Fate Story

Fate Story
Mencuci piring


__ADS_3


💕💕💕


“Udah biar aku aja!” ucap Kaila memaksa mendorong tubuh Fa’az hingga laki laki itu mau tak mau mengalah.


“Uda kamu ke depan aja. Biar gue yang nyuci piring, gue gak mau di katain gak tau diri sama lo ntar!” cetus Kaila mendengus dan mengusir Fa’az, namun laki laki itu menolak untuk pergi.


“Lo gak percaya sama gue?” tanya Kaila menatap Fa’az dengan intens.


“Enggak!” jawab Fa’az dengan cepat namun masih dengan ekspresi wajah datar nya.


“Sialan, gue serius Fa’az. Udah buruan sana, percayakan sama gue, gue bisa!” seru Kaila langsung menarik tangan Fa’az dan membawa nya ke ruang tamu, atau kamar Fa’az.


Tidak ada ruang tamu atau kamar, karena itu sama hanya satu ruangan yang sedikit lebih besar dari kamar Kaila, dan satu ruangan lagi di belakang sebagai dapur dan kamar mandi. Sementara kamar Kaila langsung menyatu dengan kamar mandi yang berukuran kecil.


Menghela napas kasar, akhirnya Fa’az mengalah dan memilih keluar dari dapur. Fa’az memilih untuk duduk di sebuah Bean bag atau bantal duduk yang sering ia gunakan untuk membaca buku atau belajar. Ia membuka ponsel nya untuk menghubungi Kiano sudah sampai mana.

__ADS_1


Sementara itu, Kaila yang sudah melihat Fa’az pergi, ia justru kini terlihat bingung sambil menatap cucian piring di depan nya. Mengambil sponge dan meremas nya, ia mencoba untuk mengambil piring untuk ia cuci, namun ternyata sangat licin dan ia begitu kesulitan.


‘Perasaan tadi Fa’az gampang banget deh,” gumam Kaila dalam hati dan masih tidak menyerah.


Tuuttt .... Tuttt ...


‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat—“


Hanya suara operator yang menjawab panggilan telfon Fa’az kepada Kiano. Fa’az sudah menduga, bila sebelumnya Kiano mengatakan di sana terjadi hujan deras, pasti saat ini jembatan di tutup lantaran banjir. Fa’az hanya bisa menghela napas nya dengan berat, karena disini juga sama terjadi hujan yang cukup deras.


Bulan bulan menjelang akhir tahun memang kerap terjadi hujan dan banjir dimana mana.


“Astaga!" gumam Fa’az mengusap wajah nya dengan kasar, ketika melihat Kaila tengah berdiri dengan kepala menunduk dan mengangkat kedua tangan nya di sebatas bahu dengan di penuhi oleh busa.


Mata Fa’az beralih menatap Kaila yang bergerak gerak gelisah dan terdapat bercak darah juga di bawah telapak kaki Kaila.


“Maaf,” cicit Kaila begitu lirih, persis seperti anak kecil yang habis ketahuan mencuri dan ketakutan.

__ADS_1


“Jangan bergerak!” seru Fa’az menahan Kaila agar tidak bergerak atau kaki nya akan semakin terluka.


Dengan perlahan, Fa’az berjalan menghampiri Kaila dan menggendong nya ala bridal style, lalu merebahkan nya di atas tempat tidur.


“Tangan ku masih ada busa nya,” kata Kaila polos dan memanyunkan bibir nya seraya menunjukkan kedua tangan nya yang masih penuh dengan busa.


Marah, kesal dan geram bercampur menjadi satu di benak Fa’az. Namun entah mengapa ia tidak bisa membenci Kaila. Justru ia merasa begitu gemas sampai ingin mencubit dada nya.


“Diem dulu,” ucap Fa’az lalu ia segera beranjak dan mengambil kotak obat serta beberapa tisu basah dan kering untuk mengelap tangan Kaila yang masih berbusa.


Dengan perlahan dan penuh perhatian, Fa’az membantu Kaila membersihkan tangan nya dari busa terlebih dulu. Lalu ia juga membersihkan darah di kaki Kaila yang terkena pecahan piring dengan sangat hati hati.


“Auuww, perihhh!” pekik Kaila langsung menjambak rambut Fa’az ketika kaki nya sedang di obati.


“Kepala ku sakit Kai!” seru Fa’az berusaha melepaskan tangan Kaila dari rambut nya.


“Tapi ini aku juga sakittt ... “ rengek nya meringis menahan sakit, hingga membuat Fa’az tidak tega melihat nya.

__ADS_1


...~To be continue ... ...


__ADS_2