Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 91


__ADS_3

Delisa terbengong karena tidak ada kado dari suaminya, ia menatap suaminya tanpa kata apapun, yang di tatap hanya menunjukkan wajah datar dan lempeng nya saja.


'Kado dari Mas Vano mana ya?' batin Delisa.


"Apa sayang?" tanya Revano, walaupun di dalam hatinya sudah terkekeh.


"Nggak Mas," jawab Delisa cepat, ia mengemasi barang-barangnya dan memisahkan bungkusan kado yang sudah terurai di kamarnya.


"Kemari sayang berbaring dekat Mas" seru Revano sambil menepuk-nepuk kasur.


Tanpa aba-aba, Delisa langsung tidur dengan bantal lengan kekar Revano, ia menatap suaminya.


"Kamu tidak mencari kado dari Mas, hm?" tanya Revano membuat Delisa gelagapan, suaminya ini sudah seperti cenayang, pikirnya.


"Sudah tapi nggak ada." jawab Delisa jujur sambil mencebikkan mulutnya.


"Hehe! Kirain kamu nggak cari." ringis Revano membuat Delisa kesal hingga mencubit perut Revano.


"Awshh, sayang!" Revano merintih kesakitan.


"Haha rasain kamu Mas," Delisa melayangkan cubitannya lagi dan lagi.


"Sudah sayang, kemari" ajak Revano sambil menarik tubuh Delisa yang sudah duduk tegak di hadapannya, sekali tarik membuat Delisa terkungkung kembali dalam dekapan hangat suaminya.


"Mas mau beri kamu satu permintaan, hany-"


"Janji kan Mas?" Delisa memotong ucapan Revano membuat Revano mengangguk "Ya, katakanlah" ucapnya.


"Em sebenarnya ..." kata Delisa sambil menggantungkan ucapannya.


"Hm, apa sayang?" tanya Revano sambil memainkan rambut istrinya dari di pilin hingga di gulung-gulung ke sela sela jarinya.


"Delisa mau ke Jakarta, Mas. Kangen Ayah sama Ibu, kangen Ibu Rosa juga, Delisa mau ke sana Mas, Mas mau kan?"

__ADS_1


"Boleh. Tapi kalau ke Bu Rosa, Mas pikir-pikir dulu, apa boleh sayang?" tanya Revano membuat Delisa kembali mengerucutkan bibirnya.


Di pikir-pikir, memang benar Revano tidak pernah sama sekali mengunjungi makam almarhum kedua mertuanya.


"Nggak Mas, Delisa mau kesana bareng Bi Romlah sama Bi Aam." kilah Delisa, ia mulai meneteskan buliran air matanya.


"Kok nangis sayang? Kenapa hm?" Revano menyeka air mata Delisa dan membawanya ke dalam pelukan.


"M-Mas, apa keluarga Mas begitu benci kepada Bu Rosa? Hingga menjenguknya pun nggak mau, hiks ... Di-dia juga manusia Mas pasti nggak semuanya harus sempurna, hiks ..." tangis Delisa semakin pecah saja.


"Maafkan Mas, sayang. Mas janji bakal bawa kamu bertemu sama Bu Rosa, oke? Berhentilah menangis." jawab Revano yang sudah mengalah, bagaimana pun juga ia harus menuruti permintaan istrinya


"A-apa Mas benci juga sama Bu Rosa? Hiks ..." tanya Delisa lagi dengan mendongakkan kepalanya.


"Nggak ada benci sayang,"


'Mungkin bagi Mama sih pasti iya sayang' tambah Revano dalam hati.


"Lalu? , Hiks ..."


"Benarkan Mas? Mau bawa Delisa pergi ke Jakarta?" tanya Delisa.


"Iya sayang, pakai Jet pribadi saja ya biar nggak terlalu lama di perjalanan."


"Hiks, Bi Romlah sama Bi Aam juga harus ikut Mas"


"Iya sayang nanti mereka di ajak" sahut Revano.


"Terimakasih Mas, Delisa sayang Mas Revano" Delisa kembali memeluk tubuh kekar di sampingnya, menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menyeruk dari tubuh suaminya.


***


Pada sore hari. Sanjaya, Lilis dan Aurel baru saja sampai di halaman rumah dengan membawa berbagai macam-macam barang.

__ADS_1


Tak lupa Lilis juga membelikan susu hamil dengan semua varian rasa, selain itu juga Lilis membelikan biskuit hamil dan snack-snack lainnya yang dapat di konsumsi selagi hamil.


"Delisa sayang!" teriak Lilis menggelegar hingga mengusik Delisa dan Revano yang sedang mengobrol bersama pelayannya.


"Iya Ma," sahut Delisa, pandangannya ke tangan Lilis yang penuh dengan barang belanjaannya.


"Tolong simpan semuanya di tempat sejuk Bi, dan jangan lupa buatkan susu untuk menantuku setiap harinya, biskuit dan beberapa camilan juga ikut di sajikan bersama ya ..." pinta Lilis sambil menunjukkan beberapa barang yang di bawanya.


"Baik, Nyonya" sahut Bi Romlah sopan kemudian membawa barangnya dan menatanya di lemari, sedangkan Bi Aam yang melihat Aurel tertidur, ia langsung berlari untuk menemani Aurel bersih-bersih dan menggantikannya baju walaupun gadis kecil itu terlelap.


"Astaga Ma, belinya banyak sekali ..." Delisa sampai geleng-geleng kepalanya di buatnya.


"Sudah sayang terima saja, lagian juga gratis ini," goda Revano membuat Delisa ikut tertawa.


"Ck, kata siapa gratis?" sahut Lilis menggoda anak dan menantunya.


"Siapa yang menyuruh Mamah belikan? Nggak ada kan?" tanya Revano.


"Astaga suamimu Del! menyebalkan sekali," sahut Lilis.


"Mamah belikan semuanya khusus menantu Mamah saja, kalau untuk suami Delisa mah nggak ada satu pun barang yang di belikan, suruh saja dia beli sendiri" sindir Lilis kepada anak semata wayangnya.


"Iyain saja yakan sayang? Berisik kalau dengerin ibu-ibu tua ngomong." jawab Revano frontal membuat Delisa memukul lengan suaminya.


"Sialan kamu Van!" seru Lilis geram.


"Hahaha! Lagian Mama duluan"


"Sudah Mas, nggak boleh begitu sama Mamah." Delisa menutup mulut Revano yang sedang tertawa menggunakan telapak tangannya.


"Memang otaknya sedikit ejleg dia Del, biarkan saja." Lilis menarik tangan Delisa "Biar kamu ikut Mamah saja yuk, dari pada ikut ketularan sama orang yang nggak waras." tambah Lilis sambil melenggang pergi bersama Delisa meninggalkan Revano yang mematung di sofa.


"Ck! Mama, Mama." gumam Revano kesal, ia lebih memilih melanjutkan acara tontonanya dari pada mengikuti dua wanita yang berbeda umur itu.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah harapan. Selamat tinggal 2022 dan selamat datang 2023. Saatnya kita membuka lembaran baru dengan semangat baru....


__ADS_2