
Hari wekeend pun tiba, di kediaman Revano sedikit ramai karena kedatangan Sanjaya dan Lilis dari malam, bahkan Aurel sejak malam tidak mau lepas dari Opa nya, tidur pun Aurel ikut dengan Oma dan Opa nya.
Seperti pagi ini saja, gadis kecil itu merengek meminta Opa dan Oma nya menemani dirinya pergi ke timezone, padahal sudah berjanji dengan sang Mommy, tapi gadis kecil itu lebih memilih pergi dengan Opa dan Oma nya.
"Baiklah-baiklah, kita pergi ke timezone hari ini" sahut Sanjaya menuruti permintaan cucu cantiknya.
"Maafkan Mommy ya sayang, Mommy masih sedikit pusing jika terlalu banyak berjalan" ucap Delisa mengelus rambut panjang putri kecilnya.
"Mommy di rumah saja dengan adek" ucap Aurel bak orang dewasa.
"Iya benar kata Aurel, kamu di rumah saja biar nanti Mamah belikan kebutuhan kamu selama hamil," kata Lilis sambil mengemasi barang-barang nya ke dalam tas branded nya.
"Mamah terimakasih ya ... Delisa jadi merepotkan begini." sahut Delisa.
"Hustt jangan berbicara seperti kepada orang lain saja," Lilis menggelengkan kepalanya pelan.
"Mamah tinggal dulu Del, kamu baik-baik ya di rumah" pamit Lilis kepada menantunya, sedangkan Sanjaya dan Aurel sudah lebih dulu keluar.
"Hati-hati ya Ma, Delisa titip Aurel"
"Iya sayang," seru Lilis.
Seusai melihat Lilis pergi, Delisa segera ke dapur untuk mencari Bi Romlah, Bi Aam dan Bi Rami. Ternyata mereka tidak ada disana, Delisa sudah menebak jika mereka ada di taman belakang, dan benar saja para wanita paruh baya itu sedang bersantai di halaman belakang.
"Nona, hati-hati lantainya takut licin" ujar Bi Romlah memperingati.
Delisa masih sedikit canggung dengan Bi Rami, karena Bi Rami tidak menetap, wanita tua itu jarang tinggal di rumah Delisa karena Bi Rami sering izin pulang untuk bertemu dengan anak dan cucunya yang tinggal di desa sebelah dekat dengan penthouse milik tuannya.
"Hehehe aman Bi, ngomong-ngomong kalian sedang apa sih kok seru banget liatnya" tanya Delisa, ia mendudukkan bokong nya di samping Bi Romlah.
"Nggak Nona, kami hanya sedikit merindukan Bu Rosa saja," jawab Bi Romlah jujur.
"Delisa juga kangen Bu Rosa, bagaimana kalau kita menjenguk Bu Rosa bersama-sama?" Delisa melebarkan senyumnya menatap kedua pelayannya yang sedang terenyuh mendengar apa yang Delisa katakan.
"Nggak perlu Nona, kami tidak berani dengan Pak Revano" jawab Bi Romlah lagi, ia menggelengkan kepalanya pelan.
Bi Rami hanya ikut mendengarkan saja.
"Iya Nona, benar. Apalagi Nona sedang hamil, kami nggak mau terjadi apa-apa dengan Nona nanti." sahut Bi Aam khawatir.
"Nggak apa-apa Bi, insyaallah adek aman, nanti coba Delisa tanyakan kepada Mas Revano ya, sekalian liburan ke Jakarta" kata Delisa.
"Sayang!" panggil Revano dari ambang pintu, membawa dua kantong kresek berwarna hitam.
__ADS_1
"Ah itu Mas Vano, Delisa tinggal dulu ya Bi," pamit Delisa, mata nya sudah menatap suaminya.
"Iya Nona," jawab para pelayan kompak.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Delisa, ia mengikuti langkah Revano yang menggenggam tangannya dan menarik ke arah meja makan.
"Kemari sayang, Mas belikan kamu rujak buah, kamu suka sayang?" tanya Revano sambil membuka bungkus yang ia bawa.
Mata Delisa berbinar melihatnya, air liur di dalam mulutnya seketika ingin menetes membayangkan betapa segar dan nikmat rasanya.
"Kan biasanya orang hamil ngidam rujak buah, jadi Mas belikan deh"
"Terimakasih Daddy" jawab Delisa menirukan suara anak kecil membuat Revano gemas langsung mencubit pipi Delisa.
"Sudah di minum obatnya sayang? Susu juga sudah?"
"Sudah Mas"
"Pintarnya sayangku." sahut Revano lembut.
Revano menatap Delisa yang sedang memakan rujak buah dengan begitu lahapnya membuat Revano yang ingin ikut menikmati bersama jadi ia urungkan niatnya.
"Tidak masam sayang? Hati-hati makannya jangan terburu-buru, kalau perlu kita beli lagi" kata Revano mengelap pipi Delisa yang belepotan karena bumbu rujak.
"Eum ... Eum ... Ini enak Mas" gumam Delisa dengan mulut yang masih mengunyah.
Delisa menghabiskan satu porsi rujak buah tanpa memperdulikan Revano yang sedari tadi menatapnya.
"Alhamdulillah" Delisa terkekeh, entahlah walaupun ia tidak menginginkan rujak buah tapi satu porsi sudah habis.
"Mau lagi?" tanya Revano.
"Kenyang Mas, lain waktu saja." jawab Delisa sembari tersenyum manis.
"Oke sayang"
***
Di dalam kamar, Revano dan Delisa membuka kado ulang tahun, Delisa begitu antusias membukanya.
"Ini dari para pelayan Mas,"
"Wah daster Mas," ucap Delisa setelah membuka isi kado dari para pelayan yang berisi lima buah daster dengan model dan motif yang berbeda.
__ADS_1
"Mereka pengertian sayang, karena kamu pasti akan membutuhkan ini setelah perut kamu membesar nanti" sahut Revano dari belakang, ia mendekap istrinya dari belakang sambil bemanja-manja dengan sesekali mengecup leher Delisa.
"Apa nanti badan aku akan gendut Mas? jelek dong" sahut Delisa.
"Kamu gendut kan wajar sayang ada baby di dalam yang ikut tumbuh seiring berjalannya waktu, apapun kondisi kamu Mas tetep cintaaa banget sama kamu" jelas Revano.
"Halah Mas, awas aja kamu nanti di luaran sana lihat tante-tante ganit yang bening langsung terpikat" sindir Delisa halus.
"Kamu bicara apa sayang? Nggak ada yang kayak begitu, Mas kan cuma cinta sama kamu doang, nggak ada yang lain." jawab Revano terkekeh.
"Janji ya Mas?"
"Iya sayang janji"
Delisa mengambil kado kembali "Ini dari Papah sama Mama, Mas."
"Hm, bukalah"
"Astaga Mas ini Lingerie!"
"Wah Mamah sama Papah tahu saja kalau Mas tidak ada jadwal berlibur sayang, hahaha" Revano tertawa.
"Itu ada kartu ucapannya, coba baca sayang" tambah Revano, Delisa menurut dan membalik kartu ucapan yang tertinggal di dalam box nya.
"Selamat ulang tahun menantu Mama dan Papa yang cantik, sehat selalu sayang agar dapat memberikan Mama dan Papa cucu yang banyak" Delisa membacakan kartu itu dengan merinding, satu saja belum lahir, kedua mertuanya sudah memintanya banyak.
"Its oke sayang, semua bisa di atur!"
Cup!
Revano mengecup bibi Delisa sekilas.
"Ada-ada saja mereka Mas" sahut Delisa terkekeh.
"Iya kan saja sayang biar mereka senang, bukankah membuat orang tua bahagia itu wajib ya?" tanya Revano dengan wajah tengilnya.
"Enak di kamu, nggak enak di aku!" sahut Delisa cemberut.
"Sama-sama enak sayang, buktinya kamu kalau kita lagi bercinta kamu sangat menikmati, merem melek tuh mata" jawab Revano terkekeh.
"Ah Mas! Jangan bahas itu!" ancam Delisa walaupun yang di katakan suaminya benar adanya.
"Iya-iya sayang, coba buka dari Roy sama teman-teman kamu" perintah Revano.
__ADS_1
Ternyata isi kado dari Roy adalah sepasang jam tangan couple, bukan Delisa saja yang mendapatkan kado tetapi kali ini juga Revano mendapatkannya.
Isi kado dari Citra sebuah tas, Delisa juga mendapatkan flat shoes dari temanya, Sani.