
Hari ini adalah hari terakhir Revano mengambil cuti di perusahaan milik nya sendiri, walaupun Revano menyandang status sebagai Bos nya tetapi ia masih memikirkan tanggung jawab untuk para karyawan-karyawannya.
Pagi ini, Delisa sudah di repotkan oleh kedua kesayangannya, Revano dan Aurel berebut Delisa hingga Delisa hanya bisa diam dan tak menganggapi dari keduanya.
"Ayo sayang!" Revano menarik pinggang Delisa dan menatap geli pada putrinya karena Revano hanya ingin menggoda Aurel saja.
"Mommy! Huaa!" Aurel menangis histeris kala melihat Delisa tidak berpihak pada dirinya.
"Mas ih!" Delisa menepis tangan Revano dan menggendong Aurel.
"Hahaha!" Ejek Revano puas melihat putrinya sudah menangis, Revano langsung mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Sudah jangan menangis lagi ya, Daddy hanya bercanda saja. Aurel mandi dulu ya? Biar Mommy mandikan, oke?"
Aurel hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Baiklah." Delisa membawa Aurel kedalam kamar mandi di sebelah nya, karena di dalam kamar tersebut terdapat dua buah kamar mandi yang bersebelahan tetapi yang satunya hanya terdapat keran air saja yang di khususkan Revano untuk berwudhu.
Setelah kurang lebih 15 menit, Revano keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya dan hanya memakai baju pendek saja.
Revano tersenyum melihat baju yang akan di pakai kerja sudah tersusun rapih diatas meja walk in closet, dengan cepat Revano segera memakainya.
"Sayang!" Revano keluar dari walk in closet dan menghampiri istri yang sedang menguncir rambut Aurel.
Cup!
Revano mengecup pipi Delisa sekilas membuat Delisa menatapnya tajam.
"Mas!" tegur Delisa.
"Pakai kan dasi Mas, sayang." ujar Revano memeluk pinggang Delisa dari belakang.
Delisa berbalik badan menghadap kearah suami nya, kemudian ia mengambil dasi yang sudah Revano bawa dan memasangkannya di leher Revano dengan telaten hingga membentuk bangun belah ketupat dengan rapih dan sempurna.
"Terimakasih sayang." ujar Revano sambil tersenyum manis.
"Turun yuk Mas, takut ditungguin Papah sama Mamah di bawah."
"Iya sayang sebentar ya, jam tangan Mas hilang, kemana ya? Padahal tadi Mas sudah taro di- , dimana ya?" tanya Revano dengan mata yang masih sibuk mencari jam tangan yang hilang.
"Masa sih? Coba inget-inget lagi deh Mas."
"Lupa sayang, coba bantu Mas cari."
"Mommy-Mommy! Aurel mau turun, mau ke Oma." pinta Aurel sambil menarik-narik tangan Delisa.
"Sebentar sayang, Mommy cari jam tangan Daddy dulu ya ..."
"Aurel turun sendiri saja, tapi pelan-pelan dan harus berpegangan." sahut Revano.
"Yes Daddy, Dadahh!" Aurel beringsut lari meninggalkan Revano dan Delisa yang masih di dalam kamar.
__ADS_1
"Eh-"
"Sudahlah sayang, biarkan dia sama Oma nya, mendingan kamu bantuin cari jam tangan Mas, please ..." tahan Revano yang melihat Delisa akan berlari mengejar Aurel.
"Fyuhh ... Iya Mas."
Delisa kesal melihat jam tangan ada di atas kasur, entahlah Delisa harus bagaimana lagi, padahal suami nya sendiri yang mengambil lalu menaruh nya, tetapi lupa dengan sendirinya.
"Mas tuh liat jam tangan diatas kasur, anteng pula."
"Hehe iya sayang, Mas lupa." Revano cengengesan, ia langsung memakai jam tangan di pergelangan tangan nya kemudian menghampiri Delisa yang duduk di depan meja rias.
"Jangan cantik-cantik sayang, Mas nggak suka ah!" ujar Revano memberengut kan muka nya.
"Masa pucet sih Mas, nanti dikira Delisa lagi sakit."
"Nggak sayang, mau keadaan gimana juga kamu tetep cantik."
Cup!
Revano mengecup bibir Delisa sekilas,
Tak hanya mengecup saja, melainkan Revano menahan tengkuk Delisa agar bisa merasakan rasa manis dari bibir sang istri nya, membuat Revano candu, tercandu-candu.
Revano memberhentikan ciuman nya, kemudian mengelap bibiar Delisa menggunakan ibu jarinya, "Kalau kayak gini, Mas jadi nggak mau kerja deh, yang."
"Ih Mas,"
"Turun tangga nya masih sedikit sakit Mas,"
"Pelan-pelan saja, apa mas gendong? Hm?"
"Nggak ah! Malu ada Papah sama Mamah." jawab Delisa.
Revano meraih tas kerja nya dengan menenteng nya menggunakan tangan kiri nya, sedangkan tangan kanan nya untuk menuntun sang istri.
***
"Lama banget Del? Ngapain aja?" tanya Lilis sambil mengaduk soup yang akan ia tuangkan ke dalam mangkuk.
"Jam tangan Vano tadi hilang Ma." sahut Revano dan menarik kursi agar Delisa duduk di samping nya.
"Bukan hilang, tapi kamu nya saja sudah pikun Van." sahut Sanjaya sembari tertawa mengejek putra nya.
"Enak saja, yang sudah tua itu Papa." ujar Revano tak terima di katai tua.
"Sudah-sudah, jangan ribut! Kita ini mau makan bukan mau perang." ujar Lilis kesal.
"Iya Ma." ujar Sanjaya dan Revano bebarengan.
Delisa segera melayani suami nya dengan menyendokkan nasi dan lauk pauk yang di butuh kan suami nya, setelah nya barulah ia menyuapi putri kecil nya, akan tetapi Delisa sendiri lebih memilih makan terakhir setelah Aurel merasa kenyang.
__ADS_1
"Ayo sayang lagi," Aurel menggeleng pelan, bocah kecil itu langsung meneguk segelas susu rasa vanila miliknya.
"Baru sedikit loh ... Makan lagi ya? Biar kenyang." ujar Delisa lagi.
"Mas?" Delisa beralih meminta pendapat Revano.
"Aurel? Masih mau makan lagi apa sudah? Dua suap lagi ya?" kali ini Revano angkat bicara.
"Sudah kenyang Daddy."
"Opa suapi ya? Kemari kan piring nya Del." sahut Sanjaya, Delisa pun memberikan piring nya.
"Baru sedikit ini, kemari duduk dekat Opa." ujar Sanjaya, tetap saja bocah kecil itu tidak mau di ganggu dengan keputusannya.
"Sudah biarkan saja, bawakan saja porsi lebih untuk bekal sekolahnya Del." sahut Lilis.
"Baik Ma."
Setelah selesai sarapan, mereka sudah mulai bepergian dengan segala aktivitas nya masing-masing.
Sanjaya sudah berpamitan akan ke Jakarta pusat hari ini dan akan pulang sore ini juga.
"Mas sama Aurel berangkat dulu ya sayang, sayang hati-hati disini ya? Mah jangan lupa jagain istri Vano."
"Siapp." Lilis hanya memberikan kedua jempol nya.
"Hati-hati ya Mas, nggak usah ngebut-ngebut bawa mobil nya" Delisa mengecup punggung tangan Revano dan di iringi Revano dengan mengecup dahi Delisa.
"Aurel nanti di sekolah nggak boleh nakal ya? Jangan bermain-main terus nanti capek, belajar yang rajin ya sayang." Lanjut Delisa sambil memeluk tubuh kecil Aurel dan mencium kedua pipi gembil nya.
"Okay Mommy,"
Setelah melihat kepergian mobil suami nya dari halaman rumah nya, Delisa kembali masuk ke dalam dan menghampiri Lilis yang sedang bermain Hp di ruang tamu.
"Sudah sayang?" tanya Lilis.
"Hm iya Ma, mereka sudah berangkat."
"Masih capek nggak Del? Apa masih linu semua badan nya?" tanya Lilis lagi.
"Sedikit, hehe."
"Sebenarnya hari ini Mama mau ngajak kamu ke salon, tapi suami mu nggak bolehin kamu pergi kemana-mana ya?"
"Iya Ma, tapi kalau mau Delisa antar, nggak apa-apa kok." ujar Delisa yang tidak enak hati.
"Nggak ah, Mamah nggak mau nanti Vano marah. Lain kali saja, nggak usah di paksain." ujar Lilis sambil mengelus tangan Delisa.
"Iya Ma, maaf ya Ma ..."
"Nggak apa-apa, santai lah ..."
__ADS_1