
🍁🍁🍁
Perjalanan turun tidak seperti saat mendaki kemarin. Bila saat naik, di butuhkan waktu hampir seharian untuk Kaila, namun saat turun kini sangat cepat, dalma kurun waktu kurang dari tiga jam, Kaila sudah tiba di post satu dan sudah tidak sabar untuk pulang.
“Gue gak kuat hiks hiks hiks,” ucap Kaila masih menangis, namun kini gadis itu berjongkok di samping sebuah pohon saat merasakan kaki nya sudah tak mampu lagi untuk berjalan.
“Mau istirahat dulu?” tanya Fa’az seraya memberikan Kaila minum.
Dengan cepat, gadis itu langsung meraih botol minuman Fa’az dengan cukup kasar, karena ia juga merasa sangat kehausan. Hampir tiga jam dirinya tidak meminum apapun. Bukan hanya tiga jam, bahkan sejak semalam dirinya tertidur hingga turun sampai bawah belum minum atau makan apapun.
Hebat? Itulah yang di namakan the power of kepepet. Karena terpaksa, jadilah semua begitu mudah di lakukan tanpa kesadaran.
“Gatel banget hiks hiks hiks,” rintih Kaila langsung membuka resleting jaket nya, dan benar saja bagian leher serta dada Kaila sudah terlihat sangat memerah bahkan sampai tumbuh bentol bentol yang cukup parah.
__ADS_1
Fa’az sendiri tidak menyangka bila yang di alami Kaila bisa separah itu.
“Tolongin gue, Fa’az hiks hiks gatel, hiks hiks.”
“Kita ke rumah sakit, karena kalau langsung balik ke Asrama, kelamaan,” ucap Fa’az dengan cepat dan langsung memindahkan tas punggung nya di depan dan siap berjongkok untuk menggendong Kaila.
“Lo mau ngapain?” tanya Kaila dengan bodoh nya.
“Buruan naik! Kita harus ke rumah sakit sekarang!” ucap Fa’az berdecak, dan karena Kaila sudah tidak tahan oleh rasa gatal yang ia rasakan, akhirnya ia menurut dan langsung naik ke punggung Fa’az.
“Jangan sampai aku lempar kamu ke jurang itu,” ucap Fa’az dengan datar sambil menunjuk ke arah sungai yang cukup deras ketika mereka melewati jembatan.
“Kalau lo mau masuk penjara atau di cincang sama papaku, ya udah. Gih lempar aku ke sana, lagian aku juga capek disini, siapa tahu nanti kalau aku di lempar terus aku cepet pulang ke Jakarta, dan—“
“Bisa diem gak sih!” seru Fa’az yang merasakan kuping nya semakin panas lantaran mendengarkan ocehan Kaila,”Lagi keadaan kaya gini bisa bisanya kamu ngajak ribut!”
__ADS_1
“Gue diem, tapi elo yang ngajak gue ngobrol terus. Padahal kan gue lagi nangis tadi,” kata Kaila dengan ketus.
Fa’az hanya mampu menghela napas nya pasrah, ia diam dan fokus pada jalanan yang ia lewati. Hingga setelah beberapa menit, kini mereka sudah sampai di tempat parkir, dimana ada sebuah mobil yang tadi ia bawah. Namun, ia tidak mungkin membawa mobil nya, karena kasihan pada Kiano dan yang lain nya.
Fa’az pun akhirnya menitipkan kunci mobil ke tempat penitipan. Sedangkan ia akan membawa motor milik Kiano. Beruntung, tadi saat ia mengambil kunci mobil, bertepatan ada kunci Kiano juga tergeletak di sana dan terbawa oleh nya. Jadilah ia tidak terlalu bingung akan pulang dengan apa.
“Ayo,” ajak Fa’az setelah mengeluarkan motor milik Kiano.
“Kenapa pakai motor, tadi kan kita bawa mobil?” tanya Kaila tanpa berpikir panjang.
“Kita Cuma berdua, mereka berenam. Gak mungkin kita yang berdua pakai mobil sementara mereka berenam bawa satu motor,” jawab Fa’az masih mencoba untuk sabar saat memberikan penjelasan kepada Kaila.
“Modus, bilang aja lo mau gue peluk peluk kaya kemarin,” cetus Kaila dengan sedikit kesal, lalu menaiki motor dengan terpaksa.
“Kalau kamu bukan saudara Kiano, sudah ku pastikan aku melempar mu sejak tadi!” gumam Fa’az geram, lalu dengan cepat ia melajukan motor nya dengan kecepatan cukup tinggi untuk mencari rumah sakit terdekat.
__ADS_1
...~To be continue .......