
🍁🍁🍁
Kaila menatap kosong pada sebuah lorong rumah sakit yang ia datangi bersama Fa’az. Ia tidak menyangka bisa berada di tempat yang sangat jauh dari keluarga nya, sedang sakit dan harus ke rumah sakit sekecil itu. Bukan, itu bukan rumah sakit namun sebuah klinik. Padahal, keluarga nya memiliki rumah sakit, namun dirinya harus di larikan ke klinik.
“Nyokap gue kenapa jahat banget sih, hiks hiks hiks. Gue di buang sejuah ini, bahkan gue miskin banget sekarang,” gumam Kaila seraya menahan isak tangis nya.
Dada nya begitu sakit, sesak dan perih. Membayangkan kehidupan nya yang saat ini sangat jauh dari yang ia jalani sebelum nya. Tentu saja ia sangat merindukan keluarga nya, termasuk semua fasilitas nya tentu saja.
Sementara itu, Fa’az yang baru saja menebus obat untuk kaila, sempat mendengar curhatan hati Kaila merasa sedikit tidak tega. Ia tidak berniat menimpali atau ikut campur, sedikit banyak ia sudah tahu apa dan mengapa gadis itu bisa berada di Jogja seperti saat ini.
“Kita cari sarapan dulu, habis itu kamu harus minum obat. Baru kita kembali ke Asrama,” ucap Fa’az mengulurkan tangan nya mengajak Kaila untuk bangkit.
__ADS_1
“Hiks hiks hiks, kaki gue lemes banget Fa’az, gue pengen nangis, pengen nangis. Bahkan gue pengen nangis huaaaa.” Tangis Kaila langsung pecah, gadis itu langsung menutup wajah nya dengan tangan dan mengangkat kedua kaki nya untuk ia naikkan ke kursi ruang tunggu.
Tentu saja perlakuan Kaila langsung menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung klinik. Banyak bisik bisik yang masuk ke telinga Kaila dan Fa’az, yang mengira bahwa gadis itu menangis lantaran mengalami musibah di luar dugaan. Namun gadis itu memilih abai dan fokus pada isak tangis nya.
‘Beginilah kalau anak muda terlalu di umbar,’
‘Iya kasihan sama orang tuanya. Pasti mereka lagi bingung, bagaimana bilang kepada orang tuanya.’
“Yah, namanya juga akhir jaman Bu, lebih baik kita jaga anak anak kita dengan baik saja. Jangan samapi kejadian kaya gini.’
‘Iya Bu, aduh saya tidak bisa bayangin gimana nasib orang tua mereka kalau tahu anak nya berbuat zina sampai hamil begini, astagfirullah.’
Dan saat itu juga, tangis Kaila semakin pecah, ketika dimana dirinya malah di tuduh hamil di luar nikah. Bagaimana bisa dirinya hamil, sementara merasakan ciuman saja dirinya belum pernah.
__ADS_1
Ingin rasanya Kaila marah dan berteriak kepada sekumpulan emak emak pengangguran yang sibuk meng ghibah orang lain itu. Namun tubuh nya memang benar benar lemah dan ia tidak berselera membuat keributan saat ini.
Sementara itu, Fa’az yang juga merasakan panas pada daun telinga nya karena mendengar gibahan emak emak tersebut, akhirnya memilih langsung mengangkat tubuh Kaila ala bridal style dan mengajak nya keluar dari klinik.
‘Tapi itu cowok nya pengertian loh Bu ibu, romantis.’
“Iya Bu, tapi tetap saja bajingan. Bagaimana bisa mereka melakukan itu di luar pernikahan, sungguh miris.’
Begitu sampai di parkiran, Fa’az langsung mendudukkan tubuh Kaila di atas motor, “Huaaa mulut mereka jahat banget sih! Masa badan kerempeng kaya gue bisa di tuduh hamil! Mata mereka buta apa gimana sih? Gak tahu ini muka gue udah kaya apa, merah semua! Emang emak emak gak ada otak!” teriak Kaila di sela isak tangis nya.
“Sudahlah, gak penting mikirin mereka. Sekarang kita pergi, itu jalan terbaik.” Ucap Fa’az mengusap wajahnya dengan cukup kasar, lalu ia segera menyalakan mesin motor dan mencari tempat yang bisa ia jadikan tempat singgah untuk mengisi perut.
...~To be continue .......
__ADS_1