
Pagi pun tiba, Revano dan Delisa serta yang lainnya sudah tiba di pemakaman Ayah Guntur dan Ibu Dewi, kedua orang tua Delisa.
Baru saja sampai di depan kedua batu nisan nya, Delisa tak kuasa menahan gejolak rindu pada kedua orang tua nya, ia langsung memeluk batu nisan milik sang Ibu.
"Hiks ... Ibu ... Ayah ... Delisa kangen kalian, Hiks ..." Delisa terus mengeluarkan air matanya.
Revano yang melihatnya, hatinya sangat teriris, bagaimana jika dirinya juga ditinggalkan oleh kedua orang tuanya? Bisa di pastikan ia juga sangat kehilangan.
"Sayang ..." Revano memeluk Delisa dan mengusap air matanya pelan "Sudah ya? jangan menangis."
"Hiks ... Mas, Delisa sangat rindu ..." lirih Delisa, ia memeluk Revano dan menangis disana.
"Iya Mas tahu, sayang. Kita berdoa dulu ya ..." ujar Revano dan memerintahkan semuanya untuk duduk dan membaca surat yasin bersama-sama serta tahlil yang di pimpin langsung oleh sang penjaga pemakaman, Revano masih fakir ilmu mengenai hal-hal seperti ini.
Tahlil pun selesai di laksanakan, Delisa menemani putrinya menaburkan bunga di atas makam nya satu persatu. Aurel awalnya mengira makam Mommy nya tetapi Delisa sedikit demi sedikit menjelaskannya sampai Aurel mengangguk paham.
Lilis menatap Delisa yang sudah kepanasan di tambah terus menangis membuatnya berinisiatif untuk menyudahi dan kembali ke dalam mobil.
"Van, Sudah bawa istrimu keluar. Mama tak tega melihatnya." Lilis menepuk pelan bahu putranya.
"Iya, Ma. Sebentar." sahut Revano.
"Sayang, sudah ayo kita pulang. Sering-sering kita main kesini ya ... Kami pamit dulu ya Ayah, Ibu." Revano mengangkat Delisa untuk bangun dari jongkok nya dan menyenderkan kepalanya di dadanya. Aurel sudah menemplok kepada Sus nya.
Hati Bi Romlah saat ini sudah terkoyak, entah seperti apa gambaran yang saat ini rasakan. Wanita tua itu menahan tangis nya di dalam hati, ia sedari tadi diam saja sambil ikut melafalkan doa. Ia teringat mereka, kedua majikan yang sangat berhati mulia dan sangat berperan penting dalam kehidupannya.
"Kami pamit dulu ya, Yah, Bu."
"Doakan Delisa agar selalu sehat, karena sebentar lagi kalian punya cucu kedua. Andai Ayah dan Ibu masih disini, kalian pasti bahagia mendengar kabar ini." Delisa mengelus perutnya pelan.
"Maafkan Delisa yang jarang kesini, semoga kalian memakluminya. Assalamualaikum ayah, ibu." Delisa mengajak Revano pulang.
Sebelum pulang, Revano menyelipkan selembar uang kertas berwarna merah sepuluh lembar untuk di berikannya kepada sang petugas pemakaman tadi. Ia juga meminta agar kuburan kedua mertuanya selalu di bersihkan.
Di dalam mobil, Delisa menyenderkan kepalanya di dada Revano tanpa berbicara apapun.
__ADS_1
"Sayang, minum dulu ayo ..." Revano menyodorkan air mineral, Delisa menerima lalu meneguknya karena memang sangat haus.
"Sudah ya jangan menangis lagi, harus happy lagi dong sayang ..." Revano mencubit pipi Delisa dan menciumnya gemas.
"Sakit Mas." Delisa memukul lengan Revano dan duduk bersandar pada kursi mobil.
"Daddy, Daddy ayo jalan!" seru gadis kecil dari belakang meminta sang Daddy agar menjalankan mobilnya.
Di dalam mobil itu hanya ada Revano, Delisa, Bi Aam dan Aurel saja. Selebihnya ada di mobil satunya. Revano sengaja memesan dua mobil untuk di sewa selama di Jakarta sekaligus dengan supirnya, terkecuali dirinya yang ingin menyetirnya sendiri.
"Sebentar ya sayang, Mommy minum dulu. Aurel mau minum nggak?" tawar Revano, Aurel menggeleng "Sudah, Dad."
"Baiklah, kita berangkat." Revano menjalankan mobilnya mengikuti mobil yang ada di depan, Revano belum paham betul rute jalan di Ibu Kota kecuali melihat google maps pada ponselnya.
Di dalam perjalanan Delisa meminta Revano untuk berhenti di Restoran, wanita itu melihat banyak nya kelapa-kelapa di pinggir jalan mebuatnya ingin memakan nya juga.
Revano menurutinya, jadilah mereka semua turun di Restoran yang cukup ramai dan memesan menu apa yang mereka inginkan. Delisa hanya memesan es kelapa muda dan kentang goreng sebagai temannya.
"Terimakasih, Mbak." ujar Delisa setelah pelayan Resto membawakan pesanan miliknya.
Mata Delisa berbinar, ia langsung meminum air kelapa muda, rasa manis dari air kelapa yang khas dengan campuran sampolai dan susu membuat kelapa muda yang di minumnya terasa lezat dan nikmat.
"Makanlah ... Kalau mau lagi bilang ya ..."
"Heem." Delisa hanya mengangguk.
"Van, biar Mama saja yang membayar nya, mana struk nya?" tanya Lilis, ia sudah selesai menghabiskan makanannya.
"Biar Vano saja, Mah." sahut Revano.
"Sudah sini biar Mama saja, sekalian pengen ke toilet." Lilis menodong tangannya.
"Di bilang Vano saja yang bayar, sudah Mama sana ke toilet saja." Revano mengibaskan tangannya.
"Ya sudah lah, terserah kamu." Lilis melenggang pergi, tapi sebelumnya ia menitipkan tas nya kepada Bi Romlah.
__ADS_1
***
Seusai makan di Restoran, Revano dan Delisa kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan nya menuju Lapas.
Hampir satu jam lama nya kedua mobil pun sampai dan parkir rapih di barisan mobil-mobil lainnya. Revano membangunkan Delisa karena istri cantiknya mungkin masih mimpi di dalam tidurnya.
Sedangkan Bi Aam langsung menggendong Aurel keluar karena suasana nya sangat canggung, jadi ia lebih memilih keluar berkumpul dengan Lilis dan Bi Romlah.
"Sayang ... Bangun ayo ..."
"Cantik ... Sayang ... Bangun, sayang." Revano mengelus pipi Delisa lembut.
"Eughh ..." Delisa hanya menggeliat lalu melanjutkan tidurnya.
"Eh, eh. Bangun sayang, sudah sampai."
Cup ... Cup ... Cup ...
Revano mengelabuhi ciuman-ciuman kecil pada wajah istrinya.
"Stop Mas, emm" Delisa mulai membuka matanya.
"Sudah sampai?" tanya Delisa dengan serak.
"Iya, ayo minum dulu. Mau makan snack? Apa mau makan roti, hm? Tadi Mas mampir sebentar ke toko buat beli." Revano membuka plastik yang ia ambil dari jok belakang kemudian menaruhnya pada pangkuan Delisa "Bukalah, sayang."
"Kenyang, Mas. Mau minum saja, haus hehehe" Delisa mengambil botol air mineral lalu meneguknya sampai setengah.
"Sudah ayo, Mas. Kasian yang lain." Delisa membuka pintu mobilnya sendiri.
"Astaga, sudah di tungguin malah ditinggal." gumam Revano, ia buru-buru menyusul sang istri.
***
Dalam perjalanan menuju Lapas, Lilis tak henti-hentinya menanyakan kehidupan menantunya kepada Bi Romlah yang sudah menyadang status sebagai ART sekaligun Baby sitter Delisa sejak kecil. Dengan senang, Bi Romlah langsung menceritakan semuanya dari Delisa lahir hingga sekarang, Lilis benar-benar terkejut dengan kemalangan kehidupan menantunya, takdir yang membuatnya seperti ini.
__ADS_1
Tak hanya kehidupan Delisa saja, Bi Romlah juga banyak menceritakan kehidupan tentang Rosa, sampai dimana ia pernah melihat Rosa memohon kepadanya untuk mengeluarkannya dari penjara. Lilis hanya terdiam tak menanggapinya, ia bertekad akan meluruskan masalahnya, walaupun mungkin ia tidak akan mencabut tuntutannya itu.
Revano menggeleng pelan ketika Mama nya ikut masuk ke dalam, entahlah Revano tak memikirkannya, ia hanya fokus kepada istrinya saja.