Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 113


__ADS_3

Di dalam kamar, Aurel sudah rapih menggunakan baju mainnya dengan baju berlengan pendek dan celana pendeknya. Sementara Bi Aam fokus menyisir rambut panjang Aurel dan menguncir nya supaya Aurel tidak merasa gerah jika beraktivitas.


"Sudah ..." Bi Aam tersenyum ke arah kaca depan, menatap mata Aurel. Aurel membalasnya dengan tersenyum juga lalu mengangguk kecil.


"Terimakasih Sus, Aurel mau sama adek dulu ya, bye ..." Aurel meloncat dari kursi nya dan berlari keluar kamar untuk menemui adik nya.


Bi Aam tak langsung keluar, ia menaruh peralatan-peralatan yang sudah di gunakannya dan membersihkan kasurnya. Walaupun hanya sedikit kotor, tetapi Bi Aam tetap membersihkannya.


***


Akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Rosa membawa tas nya yang berwarna hitam pekat lalu mendekati Lilis dan Delisa.


Athala yang sudah terlelap di gendongan Delisa setelah lelah bermain dengannya membuat Delisa menimang nya sambil membaca sholawat dengan pelan.


"Hey, No!" pekik Lilis lalu menahan Aurel yang ingin merangkul paha Delisa.


"Sutt, adek baru tidur." ujar Delisa.


"Makan dulu ya? Mau?" tanya Lilis kepada Aurel.


"Hm, tidak ah Oma. Aurel ingin dekat dengan Grandmi saja." Aurel duduk di dekat Rosa dan menyenderkan kepalanya di lengan Rosa.


"Ya, ya ... Duduklah disitu." Lilis terkekeh.


"Del, Apa Athala nya sudah nyenyak?" tanya Rosa.


"Sudah, Bu. Sebentar, Delisa menidurkan Athala di kamar dulu." Delisa melenggang pergi.


"Bi Aam, tolong temani Athala dulu ya ... Delisa ingin keluar dulu." Delisa menepuk punggung Athala ketika bayi tampan itu menggeliat setelah lepas dari gendongan Mommy nya.


"Iya, Nona." Bi Aam mengangguk.


"Terimakasih, Bi. Kalau begitu Delisa keluar dulu."


Delisa kembali lagi berkumpul bersama Rosa, Lilis, dan juga Aurel.

__ADS_1


"Ada apa ya, Bu?" ujar Delisa setelah duduk.


"Sebentar" sahut Rosa. Kemudian ia membuka tas nya dan mengambil map yang berisi surat dan meletakkannya di atas meja, tepat dihadapan Delisa.


Delisa mengerutkan keningnya, ia langsung mengambil lalu membacanya. Sedetik kemudian Delisa menatap Rosa meminta penjelasan. Rosa yang mengerti akan tatapan Delisa, ia langsung menghela nafasnya.


"Ibu akan serahkan rumah yang di Jakarta kepadamu. Kamu berhak atas segalanya. Maafkan Ibu ya ..." Rosa memeluk Delisa. Lilis yang baru sadar hanya diam saja, karena Lilis tidak tahu soal itu.


"Tidak, Bu. Rumah itu sudah jadi milik Ibu sekarang ..." Delisa mengelus pelan punggung Rosa yang memeluknya.


"Ah ya, kebetulan itu rumah, Ibu beli di eum-" Rosa melepas pelukan Delisa dan menatap mata Lilis.


"Pak Sanjaya." sambung Rosa. Lilis hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa, santai lah, Ros. Saya sudah memaafkanmu." ujar Lilis tersenyum manis.


"Jadi, bagaimana?" ujar Lilis lagi.


"Intinya saya akan menyerahkan rumah di Jakarta untuk Delisa yang berhak atas rumah itu." jawab Rosa to the point.


"Kalau tidak mau, ya sudah. Untuk cucuku saja." jawab Rosa memotong perkataan Delisa.


"Ah- Ibu ..." Delisa terharu melihat Ibu nya benar-benar sudah berubah.


"Alhamdulillah, Mama sangat senang melihat kalian berdua akur seperti sekarang. Semoga selamanya akan tetap seperti ini ya ..." Lilis menepuk pelan bahu Delisa.


"Terimakasih, Lis. Terimakasih juga atas kebesaran hatimu, Lis. Saya sungguh menyesal karena sudah melakukan perbuatan saya yang dulu saya perbuat kepada kalian." ujar Rosa.


"Tidak apa-apa. Manusia letaknya kesalahan, begitu pun dengan saya yang pasti sudah banyak sekali kesalahan yang saya perbuat. Sekarang, kita sudah besanan, Ros. Sudah menjadi Nenek untuk cucu-cucu kita." sahut Lilis.


"Saya berjanji, akan membahagiakan anak dan cucu-cucuku." Rosa mengulum senyumnya.


"Cucu saya juga." sela Lilis.


"Ah, maksudku cucu kita bersama." jawab Rosa meralat perkataannya. Lilis dan Delisa terkekeh bersama.

__ADS_1


"Rasanya jika dua cucu terasa kurang ya Ros?" tanya Lilis menggoda menantunya.


"Aurel?" panggil Lilis. Aurel yang asyik memainkan ponsel Delisa pun akhirnya menoleh "Ya, Oma?"


"Jangan dulu, Ma. Athala masih kecil." sahut Delisa mencegah Lilis merayu anaknya.


"Dia sudah besar, cocok jika dia memiliki adek lagi." sahut Lilis cepat.


Rasanya jika sudah membahas seperti ini, Delisa hanya mampu mengiyakan saja, entah seperti apa aslinya. Delisa dan Revano tetap berpegang teguh pada pendiriannya tidak akan menambah anak lagi jika Athala belum menginjak usia 3 atau 4 tahun.


"Ya, Ibu setuju. Lagi pula, Ibu akan menemani mu untuk menjaga Athala selama Ibu disini." sahut Rosa, hingga Delisa tak bisa mengeluarkan perkataannya.


"Rosa, kamu akan tinggal disini selamanya. Revano pasti setuju dengan ini dan tak mempermasalahkannya."


"Ehm, saya perlu memikirkan lagi untuk hal ini, Lis." jawab Rosa dengan sopan.


"Baiklah, terserah kamu saja." Lilis mengangguk-angguk.


"Ada apa, Oma?" Aurel mengeluarkan suaranya menatap Lilis yang tadi sudah memanggilnya.


"Apa Aurel ingin punya adek kecil lagi, hm?"


"Ya, Aurel ingin punya adek kecil lagi tetapi yang perempuan supaya bisa diajak bermain barbie dan boneka dengan Aurel." sahut Aurel.


"Nah itu, Mama juga setuju." ujar Lilis.


Delisa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal "Astaga, Ma, Bu ... Insyaallah lihat nanti saja." jawab Delisa meringis.


"Banyak anak banyak rezeki lho ..." ujar Lilis.


"Buatlah keturunan yang banyak, selagi kamu dan Vano bisa memberikan kebutuhan yang layak di masa depan untuk anak kalian. Mama saja menyesal karena Mama menunda untuk memiliki momongan kembali setelah melahirkan Revano." jelas Lilis.


"Ibu hanya cukup bermain dengan cucu-cucu dari mu saja, Del. Ibu rasa, Ibu tidak perlu menikah kembali ... Ibu Sudah cukup bahagia bermain dengan cucu-cucu Ibu ..." sahut Rosa.


Ah, sepertinya Delisa akan konsultasi kepada suaminya dulu untuk menambah momongan lagi. Memang Revano tak masalah jika menambah momongan lagi, asalkan Delisa siap untuk mengandung dan melahirkan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2