
"Selamat menempuh hidup baru Pak Vano. Semoga kalian akan dan selalu menjadi keluarga yang berbahagia." ujar Bu Revi dengan menggandeng lengan suaminya.
"Amin, terimakasih bu Rev ..."
Satu persatu para tamu sudah mulai meninggalkan pesta nya, tetapi masih sedikit ramai tidak seperti tadi.
Saatnya Delisa dan Revano berganti kostum, Delisa menggandeng tangan Revano dengan erat melewati panjang nya karpet merah dengan di temani bunga-bunga hias kecil di sampingnya.
Setelah sampai di kamar hotel yang memang di khususkan untuk kamar pengantin dan MUA, Delisa melepaskan baju nya di bantu para pelayan. Kemudian Delisa merebahkan badannya sebentar di kasur untuk meluruskan pinggang nya saja yang sudah terasa kaku karena sedari tadi berdiri untuk menyambut para tamu dengan Lilis dan juga Sanjaya.
Bi Romlah dan Mang Endang menolak untuk ikut duduk bersama mereka di atas pelaminan, jadilah Bi Romlah dan Mang Endang hanya menonton dari bawah saja, mereka berdua tetap menikmati acara demi acara yang berlangsung.
"Maaf Nona, sebaiknya berganti sekarang saja karena waktunya sudah cukup untuk beristirahat." ujar pelayan wanita dengan sopan.
Delisa memijat pelipis nya yang sedikit pusing karena tamu nya tidak habis-habis dari pagi hingga mungkin nanti malam.
"Baiklah Bi .." Delisa menghela nafasnya panjang ketika melihat gaun keduanya lebih besar dari yang ia kenakan sebelum nya, tetapi ia juga cukup senang karena melihat gaun nya yang super duper cantik.
"Saya poles sedikit wajah anda Nona, jika nyonya besar tahu maka saya akan di laporkan kepada Bos saya, Nona." ujar MUA karena Delisa merengek agar tidak usah di make up kembali karena menurut nya segitu sudah cukup dan tidak usah di tambah lagi.
"Hm baiklah, Mbak." Delisa menurut saja, menolak pun rasanya tak bisa.
"Sudah Nona, mari saya antar ke depan." ujar MUA tersebut sambil menyerahkan flatshoes baru agar cocok dengan gaun nya.
"Biar saya saja, ini tugas saya." sahut pelayan cepat.
"Terimakasih."
***
Di sisi lain, Revano asyik mengobrol dengan teman-teman masa SMA nya, terlihat ada dua orang pria dengan memakai baju bermotif yang sama.
"Salut Bro, kirain nggak bisa lupain si Rani." ujar Fadil terkekeh.
"Hm. Iya itu dulu, sekarang sudah tidak lagi." sahut Revano dengan datar karena saat ini fokus kepada Delisa yang sudah kelar dari per-makeup an nya.
"Sudah dapet daun muda, cantik lagi. Gimana mau nolak? Iya nggak Van? Haha." goda Rizal sambil menepuk pundak Revano yang ada si sebelah nya.
"Haha tahu aja Lo." Revano menimpali guyonan yang di lontarkan teman nya.
"Kalian lanjutin makan dulu saja, istri gue dah kelar tuh, gue cabut dulu, kapan-kapan kita ngobrol lagi." lanjut Revano kemudian berdiri dan menepuk dua pundak teman nya secara bersamaan.
__ADS_1
"Ck, kapok gue ngajak lo nongki, paling yang dateng cuma Rizal doang." seru Fadil.
"Biasa, orang sibuk." sahut Rizal terkekeh.
Dua sejoli ini memang sejak masa SMA sangat berteman baik dengan Revano, sekarang mereka bertiga sudah jarang untuk berkumpul karena aktivitas yang sudah berjalan di kehidupan nya masing-masing setelah lulus SMA.
Dan sekarang, Rizal dan Fadil sama-sama berondong, mereka berdua tidak ada sedikit pun niatan untuk menikah walaupun Revano sebagai temannya sudah memiliki anak satu.
Rizal yang berumur dua tahun lebih muda dari Revano. Ya, dia masih berumur 25 tahun dan berprofesi sebagai dokter hewan. Sedangkan Fadil yang sudah memasuki kepala tiga dan berprofesi sebagai Pilot.
***
Revano sedikit berlari untuk menyambut Delisa, Revano sendiri sedari tadi sudah memakai jas yang couple dengan baju Delisa, hanya berganti Jas saja, Revano tidak memerlukan banyak waktu seperti perempuan yang di tambah dengan makeup dan manik-manik lainnya.
"Sayang" seru Revano yang sudah menggandeng tangan Delisa dan menggiring kearah pelaminan untuk menyambut para tamu kembali, dan mungkin masih banyak lagi tamu yang harus di temui.
Baru saja duduk, putri kecil nya sudah berteriak dan berlari kearah Revano dan Delisa.
"Mommy! Dady!" pekik Aurel.
"Hati-hati jangan berlari." ujar Delisa.
"Loh kok anak Dady belepotan sih." Revano mengambil tisu dan mengelap mulut Aurel, ia hanya bisa pasrah hari ini karena memang hidangan penutup rata-rata manis membuat putri nya sangat senang.
"Sama mbak Citra." jawab Aurel.
"Loh Aurel sini sama Oma, jangan disitu." ujar Lilis melambaikan tangan nya dari bawah, Lilis dan Sanjaya serta Bi Romlah, Bi Aam dan Mang Endang sedang menikmati hidangan yang tersedia dengan meja bundar yang menjadi penyanggah di bagian tengah-tengah nya.
"Sini nak!" ucap Sanjaya sedikit keras.
Aurel hanya mendelik dan menggelengkan kepala nya tanda ia tidak mau.
"Happy wedding Pak Revano!!!" kata Aqila, Chelsa, Citra dan Fakhri bersamaan.
"Selamat ya Mbak Delisa, btw tutornya dong mbak biar dapet suami kayak Pak Revano hehe." bisik Aqila tepat di telinga Delisa.
"Waduh ..." Delisa terperanjat kaget sambil menutup mulut nya menahan tawa.
"Haha, ada-ada saja ..." sambung Delisa.
"Ada apa?" tanya Revano melirik Delisa yang sedang berbisik-bisik bersama Aqila.
__ADS_1
"Hehe nggak kok Pak, saya pamit dulu. Ayo Say ..." Dengan cepat Aqila menarik lengan Fakhri untuk turun.
"Selamat menempuh hidup baru Pak Revano ..." ujar Chelsa memberikan bingkisan kado.
"Bahagia selalu Pak Revano ..." lanjut Citra.
"Terimakasih." sahut Delisa sopan, Revano hanya tersenyum kilat saja.
"Buat aku ya Tante? Besar sekali ... Aurel suka." ujar Aurel.
"Hehe ... Anu-iya." Chelsa tergagap, ia baru pertama kali mendengar suara anak Dosennya, dengan muka blasteran membuat diri nya ternganga.
"Tante pamit ya Cantik, bye ... bye ..." kata Chelsa sambil melambaikan tangan nya dan menarik Citra agar segera turun.
Brukk ...
"Aduhh ..." ujar Citra mengambil tas nya yang sudah tergeletak di lantai.
"Maaf-maaf ..." ujar Citra sambil memungut puding yang sudah berjatuhan kemana-mana.
Roy kaget, dia segera bangun dan menghampiri Citra.
"Gapapa Cit?" ujar Roy membantu Citra untuk berdiri.
"Iya Gapapa."
"Iya Gapapa."
Jawab Citra dan Citra secara bersamaan.
"Loh?" Citra melongo.
"Ehm maaf nama saya juga Citra, Citra Alexya Rezia." ujar Citra membuat Citra, Roy, dan Chelsa tersenyum.
"Ah tidak pa-pa, salam kenal saya juga Citra, Citra Permatasari."
"Kami pamit dulu mbak, permisi ... sekali lagi saya minta maaf mbak .."
"Saya yang salah, saya yang minta maaf. Maaf mbak ..." ujar Citra lalu dia berjongkok akan memungut kembali puding yang berjatuhan di lantai.
"Biar OB saja, ayo kita ambil lagi." ujar Roy mengulurkan tangan nya kearah Citra.
__ADS_1
"Terimakasih Roy." Citra kemudian di bantu Roy untuk berdiri dan berjalan mengambil puding baru sebagai ganti puding tadi yang sudah tidak layak di makan lagi.
Para OB Wedding Organizer dengan segera membersihkan tumpahan-tumpahan puding hingga bersih seperti semula.