Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 72


__ADS_3

Bermimpi ada beban yang menimpa diri nya, sontak Delisa segera bangun dan langsung kaget karena langsung berhadapan dengan Revano yang sedang ******* mulut nya hingga membuat diri nya kesulitan untuk bernafas.


"Eummtt!" Delisa memukul dada Revano dan sedikit mendorong nya.


"Mas pengen lagi sayang! Mau ya?" ujar Revano lirih dan mencium sekilas bibir Delisa lagi.


Delisa cukup lama berkutat dengan isi pikirannya sendiri hingga tak sadar Revano mulai melancarkan aksinya dengan mengelus bagian-bagian sensitif nya.


"Akh, Mas!" Delisa menggelinjang dan berusaha memberhentikan tangan suaminya itu yang sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


"Hm? Dosa loh sayang kalau menolak ajakan suami." ujar Revano datar, membuat Delisa hanya bisa pasrah menerima perlakuan dari suami tampan nya.


Baru saja Revano mendekati bibir ranum istri nya lagi, tiba-tiba suara gedoran pintu yang cukup keras dengan teriakan dari putri mereka menggema hingga kedalam kamar membuat Revano menarik nafas nya panjang dan memutar bola matanya malas.


Alhamdulillah Delisa tersenyum senang.


"Aku ke kamar mandi, Mas yang temuin Aurel ya." ujar Delisa lalu dengan cepat ia berlari kearah kamar mandi dengan selimut yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya saja, hal itu membuat Revano meremas rambut nya kasar.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Mommy!!!"


"Daddy! Buka pintu nya! Aurel mau sama Mommy!"


Aurel tak sendiri melainkan dengan Oma Lilis di belakang nya.


Ceklek ...


Revano mendelik kearah Lilis dengan wajah yang begitu murung ditambah rambut acak-acakan membuat Lilis tersenyum kikuk.


"Maaf ya Van, ini anak mu merengek minta ke Mommy nya." ujar Lilis cengengesan lalu melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Revano.


Aurel langsung beringsut lari kedalam kamar, diikuti Revano di belakangnya yang berjalan lesu mengikuti langkah sang putri nya.


"Aurel duduk nak." perintah Revano.


"Yes Dad!"

__ADS_1


Delisa keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, dia tersenyum melihat putri dan suami nya duduk di atas kasur sambil memperhatikan diri nya yang sehabis keluar dari kamar mandi.


"Sayang!" Delisa memeluk Aurel dan menciumi seluruh wajah nya, Delisa sangat rindu karena belakangan ini diri nya jarang menemani Aurel dan hanya fokus pada persiapan acara pesta pernikahn nya yang sudah di laksanakan kemarin.


"Mommy kangenn ..." Delisa mencubit pipi gembul Aurel hingga bocah itu tertawa sambil berusaha melepaskan cubitan Delisa dari pipi nya.


"Mommy geli! Hahaha!"


"Sudah sayang, sini!" Revano menepuk samping nya yang kosong, Delisa pun mengangguk dan mengangkat tubuh Aurel untuk memangku Aurel di paha nya.


"Ada apa Mas?"


"Lusa kita pindah ke penthouse ya sayang? Barang-barang sudah masuk, tinggal ada beberapa saja yang belum Mas beli karena Mas nggak tau selera kamu yang bagaimana."


"Mas? Aku nggak enak sama Mama, Papa."


"Nggak apa-apa, nanti kita bakal sering-sering main kesini kok." ucap Revano sembari mengelus rambut Delisa yang tergerai cukup panjang.


"Oh iya sayang, Mas sudah cari supir buat kamu dan Aurel, Mas juga sudah mempekerjakan beberapa ART tambahan, sudah di tes jadi sudah aman sayang." lanjut Revano.


"Tugas mu hanya menjemput Aurel pulang saja, biar Mas yang mengantar kalau Aurel berangkat."


"Ih, Mas! Masa aku di pecat dari perusahaan sih, jadi pengangguran dong." gerutu Delisa terlihat kesal karena Revano memecatnya tanpa sepengetahuan dirinya.


"Pengangguran sarang duit kan?" goda Revano sedikit tertawa.


"Delisa kapan berangkat kuliah nya Mas?" tanya Delisa mengalihkan arah pembicaraan.


"Eum, dua minggu lagi." ujar Revano berbohong walaupun Delisa sekarang juga sudah bisa langsung berangkat kuliah, namun disisi lain juga Revano tidak ingin jauh-jauh dengan istrinya.


"Kuliah itu apa Dad?" sahut Aurel dan menaruh Hp kepada Delisa yang sudah pasti kehabisan baterai, Delisa langsung berdiri dan mengecas Hp nya agar baterai nya terisi kembali.


"Kuliah itu sama saja seperti sekolah sayang," ucap Revano mengelus pucuk kepala Aurel dan mencium nya.


"Mommy mau sekolah?" tanya Aurel kepada Delisa, Delisa hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.


"Yeayy ... Mommy nanti kayak Aurel sekolah lagi ya Mom?"

__ADS_1


"Hm, iya sayang ..."


Revano belum bercerita kepada Delisa bahwa ia sudah mengajukan resign dari kampus, mungkin Revano akan berpikir kembali mengenai rencananya dan lebih baik berbicara terlebih dahulu kepada Papa nya.


"Aurel bobo sini ah!" Aurel membalikkan badannya mencondong kearah Delisa dan segera memeluknya.


"Kalian tidur, Daddy ke ruang kerja saja." Revano mendekatkan diri ke Delisa, "Melihat Aurel membuat ku merasa kesal saja."


Delisa hanya berdecak malas dan tak menanggapi karena Revano sudah keluar kamar dengan membawa laptop di tangan nya.


***


"Waduh Rom! Kalau rumah nya kayak gini mah, saya betah banget!" ujar Bi Aam.



"Iya Am, ini nama nya penthouse, denger-denger sih harganya 11 miliar." ujar Bi Romlah menggelengkan kepala nya pelan.


"Beruntung banget ya Nona Delisa ... Saya juga ikut bahagia kalau Nona bahagia ..." kata Bi Aam.


"Delisa itu sudah seperti anak ku Am, dari lahir saya sudah memegang tanggung jawab Delisa kepada saya, apalagi setelah ibu nya meninggal, saya sangat sayang sekali dengan Nona Delisa." ucap Bi Romlah terharu.


"Saya tidak ingin siapapun yang mengganggu Nona Delisa lagi, sudah cukup sampai disini saja penderitaan yang dia alami." sambung Bi Romlah.


"Saya takut jika Bu Rosa sudah bebas, apakah dia akan mengusik kehidupan Nona Delisa lagi? Begitu juga dengan kehidupan kita Rom." ujar Bi Aam terlihat khawatir.


"Belakangan ini sih Bu Rosa sudah nggak pernah memikirkan Delisa lagi, semoga saja cepat di beri hidayah ..."


"Amin ..." sahut Bi Aam.


"Sudah Am, mari kita beristirahat saja sambil menunggu teman kita yang baru." ujar Bi Romlah melenggang pergi kearah kamar di belakang.


"Tunggu Rom!" seru Bi Aam sambil berlari mengikuti Bi Romlah.


"Haistt! Jangan berlari Am, baru saya Pel lantai nya." tegur Bi Romlah


"Aman Rom!"

__ADS_1


__ADS_2