nya masih tidur."


Revano gemas dengan putranya, ia hanya mencolek pipinya saja, mungkin merasa terganggu karena sedang tertidur nyenyak, Athala pun menangis, Revano terkekeh lalu menggendong nya agar Athala terdiam, alhasil Athala masih menangis, Revano akhirnya membangunkan istrinya.


"Sayang, Adek nangis nih minta Nen." Revano hanya memanggil saja, tangan keduanya menggendong putranya.


"Eum, Mas. Sebentar ..." Delisa menggelung rambutnya keatas, ia menaruh Athala pada pangkuannya.

__ADS_1


Delisa dengan sabar menyusui putranya, Revano duduk di hadapan istrinya, melihat putranya menyusu kepada Mommynya.


"Awh! sakit, Dek." Delisa memejamkan matanya, merasakan sensasi perih pada ujung dadanya.


"Jangan cepat-cepat minumnya, sayang. Daddy tidak akan minta, iya kan Mom?" goda Revano.


"Daddy puasa dulu." Delisa terkekeh.


"Daddy harus mengalah sama Athala ..." jawab Revano santai.


"Yakin mengalah? Mata kamu aja liat nya kemana-kemana!" ketus Delisa.


"Pemandangan indah dan menyejukkan mata, sayang." jawabnya.


Delisa mencubit paha Revano hingga sang empu nya meringis kesakitan.


"Aw ... Sakit sayang, Mommy Athala galak banget, serem ..." Revano berdiri dari duduknya.


"Siapa suruh mesum!"


"Mending mesum sama istri sendiri kok. Dari pada di bilang pria tidak normal." ujar Revano tersenyum miring.


"Hm, terserah ..." jawab Delisa malas.


"Kalau tidak mesum, tidak akan ada Athala, sayang."


Delisa tidak menjawab, ia hanya fokus kepada Athala saja yang sedang menyusu.


***


Lima bulan berlalu.


Jam menunjukkan 01.30 malam.


Revano menggantikan popok pada putra nya karena ia menangis histeris memekik gendang telinga Revano. Revano terpaksa bangun dan mengecek pantat nya, ternyata benar popok Athala yang di pakai sudah menembus karena sudah penuh, mungkin bayi kecil itu merasa tak nyaman.


Setelah menggantikan popok, Athala menangis kembali. Delisa terbangun, dengan mata yang masih mengantuk ia menyusui anak nya. Athala membuka matanya lebar-lebar menatap Daddy dan Mommy nya bergantian, Revano hanya terkekeh saja melihatnya.


"Hey jagoan Daddy. Sudah malam, waktunya tidur jangan begadang lagi ya ... Daddy besok mau kerja sayang ... Kasihan Mommy juga ..."


Athala meresponnya dengan tersenyum.


"Ih malah senyum ... Adek ngejek ya?" Revano mengelap keringat pada dahi Athala, sepertinya menyesap asi butuh tenaga ekstra.


"Kamu tidur saja, Mas. Sudah pagi juga, biar Delisa yang menidurkan Athala." gumam Delisa dengan mata yang terpejam, kepalanya ia sandarkan pada tembok.


"Tidak sayang. Setelah Adek kenyang, biar Mas timang-timang lagi supaya tidur cepat." sahut Revano. Begadang malam menemani putra kecilnya sudah menjadi kebiasannya saat ini.


"Emm, terimakasih ya, Mas ..." Delisa tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Revano mengelus kepala istrinya lalu mencium keningnya cukup lama, ia juga sedikit menyapa bibir ranum istrinya.


"Sama-sama, sayang."


__ADS_2