
...~Happy Reading~...
Tok ... Tok ... Tok ...
“Faaz, buka pintu nya Nak,” ujar mama Michele saat mengetuk pintu ruang perawatan putra nya.
“Faaz kenapa kamu mengunci pintu nya? Faaz!” teriak nya lagi namun pemuda itu masih terlihat enggan membuka pintu.
Tadi Michele hanya tinggal sebentar untuk menemui dokter. Karena dokter menyarankan agar Faaz di datangkan psikiater atau psikolog. Maka dari itu, saat Michele melihat putra nya tengah tertidur, ia tinggal sebentar untuk konsultasi dengan dokter.
Namun, siapa sangka, saat ia kembali ke ruang perawatan putra nya, ternyata Faaz kembali mengunci pintu nya.
Saat ini, Faaz masih berada di rumah sakit. Namun, sudah satu minggu ini, ia hanya berdiam diri di dalam ruangan nya. Ia sama sekali tidak membuka suara, bahkan makan atau minum pun tidak. Faaz hanya mendapatkan asupan makanan dari selang infus yang bertengger di tangannya.
Karena merasa sangat cemas dan khawatir, akhirnya Michele langsung menghubungi suaminya yang sudah mulai bekerja di kantor. Setelah beberapa hari ini, Aldi bolos masuk kantor karena menunggu putra nya.
“Mas, Faaz mengunci pintu lagi,” ucap Michele segera menghubungi suami nya.
“Kamu kemana?” tanya Aldi sedikit menghela napas nya berat.
“Ta—tadi aku ketemu dokter sebentar. Gak lama, karena Faaz tidur. Makanya ku tinggal hanya sebentar gak ada setengah jam.” Kata Michele panik.
__ADS_1
“Sudah minta bantuan?” tanya Aldi terdengar seperti sedang berjalan tergesa.
“Sudah, tapi belum datang.” Jawab Michele terdengar begitu panik.
“Aku ke sana sekarang!” ucap Aldi dari seberang sana, dan segera bergegas menuju rumah sakit.
Sebenarnya, luka di tubuh Faaz tidak terlalu parah. Laki laki itu sudah bisa pergi ke pemakaman kekasih nya. Hanya saja, saat usai pemakaman, ia terserempet mobil hingga mengakibatkan ia kembali mendapatkan luka.
Niat awal Faaz ingin bunuh diri dengan menabrakkan diri nya di jalan raya dekat pemakaman, hanya saja Kiano melihat dan menggagalkan nya. Namun, setelah dua hari di rawat, Faaz kembali berusaha melanjutkan niat awal nya.
Faaz mengunci diri di ruangan nya dan hendak melukai dirinya sendiri dengan pisau buah yang berada di dalam kamar nya. Dan sejak saat itu, Michele dan Aldi membuang semua benda tajam yang berada di sana.
“Kamu cantik,” gumam nya pelan dengan senyuman tipis di wajah nya.
“Benarkah?” tanya gadis itu dengan wajah tersipu malu.
“Aku sangat merindukan mu,” ujar Faaz lagi, lalu ia turun dari brankar nya dan menghampiri gadis tersebut.
“Aku lebih lebih lebih merindukan mu,” jawab nya terkekeh pelan.
“Maaf sudah menyakiti kamu,” tutur Faaz lagi, namun dengan cepat gadis itu menggelengkan kepala nya, “Kamu—“
__ADS_1
“Aku tidak pernah tersakiti, aku bahagia. Sangat bahagia,” jawab gadis itu dengan cepat, “Aku sangat bahagia karena sudah mendapatkan cinta luar biasa dari kamu.”
“Mumu ... “
“Bu ... terkadang apa yang kita harapkan, tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan. Tapi percayalah, asal kita selalu bersama, kita akan bahagia.” Ujar gadis itu kembali tersenyum ceria.
“Iya, kamu benar. Kita harus selalu bersama agar kita bahagia,” balas Faaz semakin mendekatkan dirinya dengan sang kekasih.
“Do you love me?” tanya gadis itu mendongakkan kepala nya menatap Faaz.
“Tentu saja! Aku sangat mencintai kamu, dan aku pastikan bahwa tidka akan ada wanita lain di hidup aku selain kamu,” ujar Faaz dengan cepat hingga membuat gadis itu kembali tersenyum.
“Promise!” kata gadis itu mengulurkan jari kelingking nya ke arah wajah Faaz.
“Promise,” balas Faaz dengan cepat menyatukan jarinya.
Brakkk!
“Faaz!” pekik Michele saat sudah berhasil membuka pintu.
...~To be continue .......
__ADS_1