
"Omaaaa!" teriak Aurel menghampiri Oma dan Opa nya yang sedang bersantai di depan TV.
"Bagaimana? Aurel suka?" tanya Sanjaya.
"Aurel suka sekali ... Kapan Opa kita berangkat nya?" tanya Aurel balik menatap Sanjaya.
"Minggu besok,"
"Yeayyy!!! Opaa ... I love you ..." Aurel memeluk Sanjaya lalu mencium nya.
"I love you to sayang ..." Sanjaya membalas pelukan sang cucu cantiknya.
"Oma tidak di cium juga nih?" seru Lilis yang berpura-pura iri.
"Hehe! Sini Oma biar Aurel cium juga." Aurel berganti mencium Lilis.
"Oma .... Opa ... Delisa pamit pulang dulu, sudah sore nanti main lagi." Delisa mencium tangan Sanjaya dan Lilis, tak lupa bocah koala itu sudah merengek meminta ikut dengan Dady dan Mommy nya.
"Aurel sama Oma dan Opa dulu ya? Dady mau mengantar Mommy pulang, janji hanya sebentar." Revano mecoba membujuk Aurel akan tetapi tetap saja kekeh dirinya meminta ikut.
"Kita berkemas yu sayang ... biarin nanti Dady dan Mommy tidak ikut ke Disneyland nya." bujuk Lilis sambil mengedipkan mata kearah Revano agar mau diajak berkompromi dengan nya.
Aurel mendongakkan kepalanya, lalu merentangkan tangannya kearah Lilis, Revano menunjukkan kedua jempolnya kepada Lilis.
"Ayo Del cepat." setelah Aurel mau di bujuk oleh nenek nya, dengan cepat Revano langsung menarik tangan Delisa dan membawanya keluar agar Aurel tak mengejar dirinya.
"Kita makan dulu ya? Tadi aku lihat kamu belum makan apa-apa, hanya sibuk dengan Aurel saja." ujar Revano ketika sudah di dalam mobil dengan Delisa yang duduk di samping nya.
"Pulang saja Pak, Delisa mengantuk sekali ..." Delisa merebahkan tubuh nya di kursi mobil dan memiringkan arahnya melihat kaca mobil.
"Ya sudah kamu tidur dulu saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan." Revano mengelus rambut Delisa sembari tersenyum.
"Hmm ..." Delisa mulai memejamkan mata nya.
***
Saat ini Revano sudah sampai di area foodcourt yang di tuju nya, tetapi Revano enggan untuk keluar dari mobil nya karena Delisa masih tertidur nyenyak.
'Ran tolong restui saya untuk menikah lagi, demi membahagiakan anak kita, Aurel.' gumam Revano termenung memikirkan mediang istriya.
'Ni bocah mirip banget sama Aurel, dari mata nya sampai gerak gerik nya juga ...' Revano mengelus pipi Delisa sambil terkekeh di dalam hatinya.
"Eumm ..." Delisa mengerlingkan matanya.
"Maaf jika aku mengganggu tidur mu," Revano memberhentikan kegiatan nya lalu menurunkan tangannya untuk membuka seat belt di pinggang Delisa.
"Sudah sampai Pak?" tanya Delisa, dia memejamkan matanya kembali.
"Aihh tidur lagi ..." Revano terkekeh melihat tingkah Delisa yang begitu menggemaskan di matanya.
"Bangun yuk ... Aku gendong, mau?" Revano mengelus pipi Delisa lagi.
__ADS_1
"Eumm .. Lima menit."
"Ayo bangun Delisa ... Kita makan dulu yuk biar nggak ngantuk lagi." Revano membujuk sambil menggoyangkan bahu Delisa pelan.
"Iya Pak, sebentar." Delisa perlahan membuka matanya, dilihat nya Revano tersenyum yang sedang memandangnya.
"Bapak nggak usah menatap Delisa seperti itu!" Delisa memutar bola matanya malas.
"Kenapa? Aku ini calon suami mu, jangan malu-malu seperti ini,"
"Belum terbiasa!" Delisa berdecak kesal lalu membuka pintu mobil yang memang belum di kunci oleh Revano, dia keluar meninggalkan Revano yang masih di dalam mobil.
"Udah di tungguin malah di tinggalin," Revano berlari menyusuli Delisa dan menggandeng tangannya.
"Kamu itu masih ngantuk, belum sepenuhnya sadar udah main pergi-pergi saja." ujar Revano membenarkan rambut Delisa yang sedikit berantakan.
"Mau makan apa?" kata Revano menawarkan.
"Terserah."
"Mulai ciri-ciri cewek nya terlihat, di tawarin apa jawabnya terserah, nanti di kasih makan nasi sama kecap ngamuk-ngamuk bilangnya para cowok nggak peka."
"Mau makan burger, kentang goreng, sama minumnya jus strawberry, eskrim, donut, semuanya." ujar Delisa yang mulai jengah dengan perkataan Revano tadi.
"Oke, siapa takut." Revano tersenyum miring, Delisa benar-benar mengerjai dirinya saat ini.
Dia membawa Delisa kearah foodcourt dan memesan apa yang di minta Delisa tadi, benar-benar semuanya di pesan oleh Revano padahal Delisa tadi hanya bercanda saja.
"Jangan nge-Vape Pak!" Larang Delisa ketika melihat Revano sedang mengocok Vape nya.
"Di makan Del ... Jangan di aduk-aduk terus makanannya," Revano melihat Delisa dan Delisa mengacuhkan nya, terbukti kalau dia masih mengantuk.
"Kalau mau di suapin bilang jangan pake ngode mogok makan kayak gini segala." Revano mengambil alih makanan Delisa dan menyuapkannya, "Cepat buka mulut mu, aku sedang berbaik hati hari ini." Delisa hanya menurut saja.
"Enak? Iyalah, orang di suapin sama orang tampan tiada dua nya kayak gini." ujar Revano berbangga diri.
"Bapak juga makan."
"Nanti setelah makanan mu habis, baru aku yang makan."
"Terimakasih, Delisa mau di suapin sama bapak semuanya." ujar Delisa menunjuk semua makanan yang ada di depannya.
"Iya asal kamu mau makan, nanti aku suapin semua nya."
"Del, bisa nggak jangan manggil nya bapak-bapak terus, aku jadi kayak punya anak dua." ujar Revano menghela nafasnya panjang.
"Kan emang bapak udah tua, hahaha ..."
"Enak saja! Tapi tua-tua gini juga tampan nya tidak kalah seperti yang muda."
'Ya emang bapak tu ganteng pake banget!' Delisa bersorak di dalam hatinya, dia gengsi untuk mengungkapkan perasaan sesungguhnya.
__ADS_1
"Nggak sadar umur." sindir Delisa.
"Sadar kok, aku masih 27 tahun, belum tua." Revano menyentil dahi Delisa dengan jarinya.
"Tapi Delisa masih 19 tahun, masih kecil buat Bapak yang udah 20 tahunan."
"Tapi kecil-kecil juga sudah bisa bikin anak kecil kan?" goda Revano membuat wajah Delisa memerah seketika.
"Aurel saja sudah cukup." Delisa menutup mukanya yang terasa panas.
"Enak saja, nggak lah, nggak mau." tolak Revano sambil terkekeh.
"Target nya sih empat atau lima anak lagi gitu." ujar Revano dengan muka yang lempeng tanpa memikirkan resikonya.
'Itu mah curang! Enak di Bapak, nggak enak di aku!' gerutu Delisa kesal.
"Bercanda, jangan di bawa serius." lanjut Revano, membuat Delisa kembali tersenyum mendengarnya.
"Jangan manggil bapak lagi, panggil dengan panggilan yang lain." pinta Revano.
"Emm apa ya?" ujar Delisa yang masih mengunyah makanannya.
"Mas aja deh, tapi nggak cocok buat muka bapak yang nyeremin gitu." ujar Delisa yang ingin menyemburkan makanannya.
"Ckckck kamu ini," Revano menghela nafasnya berat.
"Mas saja ya?"
"Iya ...yang penting jangan panggil bapak lagi." jelas Revano.
"Ya Mas." Delisa
"Ya sayang." sahut Revano dengan sebutan 'sayang' membuat Delisa langsung menelan semua makanannya, untung saja tidak tersedak.
"Gak mau di panggil kayak gitu dulu Mas."
"Kenapa sayang? Nggak papa lah terserah aku."
"Kalau di kantor nggak mau,"
"Kenapa?"
"Malu sama temen kantor."
"Biarin, yang penting nanti kita sebar undangan, mereka pasti tahu kok." ujar Revano santai.
"Delisa sudah kenyang Mas, Mas saja yang makan." ujar Delisa menahan sendok yang ingin berselancar si dalam mulutnya.
"Yakin? Eskrim-"
"Eskrim nya di makan kok." ucap Delisa memotong perkataan Revano.
__ADS_1
Revano hanya menganggukkan kepalanya saja, Dia sangat tidak percaya bahwa Delisa benar-benar mau memakan suapan darinya.
Saat ini Revano tahu kalau Delisa memiliki sifat yang sangat manja seperti Putri kecilnya itu.