
...~Happy Reading~...
Hari berganti minggu dan bulan dengan begitu cepat. Tanpa terasa, tiga bulan sudah Kaila pergi meninggalkan kekasih dan para sahabat nya. Dan hingga saat ini, belum ada yang bisa berhubungan dengan Kaila.
Papa Kaisar benar benar menyita semua gedget milik Kaila dan membatasi semua akses nya. Bahkan, Kiano pun tidak bisa menghubungi Kaila secara pribadi. Pasti ia akan menghubungi lewat ponsel mama nya baru di berikan kepada Kaila.
"Anjirr banget deh itu si Kaila. Gara gara dia, kita disini. Dan sekarang dia pindah, kita di tinggal. Udah kaya kucing beranak gak sih dia, pindah sana sini," keluh Bella menghela napas nya dengan kasar.
Saat ini, mereka tengah berkumpul di taman kampus bersama dengan yang lain nya.
Sejak kepergian Kaila, Faaz kembali menjadi laki laki dingin dan semakin tak tersentuh.
Bila dulu, sebelum ada Kaila. Faaz sudah dingin, namun ia masih sesekali mau di ajak bercanda dengan Kiano atau yang lain. Namun berbeda dengan sekarang, sejak kepergian Kaila. Senyum di wajah Faaz seolah benar benar lenyap.
Bahkan, ia masih mendiamkan sang mama selama. beberapa bulan ini. Ia tidak pernah lagi meminta uang kepada orang tua nya. Karena uang jajan nya kini di berikan oleh sang kakek.
Sudah tiga bulan ini juga, Faaz tidak pulang ke rumah nya. Bila pulang ke Jakarta, ia akan pulang ke rumah kakek nya. Itu ia lakukan sebagai tanda protes karena ia sudah benar benar lelah dengan sikap sang mama yang terus menerus memaksa nya.
__ADS_1
"Sudahlah, semangat. Tinggal satu tahun lagi loh Setelah itu kita pulang ke Jakarta!" balas Salsa bersemangat.
"Iya sih, oh ya No. Bagaimana dengan Kaila? Dia belum megang HP sendiri?" tanya Fayya kini menatap pada laki laki yang memiliki wajah hampir mirip dengan Kaila.
"Bulan depan, Papa sama Mama pulang ke Indo. Dan aku rasa saat itu HP Kaila baru di kasih," jawab Kiano seraya menghela napas nya berat. Terlebih ketika ia melihat Faaz yang selalu menghabiskan waktu dengan buku.
Bahkan, saat sedang berkumpul, laki laki itu memilih memasang earphone dan membaca buku, di banding ikut bercanda dan bercengkrama bersama mereka.
Kiano tahu, bahwa Faaz sedang menjaga diri. Ia ikut menghukum dirinya karena Kaila di sana juga tidak bisa bebas. Bahkan, beberapa hari yang lalu, Kiano menelfon Kaila dan gadis itu bercerita bahwa ia tidak bisa berteman dengan siapapun.
Begitupun dengan Faaz yang tak kalah menyesal. Usaha nya sia sia, karena keegoisan sang mama tidak bisa ia runtuh kan.
Drttt... Drttt...
Suara getaran ponsel seseorang, seketika membuat perhatian semuanya teralihkan. Yang ternyata adalah ponsel Victor.
"Halo," jawab Victor sedikit mengerutkan dahi nya.
__ADS_1
"Apa! kok bisa!" pekik Victor langsung berdiri dengan napas yang memburu hebat, "Iya Bun, bunda tenang dulu. Victor langsung pulang sekarang. Bunda jangan nangis!" kata nya lagi begitu panik.
"Ada apa Vic?" tanya Vito saat melihat Victor sudah memutus sambungan telfon, laki laki remaja itu segera mengemasi buku buku nya dan bergegas untuk pergi.
"Vic, ada apa?" tanya Kiano dan Faaz bersamaan.
"Ayah ku—" belum sempat berkata, air mata laki laki itu sudah menetes membasahi pipi nya. Ia sudah tidak perduli dengan rasa malu karena sudah menangis sebagai laki laki. Karena memang hati Victor selembut sang kakak. Dia mudah menangis, "Ayah ku masuk rumah sakit."
"Hah! Kenapa?" tanya Kiano langsung membulatkan mata nya.
"Serangan jantung, aku harus pulang sekarang!" ucap Victor dan segera berlari menuju tempat parkir.
"Victor tunggu!" pekik Faaz dan tanpa pikir panjang, semua nya ikut berlari menyusul Victor.
Dan pada akhirnya, Victor, Faaz dan Vito pulang ke Jakarta. Sedangkan Kiano, ia tidak bisa meninggalkan kuliah karena ia masih dalam hukuman sang ayah. Ia tidak mungkin membuat ayah nya kembali marah pada nya. Jadi ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk orang tua sahabat nya.
...~To be continue... ...
__ADS_1