Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 69


__ADS_3

Di malam hari nya acara sudah selesai, Delisa dan Revano sudah check in kamar hotel VVIP yang akan mereka gunakan untuk satu malam lagi.


Para keluarga sudah berbondong-bondong pulang, begitu pun dengan putri kecil mereka yang sudah tertidur dan di bawa pulang oleh Lilis.


Akan tetapi, Roy dan Citra masih setia menemani Delisa dan Revano disana.


"Del ... Semoga kamu bahagia terus ya sama Pak Bos, nggak nyangka banget ya bisa jadi istri CEO ... kaya raya lagi." ujar Citra sambil memegang tangan Delisa.


"Amin ... Kamu juga sama asisten CEO kan?, bisa saja kamu Cit, haha." goda Delisa yang melihat kedekatan antara Roy dan Citra.


"Haha. Duh gimana ya ..." ucap Citra menggelengkan kepala nya pelan sembari tertawa lepas.


"Nyesel tuh di akhir loh ..." bisik Delisa. Karena Revano sedikit melirik nya.


"Ya iya, mana ada nyesel di awal, ada-ada saja."


Revano mengangkat pergelangan tangan kemudian ia melihat jam tangannya, di rasa waktu sudah sangat malam, Revano segera berpamitan kepada Roy.


"Cukup. Sampai disini saja penjelasanmu. Nanti kita bicarakan lagi, saya dan Delisa pamit dulu, ayo sayang."


"Baik bos."


"Baik Pak,"


Delisa hanya tersenyum kikuk memandangi Roy dan Citra, Delisa menerima uluran tangan Revano dan berjalan menuju lift agar cepat sampai di lantai atas.


"Ayok Cit, kita pulang." ucap Roy memberhentikan keheningan yang melanda.


"Ah iya Roy," sahut Citra sambil tersenyum.


Roy berjalan di belakang Citra, mereka berdua lantaran masih canggung walaupun sudah dekat sekali tetapi rasa nya tetap sama, canggung dan kaku.


***


"Kemarilah, sayang!" seru Revano sambil menepuk kasur di sebelah nya.

__ADS_1


"Ah iya, sebentar Mas. Delisa mau ke kamar mandi dulu." ujar Delisa cengengesan dan berlari kearah kamar mandi dan menutup pintu serta mengunci nya.


Di dalam, Delisa berendam dalam bathup dengan sabun pewangi yang sudah ia masukkan kedalam nya, ia juga menyikat gigi dan berkumur agar tercium harum mint yang menyegarkan, Delisa juga sedikit memoles bibir nya menggunakan liptin perasa manis yang sudah ia pesan dari minggu yang lalu, konon katanya cocok untuk memanjakan suami yang sedang badmood.


Delisa bercermin, ia memutar kan tubuhnya di hadapan kaca yang bertengger besar di dinding.


'Nggak terlalu jelek-jelek juga sih, tepos juga nggak terlalu.' Delisa berbicara dengan sendiri nya dalam pantulan cermin, 'Perfect.'


Tok ... Tok ... Tok ...


"Sayang ..."


Revano mengetuk pintu kamar mandi karena istri nya lama sekali tidak keluar-keluar dari dalam,


"Sebentar Mas." seru Delisa dari dalam dan membuka pintu nya, ia terperanjat karena Revano benar-benar di hadapannya sekarang, sedangkan Revano terkejut melihat Delisa yang cantik dan sedikit sexy, tetapi Delisa hanya mengenakan dress pendek dengan memperlihatkan paha mulus serta gundukkan kedua gunungnya yang sedikit menyembul keluar.


Dengan segera Revano menarik pinggang Delisa dan meletakkan kedua tangan Delisa keatas pundak nya.


Delisa yang cukup peka, mencoba memahami maksud dari sang suami nya melalui tatapan yang Revano berikan, Delisa mengalungkan kedua tangan nya ke belakang leher Revano.


Revano menarik pinggang Delisa lagi agar kedua nya terasa semakin dekat, "Kamu siap sayang? dengan tugas mu malam ini? untuk melayani ku?" tanya Revano serak dengan kilatan tajam gairah di mata nya yang sudah membara.


Delisa hanya menundukkan kepala nya ketika Revano menatap nya, dia hanya mengangguk malu seraya tersenyum manis.


Perlahan wajah mereka berdua semakin dekat, hingga hembusan nafas dari kedua nya dapat mereka rasakan masing-masing, Revano memegang bibir ranum Delisa yang sudah di oles menggunakan liptin, membuat Delisa terlihat semakin sexy di mata Revano.


Revano mengecup bibir Delisa, ia sedikit menggigit bibir bawah Delisa agar istri nya mau membuka mulut nya, dengan begitu lidah Revano bisa berselancar dan menari-nari di dalam nya.


"Hhhmmpptt"


"Eemmtt"


Delisa meringis tetapi ia tetap menurut dan membuka nya perlahan, Revano tersenyum simpul lalu melanjutkan kembali ******* bibir Delisa dengan dalam, harum wangi mint serta manis melekat di lidah Revano.


Tangan satu nya tidak diam, Revano meremas payudara yang cukup padat dan berisi, sangat pas berada di genggaman tangan Revano saat ini, tak lupa Revano juga melucuti pakaian Delisa hingga tubuh Delisa benar-benar polos tanpa sehelai benang.

__ADS_1


Revano yang sudah tak tahan, dengan segera membaringkan istri nya di atas ranjang, Revano menepikan rambut Delisa yang panjang karena sedikit mengusiknya.


Setelah di rasa cukup pas, serta istri nya nyaman dalam kungkungan nya, Revano menciumi leher Delisa dan memberikannya banyak stempel kepemilikan, Revano melakukannya dengan lembut dan hati-hati karena mengingat istri nya baru pertama kali melakukan hal ini.


Tubuh Delisa menegang, Revano dapat merasakannya,


Cup!


"Tenang lah sayang ... rileks jangan tegang," ujar Revano lirih kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya.


Delisa mencoba menikmati serangan dari sang suami, ia terbuai dengan kenikmatan. seluruh tubuh nya menggelenjang seiring bergeraknya tangan Revano ke inci-inci tubuh nya, hingga *******-******* halus meluncur tanpa permisi dari bibir sexy nya, Delisa mencoba menepis perasaan malu nya saat ini, ia menutupi mulut nya menggunakan telapak tangan nya.


"Lepaskan sayang, i like it."


******* halus dan merdu dari bibir istrinya membuat Revano semakin bertambah semangat saja.


Karena cukup untuk pemanasan, Revano mulai membuka seluruh pakaiannya, tak lama ia juga sama dengan sang istrinya, sama-sama polos.


"Mas mulai ya sayang. Biar Mas dulu yang memimpin agar kamu terbiasa, rileks dan nikmatilah." ucap Revano lirih.


"Takut." Cicit Delisa yang baru terdengar.


"Percayalah sayang, sakitnya hanya di awal saja itupun hanya sebentar, selebihnya nikmat."


Akhirnya malam ini mereka mencurahkan rasa cinta nya dalam sebuah aksi dan kenimatan yang tiada tara bagi keduanya.


Suara detak jam dinding dan semilirnya angin yang berhembus kencang pada malam itu menjadi saksi bisu cinta dari kedua insan yang sudah bertaut manis nya bibir serta keringat dari kedua nya.


Entah jam berapa mereka tertidur, karena Revano tak henti-henti nya mencumbui Delisa lagi dan lagi hingga kedua nya sama-sama lelah.


Mereka berdua masih sama-sama terlelap dalam hangat nya selimut untuk menutupi tubuh polos dari kedua nya, dengan keadaan saling memeluk satu sama lain.


Suara alarm handphone pun mereka berdua abaikan karena lelah nya bertempur semalaman.


Delisa terbangun, ia merasakan perut nya sedikit berat, ternyata tangan kekar Revano sedang bertumpu diatasnya sambil memeluknya dari samping.

__ADS_1


Delisa berbalik badan dan menatap manik-manik Revano yang masih damai dalam tidur nya ditambah dengkuran nafas yang halus membuat Delisa tersenyum mengingat kejadian semalam.


__ADS_2