Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 76


__ADS_3

Menjelang terbenam nya matahari, Revano dan Delisa masih tertidur pulas di dalam kamar setelah pergulatan panas tadi yang mereka lakukan.


Sedangkan Aurel sudah terbangun, dia keluar mencari kedua orang tua nya tetapi ia lebih memilih untuk bersama Roy dan juga Citra.


Roy yang sudah paham kemana arah pembicaraan Aurel, Roy hanya mengajak nya menjauh dari ruangan dan membawa Aurel serta Citra ke kantin untuk makan sebelum pulang.


"Aurel suka?" tanya Citra sambil membuka wadah yang isi nya peralatan makan untuk Aurel gunakan agar tetap bersih dan Higienis.


"Iya, Aurel suka ... Eum yummy." sahut Aurel cerewet.


"Roy? Apa kamu tidak ingin makan?" tanya Citra beralih kepada Roy.


"Tidak, masih sedikit kenyang." ujar Roy santai.


"Memang nya Pak Revano sama Bu Delisa kemana sih? Ini anak nya kok ditinggal tidur sendirian, mana sampe sore lagi, untung tadi Aurel bisa buka pintu nya." Citra mendengus pelan.


"Pak Revano lagi ada kebutuhan dengan istrinya Cit, maklum lah pengantin baru." jawab Roy datar.


"Kebutuhan? Keperluan kali." jawab Citra menyangkal apa yang di katakan Roy.


"Ya, dua-dua nya."


"Kebutuhan? Kebutuhan apa?" tanya Citra yang memang tidak mengerti arah pembicaraan Roy.


"Sudahlah, kamu masih bocah yang tidak tahu apa-apa." kata Roy sambil tertawa.


"Ish, Nggak jelas!"


"Hahaha!"


"Makanya kalau mau tahu, kamu nikah dulu nanti baru paham." lanjut Roy meredakan tawa nya.


"Memang masalah nya dimana sih? masa nikah dulu baru paham, aneh sekali kamu Roy." Citra memutar bola mata nya malas.


"Sudahlah, jangan di bahas. Mending kamu abisin minuman kamu baru kita keatas buat ambil tas terus kita pulang, lihat tu Aurel saja sudah habis makan nya."


"Iya-iya."


***


"Eughhh!" Revano menggeliatkan badan nya pelan dan meraba-raba yang ada di sekitar nya, merasa tidak ada siapa-siapa ia langsung membuka mata nya melihat seluruh isi ruangan, Revano tersenyum kala melihat istrinya sudah mandi dan sedang mengeringkan rambutnya di depan kaca.


"Tidak bangunin Mas hm, kamu udah wangi, curang."


"Suruh siapa di bangunin tidak mau bangun." sindir Delisa santai.


"Ngantuk berat sayang, lagian kamu bikin candu." kata Revano mengusik Delisa dengan memainkan kedua pipi nya.


"Hentikan Mas! Kamu mandi dulu sana."


"Aurel kemana ya Mas? Tadi Delisa lihat sudah tidak ada lagi di depan, pintu juga sudah kebuka." sambung Delisa lagi.


"Dengan Roy, mungkin ada di depan." Revano melepaskan baju nya di depan Delisa, tetap saja Delisa malu untuk melihatnya walaupun Revano hanya bertelanjang dada saja.


"Aku cari Aurel ya Mas? Nanti Mas nyusul saja."


"Ya sayang, hati-hati ya!"

__ADS_1


"Ya Mas."


Setelah mendengar penuturan dari sang suami, Delisa tersenyum mendengarnya, ia juga langsung menyemprotkan pengharum ruangan yang sudah tersedia dengan varian apple membuat kamar tersebut semakin terasa segar.


Baru saja Delisa membuka pintu kamar, di dalam ruangan Revano sudah ada Roy yang menemani Aurel.


"Mommy!" seru Aurel.


"Aku permisi dulu Del, takut ada Pak Bos ah."


"Terimakasih ya Roy, maaf merepotkan mu." ujar Delisa cengengesan.


"Sama-sama, Om Roy pulang dulu ya, good bye Nona kecil ..." Roy mengelus rambut Aurel sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


"Nanti main lagi Om!"


"Yaaa." sahut Roy dari balik pintu.


"Aurel maafin Mommy ya, tadi mommy sama Daddy ketiduran di dalam, maaf ya sayang." ucap Delisa, ia merasa sangat bersalah tadi meninggalkan Aurel yang sedang tertidur.


"Yes Mommy, i forgive you Mom."


"Okay, Aurel belum makan ya sayang? Mau mommy belikan? ayo kita ke kantin beli makan dulu sambil nunggu Daddy bersiap."


"Sudah kenyang Mommy, tadi sudah makan sama Om Roy dan mbak Citra."


"Ya tuhan! Maaf ya nak, mommy benar-benar melupakan tanggung jawab mommy sendiri."


"Ada apa? Ayo kita pulang, sudah sore." sahut Revano dari arah pintu.


"Ya tidak apa-apa sayang, apa Aurel mau makan lagi hm? Kita mampir makan dulu saja."


"Nanti Mas telpon Mamah biar nggak nungguin kita datang." lanjut Revano sambil mulai membuka benda pipih nya.


"Aurel mau makan apa sayang?" tanya Delisa sambil berjalan mengekori Revano.


"Sate ayam."


"Kalo kamu mau nya makan apa sayang?" kini Revano yang berbicara kepada Delisa.


"Eum ikut Aurel saja deh Mas, biar nggak ribet."


"Oke,"


Setelah sampai di rumah makan, Revano tidak mau membawa kedua kesayangannya makan di pedagang kaki lima karena menurutnya takut tidak bersih dan higienis.


Tak lama menunggu, datang lah tiga pelayan dengan membawakan beberapa menu yang tadi sempat di pesan oleh Revano yang pastinya sate keinginan putri kecilnya sudah ada di meja.


Setelah para pelayan pergi, Delisa dengan cepat langsung menyedokkan nasi merah diatas piring untuk suaminya begitu juga dengan Aurel. Revano sengaja memesan nasi merah karena nasi merah mengandung banyak vitamin, banyak juga manfaat nasi merah salah satunya yaitu mencegah kanker dan mengontrol kadar gula, selain itu juga bagus untuk kesehatan badan nya.


"Terimakasih sayang."


"Sama-sama Mas, Aurel mau Mommy suapkan?"


"Tidak boleh, Aurel makan sendiri saja ya ... Mommy juga sama-sama mau makan." sela Revano membuat Delisa mengerlingkan mata nya.


"Mas-" tergur Delisa.

__ADS_1


"Iya Mommy, Aurel makan sendiri saja." Aurel menurut karena memang seharusnya sudah mulai belajar untuk makan sendiri apalagi Revano berencana akan memberikan adik kepada Aurel membuat Revano melatih kemandirian dan perilaku Aurel agar menjadi seorang kakak yang baik untuk adik-adiknya nanti.


"Nah gitu dong Nak makan sendiri, nanti kalau jadi kakak harus bisa nyuapin adek nya ya ..." gurau Revano, Delisa lebih memilih untuk diam saja menikmati makan nya.


"Aurel mau jadi kakak nggak?" tanya Revano.


"Iya Aurel mau jadi kakak biar kayak temen Aurel punya adik, lucu Mommy adik nya."


"Ah iya sayang, doain Mommy ya ..." sahut Delisa sambil tersenyum.


"Iya Mommy."


"Di makan Mas, masih utuh saja ... Nah kan sama saja anak nya juga jadi belum makan kan ... Mas sih ngajak ngobrol Aurel, kan jadi begini."


"Iya iya, maaf ya Bu ... Ayo sayang kita makan, Mommy nanti marah lagi."


"Yes Dad."


Setelah menghabiskan makanan nya, tak lupa Delisa juga membungkus sate untuk yang ada di rumah.


Setengah jam perjalanan, sampai lah di komplek perumahan elite, Revano di sambut dengan di bukakan gerbang nya oleh satpam yang sedang berjaga di depan rumah nya.


Aurel, bocah kecil itu sudah terbuai dalam mimpi nya, Revano mengangkat tubuh Aurel yang masih tertidur dan membawa nya masuk ke dalam kamar nya, sedangkan Delisa menemui Sanjaya dan Lilis di ruang makan.


"Assalamualaikum Papah ... Mamah ..." Delisa mencium tangan Sanjaya dan Lilis bergantian.


"Waalaikumsalam, eh sudah dateng kamu Del." ujar Lilis.


"Hehe iya Mah, maaf tidak sempat bilang ke Mamah tadi mau mampir ke Mas Revano dulu."


"Tidak apa-apa sayang, itu suami mu loh ... Masa mamah larang buat ketemu sih ... Ada-ada saja deh mantu kita ini Pah." ujar Lilis terkekeh.


"Duduk Del," ucap Sanjaya yang baru datang pulang dari Jakarta.


"Ini tadi Delisa sama Mas Revano beli sate buat Papah sama Mamah, di makan ya Mah ... Delisa mau ke kamar dulu, Mas Revano sedang mandi." alasan Delisa saja padahal ia hanya ingin tidur karena tubuh nya merasa cukup lelah.


"Ya sayang, terimakasih ya ..."


***


Di dalam kamar, Revano duduk di atas kasur dengan laptop yang berada di pangkuannya.


"Mas" panggil Delisa.


"Ya sayang? kemarilah ..." Revano menepuk kasur di sebelah nya, Delisa menurut saja dan duduk bersandar di pundak Revano.


"Mas, Delisa izin tidur duluan ya? Ngantuk banget, capek juga." ujar Delisa.


"Hm sayang sebentar lagi, tunggu Mas ya .. Tidak boleh ngantuk dulu dong, yang."


"Iya Mas Delisa tungguin."


Revano segera saja mematikan Laptop nya, ia mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang-remang.


Ia segera memeluk badan Delisa, Revano sangat suka posisi tidur seperti ini, menurutnya sangat nyaman.


Tidak ada kegiatan panas di malam ini, karena Revano juga merasakan kantuk yang sudah menyerang nya, ia lebih memilih untuk tidur dan bermanjaan dengan istri nya saja.

__ADS_1


__ADS_2