
Pada pukul 20.30, Delisa sedang menimang Aurel di dalam gendongannya, karena tadi Aurel merengek mengantuk dan ingin di gendong oleh Delisa saja.
Setelah Aurel tertidur, Delisa meletakkan Aurel di bantu dengan Revano yang memegang impusannya.
"Tante ..." Aurel membuka matanya sedikit lalu menarik tangan Delisa.
"Ya?" Delisa berbicara pelan sambil melihat Revano di depannya.
"Sini, Bobo sama Aurel." Aurel menggeserkan badannya agar Delisa tidur di sampingnya.
Delisa menatap Revano seolah meminta persetujuan, Revano menganggukkan kepalanya.
"Sudah ya Aurel bobo yang nyenyak, Tante disini." Delisa membalas pelukan Aurel yang sedang memeluk di dada nya, Delisa sesekali menepuk pantat Aurel pelan.
15 menit berlalu, Aurel sudah tertidur yang masih setia memeluk Delisa. Delisa tidak tertidur, dia hanya pura-pura memejamkan matanya saja agar Aurel tidak terus saja merengek meminta Delisa tidur bersamanya di ranjang.
"Pak?" Delisa memanggil Revano pelan, meminta tolong agar mengambil bantal guling untuk menggantikan dirinya.
"Ya, sebentar." Revano paham lalu mengambil bantal guling dan meletakkan di tempat Delisa tadi.
"Terimakasih." Revano mengangguk.
"Del tidur, Sudah malam." lanjut Revano, Delisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan melirik kearah sofa hanya ada satu sofa panjang dan satu meja disana.
'Masa iya tidur bareng Pak Revano sih?!' Delisa bergidik ngeri memikirkannya.
"Kamu tidur disini, tenang saja nanti saya keluar." Revano mengerti Delisa yang hanya diam saja.
"Tidak-tidak, Bapak disini saja, Biar Delisa yang di luar." Delisa melihat jam dinding dan ternyata hari sudah malam.
"Sudah tidak papa, Saya tahu kamu lelah karena seharian mengurus Aurel, Kalau begitu saya keluar, kamu tidur saja di sini, ada selimut juga jangan lupa pakai, di kamar ini nanti kalau malam terasa sangat dingin." Revano berdiri kemudian mengelus kepala Delisa dan keluar meninggalkan Delisa dan Aurel di dalam.
'Untunglah Pak Revano peka.' Delisa menghembuskan nafas panjang karena memang badannya terasa sangat lelah, seharian mengurus Aurel dan hanya mau di gendong oleh dirinya kalau tidak bergantian dengan Revano.
__ADS_1
Sebelum tidur, Delisa masuk ke kamar mandi, dia terbiasa untuk membasuh mukanya terlebih dahulu dan menyikat giginya. Delisa keluar lalu menutup pintu kamar mandi pelan takut Aurel terbangun, kemudian mengambil bantal kepala, bantal guling. lalu ia berbaring dan mulai menyelimuti seluruh badannya.
Baru saja Delisa ingin tertidur tetapi Revano masuk lagi, menghampiri Delisa sambil meletakkan jari telunjukknya di mulut agar Delisa tidak berteriak.
"Del? Boleh ya saya tidur disini? Tadi saya menelpon Roy dan Anton untuk kemari tetapi tidak ada yang mengangkatnya." ujar Revano dan duduk di samping kepala Delisa.
"Tenang saja saya tidur di bawah." sambung Revano sebelum Delisa angkat bicara.
"Hmm terserah Bapak saja." Delisa memejamkan matanya karena memang terasa berat.
"Terimakasih, kalau begitu satuan bantal nya." Delisa membuka matanya kembali, tanpa berkata dia langsung memberikan bantal guling di apitan kedua kakinya.
"Eh tidak-tidak." Delisa menarik kembali bantal guling lalu menggantikannya dengan bantal yang ada di kepalanya. Revano hanya terkekeh melihat kelakuan Delisa.
"Jangan lupa tidur ya? Selamat malam." Revano mengelus kepala Delisa yang kedua kalinya.
Langsung saja Revano menggelar karpet bulu yang mungkin setelah di gunakan oleh Papah nya kemarin.
***
"Ya sayang? Tante disini." Delisa mengelus bahu Aurel.
"Tantee." Aurel merentangkan tangannya tetapi matanya masih terpejam, Delisa tak mau menggendong Aurel yang memang dirinya juga masih mengantuk, jadilah Delisa tidur di samping Aurel sambil memeluknya hingga tak terasa mereka tertidur bersama sampai menjelang pagi.
Pagi-pagi Lilis sudah berada di dalam loby rumah sakit di antar mang Eja.
"MasyaAllah." Lilis tersenyum geli melihat Revano tertidur sampai bawah ranjang Aurel.
"Van bangun." Revano mengedipkan matanya lalu berdiri dan berbaring kembali di sofa.
"Del sayang, bangun ..." kemudian Lilis membangunkan Delisa juga.
"Ehmm ya Oma." Delisa duduk pelan-pelan, lalu membalilkan badan Aurel agar terlentang.
__ADS_1
"Delisa mandi dulu Oma." ujar Delisa sambil mengambil alat mandi dan memasuki kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Delisa melihat Lilis yang sedang menata sarapan di meja, dilihatnya Revano sudah tidak ada di sofa.
"Sudah Del? Sarapan dulu, nanti soto nya keburu dingin."
"Makasih Oma, Delisa makan ya?"
"Ya sayang, makanlah sebelum anak koala mu terbangun hehe." Lilis membuka gorden kamar dan mengecilkan AC karena angin pagi terasa sangat dingin.
"Pak Revano kemana Oma?" tanya Delisa yang sudah selesai makan soto dan membereskan sisa makanan nya.
"Revano kerja Del, katanya mumpung ada kamu jadi dia pergi kerja. Kasian Roy kerjaannya numpuk." jawab Lilis sambil meletakkan HP nya.
"Oh iya Oma." Delisa benar-benar malu, bisa-bisa nya dia menanyakan Revano dimana, padahal kan sudah jelas bahwa Revano itu pasti berangkat bekerja.
"Oma, Delisa pulang dulu ya? Emm mau cari kontrakan. Delisa minggu depan sudah bekerja." Lilis tidak menyangka.
"Delisa? Kamu bekerja di kantor Revano lagi saja." ujar Lilis memberi saran sambil tersenyum menahan tangis.
"Emm bagaimana nanti saja Oma, Delisa mau cari pengalaman yang baru dulu hehe." kata Delisa menunjukkan deretan gigi nya.
"Tidak, jangan Del. Oma minta maaf atas kejadian kemarin di kantor. Kamu bekerja saja di kantor Vano lagi, jangan menolak." Lilis memohon agar Delisa menuruti kemauannya.
"Baiklah Oma, Delisa akan bekerja bersama Pak Revano lagi." ucap Delisa yang mempertimbangkannya karena seandainya bekerja di kantor baru lagi pasti susah mendapatkan teman yang asyik, beda di kantor Revano yang sudah memilik teman yang baik yakni Citra dan Pak Muh.
"Terimakasih sayang."
"Delisa jangan mengontrak lagi, tinggal saja di apartemen milik Vano, pasti Vano mengiyakan."
"Oma baik sekali, Delisa tidak tahu harus membalasnya dengan apa." Delisa bersyukur walaupun Lilis bukan ibu kandung nya tetapi dia sangat meperhatikan Delisa seperti anaknya sendiri.
"Oh iya, Hari ini Aurel pulang, mungkin sekarang. tinggal menunggu Dokter memeriksa nya saja, tadi Suster sempat bilang kalau Aurel keadaanya sudah membaik." ujar Lilis.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah ..." Delisa tersenyum melihat anak kesayangannya sudah tidak merasakan sakit lagi.
Setelah di nyatakan oleh Dokter bahwa Aurel sudah boleh pulang, Delisa membantu membereskan barang-barang Aurel di bantu Lilis, agar jika Aurel terbangun maka sudah langsung pulang saja tidak menunggu lama.