
...~Happy Reading~...
Jam baru menunjuk ke arah jarum tiga pagi. Ponsel di atas meja samping tempat tidur Faaz sudah berdering berulang kali.
Dengan mata yang masih mengantuk, ia pun meraba meja untuk mengambil ponsel nya. Untuk sesaat, ia sempat mengerutkan dahi nya menatap nama yang tertera di layar ponsel nya.
"Faiz, ada apa?" gumam nya pelan, lalu ia segera menjawab panggilan telfon itu.
"Faaz sialan, lama banget sih lo angkat nya!" seru Faiz dari ujung seberang sana langsung menyaut tanpa memberikan kesempatan untuk Faaz menjawab.
"Faaz lo tidur lagi?" seru nya lagi, dan Faaz hanya mampu menghela napas nya dengan berat.
"Ada apa sih?" tanya Faaz pelan, ia masih cukup mengantuk dan masih menguap.
"Kaila sudah jalan ke bandara. Pesawat nya berangkat jam empat lima belas."
Deg!
__ADS_1
Seketika itu juga, mata Faaz langsung terbuka dengan sempurna. Seolah rasa kantuk nya hilang begitu saja.
"Kamu serius?" tanya Faaz menyakinkan.
"Astaga yakin banget gue. Makanya gue telfonan elo dari tadi, sialan banget emang dasar laki laki ya susah banget kalau di bangunin. Dari tadi—"
Tanpa pikir panjang, Faaz langsung mematikan sambungan telfon secara sepihak. Ia begitu malas mendengarkan ocehan Faiz yang tidak akan ada habis nya. Jadilah, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajah nya.
Faaz meraih jaket dan ponsel nya. Bahkan ia tidak perduli bahwa kini ia hanya mengenakan celana jeans pendek. Ia tidak sempat bila harus berganti pakaian terlebih dulu.
Menuruni tangga, ia berlari menuju sebuah lemari tempat penyimpanan kunci kunci kendaraan. Saat ini, ia masih berada di rumah Opa dan Oma nya. Ia terpaksa menggunakan motor milik om nya agar lebih mempermudah dirinya menuju bandara.
"Oma, Faaz mau ke bandara. Kaila mau pergi sebentar lagi. Faaz jalan duluan ya Oma." pamit nya segera mencium punggung tangan Oma nya.
"Eh tapi ini masih pagi, astaga Faaz!" seru oma Crystal yang tidak di hiraukan oleh Faaz.
Laki laki remaja itu sudah mengeluarkan motor nya dan bergegas pergi menuju bandara agar bisa bertemu dengan Kaila.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat yang berbeda, kini Kaila dan kedua orang tua nya sudah tiba di Bandara. Nampak wajah gadis itu terlihat begitu ragu, namun ia juga tidak bisa menolak atau mundur.
"Sayang, ayo," ajak mama Kiara langsung menggandeng tangan putri nya.
"Ma, haruskah Kaila ke sana?" tanya Kaila dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Sayang, kemarin kita sudah membahas nya." ujar mama Kiara menghela napas berat, "Mama gak mau, kamu nanti lebih sakit hati lagi. Percaya sama Mama. Kalau memang kamu dan Faaz berjodoh, sejauh apapun jarak di antara kalian, dan selama apapun waktu memisahkan. Kalau Tuhan sudah mentakdirkan kalian bersama, maka kalian akan kembali bersama. Tapi jika ternyata kalian tidak bisa bersama lagi, itu berati—"
"Faaz memang bukan untuk Kaila," sambung Kaila begitu lirih seraya menundukkan kepala nya sedih.
Air mata nya kembali mengalir membasahi pipi nya. Dada nya terasa begitu sesak, ia masih ingat dengan jelas bagaimana kata kata yang di ucapkan oleh mama nya Faaz yang tak lain adalah tante Michele.
Meskipun tante Michele tidak mengatakan secara gamblang bahwa ia menolak Kaila. Namun, kemarin pagi tante Michele menemui tante Nisa dan mengatakan bahwa pernikahan Faaz dan Erish akan segera di laksanakan.
Tante Michele mengatakan, dia tidak akan membiarkan Faaz membatalkan pernikahan itu, dan dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Erish. Tante Michele juga mengatakan, bahwa dia yang akan menjauhkan bibit bibit pelakor yang akan menghancurkan hubungan Faaz dan Erish.
Tentu saja, Kaila langsung merasa tersindir. Dan tanpa harus di jelaskan, ia sudah mengerti akan status nya
__ADS_1
'Bubu, aku mencintai mu. Dan aku harap, kamu bisa bahagia. entah dengan siapapun nanti.' gumam Kaila dalam hati.
...~To be continue......