
"Mas, cepat mandi keburu adzan maghrib." Delisa menggoyangkan badan Revano yang terlentang dengan bantalan kedua telapak tangan nya.
"Dady cepat bangun!" gadis kecil itu tak kalah repot nya dari Delisa membangunkan sang Dady.
Merasa terganggu, akhir nya Revano memutuskan untuk duduk dan menatap kedua wanita yang di sayangi nya.
"Iya-iya ni Dady bangun, Dady mandi dulu ya .." ucap Revano memilih untuk masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan nya yang sudah terasa lengket.
"Mommy mau sholat dulu sayang, Aurel tunggu disini ya, jangan keluar." Delisa memberi peringatan kepada putri nya.
"Iya Mommy," Aurel merangkak naik ke kasur dan lebih memilih makan snack kesukaannya.
Setelah Revano selesai mandi, ia sudah berganti baju di dalam kamar mandi karena takut jika Delisa mengusir nya untuk pindah kamar.
Revano langsung melaksanakan sholat di samping Delisa yang sudah duduk di Atakhiyat akhir nya.
Setelah salam terucap, Delisa langsung berdoa dan merapihkan kembali mukenah dan sajadah nya, ia menghampiri Aurel yang sudah berganti kini memainkan Hp milik Dady nya.
"Mommy ini apa?" tanya Aurel memainkan project yang ada di ponsel Revano.
"Jangan di pencet-pencet sayang, nanti Dady marah, Hp Mommy saja ya?" dengan cekatan Delisa mengambil Hp Revano dan menggantikan Hp milik nya.
"Ada apa?" sahut Revano yang sudah selesai sholat dan menghampiri mereka berdua yang sibuk memainkan HP mahal milik nya.
"Kenapa sayang? Mau Hp kaya Mas?" Revano melihat Hp nya di tangan Delisa.
"Ah nggak Mas, ini tadi Aurel mencet-mencet nggak tau apa tadi pokok nya jadi Delisa takut penting nanti terhapus kan nggak bisa kembali lagi." jelas Delisa memberikan Hp kepada pemilik nya.
"Iya sayang terimakasih, jangan beri Aurel banyak waktu untuk bermain Hp ya .. Takut nya kecanduan, nanti nilai pelajaran di sekolah menurun dan juga Mas takut kalau Aurel sering bosan hanya untuk membaca buku pelajaran nya." Revano memberi nasihat, ia melihat jam dinding dan mulai menghitung waktu hanya 30 menit saja untuk Aurel bermain Hp.
"30 menit saja." lanjut Revano dan menyender bahu nya pada dinding kamar.
"Iya Mas, Delisa paham ... Sudah di jelaskan Oma."
"Mas masih mengantuk sayang, Mas tidur dulu ya?"
__ADS_1
"Nanti Mas, makan dulu baru tidur."
"Masih lama nggak?" tanya Revano, dia mulai merebahkan badan nya di kasur satu nya, Revano cukup paham dengan Bi Romlah dan Bi Aam yang menyediakan dua kasur untuk nya.
"Biasanya jam tujuh, kalo nggak ya lebih sedikit."
"Ya sudah deh, Mas mau cek kinerja mahasiswa dulu, tolong sayang ambilkan laptop Mas di meja." Delisa mengangguk dan berdiri untuk mengambil Laptop berlogo apel setengah greges.
"Terimakasih sayang, sini sayang lihat." Revano mengajak Delisa untuk duduk di samping nya, Delisa menurut saja dan menyenderkan kepala nya di tangan kekar Revano, sedangkan putri kecil nya sedang asyik menonton kartun kesukaannya di Hp Delisa.
"Ih Mas banyak sekali ... apa coba ini." Delisa menunjuk data-data yang sudah disusun rapih melalui tabel-tabel penyusun nya.
"Nilai sayang ..."
"Iya tau itu nilai, tapi semua nya tugas semua Mas? Satu .. Dua .. Tiga .. Ya ampun banyak sekali." Delisa menghitung kotak demi kotak di layar Laptop.
"Iya sayang, Mas membagi waktu dengan kantor, tahu sendiri di kantor bagaimana. Maka dari itu Mas memberi video penugasan yang di jelaskan oleh Mas sendiri lalu Mas juga memberi pertanyaan untuk mereka."
"Apa tidak repot Mas?"
"Biasa saja sayang, tenang lah ..."
"Hm .. Kenapa sayang?"
"Ibu Rosa bagaimana?"
Revano berpikir keras dan berkali-kali untuk masalah ini, dia enggan melepaskan jeratan kepada Rosa karena ia juga ikut kesal merasakan yang tengah Delisa rasakan di dulu kala, di sisi lain dia sendiri tak tega calon istri nya merengek terus agar diri nya berbicara kepada kedua orangtua nya untuk mencabut tuntutan nya.
"Sayang, Mas tidak janji ya."
"Kenapa? Kasihan Mas, pasti Ibu sendiri tersika disana, aku tahu betul ibu bagaimana."
"Lebih tersiksa dia apa tersiksa kamu pas dulu sama dia hm?" tanya Revano membuat Delisa bungkam.
"Kenapa diam? Jawab sayang .. Ga bisa jawab kan? Nah maka dari itu Mas tidak mau membuat kamu kecewa lagi seperti dulu, biarkan dia menanggung semua perbuatan buruk nya, Papah juga tidak tega sebenarnya Bu Rosa di vonis 5 tahun penjara tapi Papah sendiri yang meminta hanya 2 tahun saja." jelas Revano.
__ADS_1
"Tapi Mas-"
"Tidak ada tapi-tapian, biarkan Mas yang akan selalu membahagiakan kamu sebisa Mas, biarkan yang berlalu tetap berlalu ya? Pikirkan masa depan saja, kata nya mau kuliah?"
"Hm Mas, tapi nanti kalau Delisa hamil bagaimana?" tanya Delisa langsung menyembunyikan muka nya di lengan Revano.
"Di hamilin siapa? Setan?" goda Revano terkekeh, membuat Delisa muka nya semakin terasa panas saja.
"Iya setan." jawab Delisa datar.
"Bercanda sayang, kalau kuliah kan tidak apa-apa kalau hamil, Ya kalau Mas mah terserah kamu saja ... Jadi, kamu mau apa tidak? Nanti Mas langsung daftarkan saja biar bisa ikut simulasi terlebih dahulu."
"Iya Mas, Delisa mau ... Nanti kerja nya bagaimana?" tanya Delisa yang masih belum puas.
"Kita nikah secepat nya ya sayang, Papah, Mamah dan mungkin Anton juga sudah mempersiapkan nya, Mamah punya kenalan banyak cabang sayang, jadi jangan ragu ya ..."
"Mas mau nya kapan?"
"Dua minggu kedepan, bagaimana?"
"Iya Mas, Delisa setuju ..."
Tok ... Tok ... Tok ...
"Nona ... Waktu nya makan malam .." seru Bi Romlah dari luar pintu, Aurel langsung saja melempar Hp Delisa dan berlari ke arah nenek baru nya dan meminta gendong.
"Hey Nak, jangan minta gendong kasihan nenek ..." sahut Revano dari dalam dan sedang menunggu Delisa yang masih di dalam kamar mandi, Delisa kebelet pipis.
"Tidak apa-apa Pak ... Kalau begitu saya permisi dulu ..." Bi Romlah membawa Aurel dalam gendongan nya, Revano terkekeh melihat keakraban yang tercipta dadakan.
"Ayok Mas ..." ucap Delisa yang sedang mengoles lipbalm ke bibir nya.
"Iya sayang ayo, Aurel sudah kesana duluan sama nenek nya."
Delisa menghampiri Revano dan menggandeng tangan nya seolah enggan melepaskan nya, posesif? Cinta? mungkin yang tengah Delisa rasakan saat ini, perlakuan hangat Revano kepada diri nya semakin menambah kedekatan membuat Delisa sedikit sedikit tumbuh benih-benih cinta itu.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan Revano yang sudah duluan mencintai Delisa, jadilah ia memperlakukan Delisa seperti Ratu plus bidadari .. Revano pernah membaca rumor entah itu benar atau tidak nya, dia membaca artikel tentang kehidupan pak Guntur dan putri tunggal nya setelah di tinggal istri tercinta nya membuat kehidupan putri nya menderita bahkan sampai sekarang.
Revano berpegang teguh pada diri nya untuk selalu membahagiakan Delisa selama nya dan tak lupa putri kesayangan nya Aurel. Dia berjanji tidak akan menyakiti wanita dan tidak akan pernah bermain fisik terhadap wanita nya.