Fate Story

Fate Story
Meminta penjelasan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Kenapa kalian bisa tau aku dan Kaila disini?" tanya Faaz dengan ekspresi wajah datar nya.


Kini, dia masih berada di kamar Hotel bersama dengan tiga sahabat nya. Ia tidak menyangka bahwa akan di grebek oleh para sahabat nya di Hotel, tak hanya sahabat nya, namun juga ayah dari kekasih nya.


Padahal, ia belum melanjutkan rencana nya dengan mengirimkan video sembilan belas detik yang ia buat dengan Kaila tadi.


"Lo apain adek gue sampai gak bisa jalan kaya gitu?" tanya Kiano tanpa menjawab pertanyaan Faaz, kini ia masih merasa sangat marah dan emosi kepada Faaz.


Rasanya ia ingin menghajar laki laki itu lagi. Namun, kedua sahabat nya sejak tadi terus memegangi nya agar tidak lepas kendali. Lagipula, kini wajah Kiano dan juga Faaz sudah tak berbentuk lagi. Keduanya babak belur dengan luka lebam dan sobek di bibir nya.


"Aku tidak melakukan apapun!" jawab Faaz datar.


"Bangsatt! lo pikir gue percaya, hah!" seru Kiano semakin marah.

__ADS_1


"Percaya atau tidak, itu terserah padamu. Aku tidak memaksa untuk kau percaya padaku!" jawab Faaz santai, sehingga membuat Kiano semakin murka dan hendak menghajar nya lagi.


"No, udah No. Tenang dulu!" ujar Victor semakin berusaha menahan Kiano.


"Apa Kaila serendah itu sampai kau tidak mempercayai nya?" tanya Faaz datar dan menatap Kiano tajam, "Dia saudara kembar mu, adik mu. Apa kau pikir dia akan menyerahkan mahkota nya padaku sekarang?" imbuh nya dengan mata memicing sinis.


"Meskipun pada akhirnya, aku juga yang akan mendapatkan mahkota itu. Tapi aku cukup waras dan paham, kapan aku bisa mengambil mahkota itu." imbuh nya, seketika membuat Kiano langsung terdiam dan berhenti memberontak.


"Dia itu bucin kalau sudah jatuh cinta!" cetus Kiano memejamkan mata nya dengan berat dan menghembuskan napas kasar.


"Dan juga, meskipun aku mencintai Kaila, aku tidak akan merusak nya!" imbuh Faaz ikut menghela napas berat.


"Gue percaya sama Faaz, No. Tapi, yang gue bingung, kenapa lo harus ke sini sama Kaila? Bibir Kaila sampai bengkak, dia pakai hoodie lo, dan gue yakin itu hoodie hanya sebuah alibi. Cara jalan kalian juga berbeda. Bagaimana orang tidak akan berprasangka buruk sama kalian berdua!" tanya Vito mengerutkan dahi nya menatap Faaz.


"Ah itu... " Faaz nampak bingung bagaimana akan menjelaskan, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia baru saja membuat sebuah karya pendek berdurasi sembilan belas detik untuk menjadikan alat agar mendapatkan restu dari mama nya.

__ADS_1


Kiano pasti akan kembali menghajar nya, batin Faaz bingung.


"Aku gak tau kenapa bisa mengajak nya kesini," jawab Faaz datar, "Tadi kita sempat bertengkar, dan aku marah makanya aku bawa dia kesini untuk berbicara empat mata."


"Bicara empat mata, tidak harus ke hotel!" saut Kiano dengan cepat dan mendengus.


"Aku tau!" jawab Faaz kini menatap Kiano, "Tapi semua berjalan begitu saja." imbuh nya pelan.


"Untuk Bibir Kaila yang bengkak. Tadi dia jatuh, kakinya terkilir dan bibir nya ciuman dengan ujung meja, maka nya bengkak dan berdarah! Dan aku? kalian tanya aku kenapa?" tanya Faaz menatap ketiga sahabat nya, "Apakah senjata kalian pernah mendapatkan tendangan bebas? bagaimana rasanya?"


Glek!


Faaz menatap ketika sahabatnya dengan wajah datar namun seperti menahan sesuatu, membuat ketiga laki laki di depan nya spontan menelan saliva nya dan memegang senjata masing masing. Membayangkan tendangan bebas yang di katakan oleh Faaz, Tentu saja, mereka para laki laki sangat paham akan rasanya.


...~To be continue......

__ADS_1


__ADS_2