Fate Story

Fate Story
Satu berdua


__ADS_3


🍁🍁🍁🍁


Setelah beberapa saat, kini mobil yang di tumpangi enam anak muda itu sudah tiba di tempat yang di tunjuk oleh salah satu warga di sana. Ternyata penginapan itu tidak begitu besar dan yah, sudah ada beberapa yang mengisinya hanya tersisa tiga kamar saja. Dengan maximal penghuni dua orang per kamar.


“Jadi gimana?” tanya Victor seraya memegang tiga buah kunci kamar.


Semuanya terdiam, sibuk dengan pikiran nya masing masing. Tentu saja Salsa dan Bella yang memang sudah bersahabat sejak lama, akan memilih untuk satu kamar. Sementara Victor dan Vito yang memang saudara jauh, sejak kecil selalu bersama juga akan memilih untuk satu kamar berdua.


“Kayaknya, kalau Fayya yang sama lo gapapa deh No. Gue percaya, lo gak bakal ngapa- ngapain Fayya. Secara adek lo cewek, pasti lo bisa jaga diri, karena lo tahu sendiri konon katanya, apa yang kita perbuat kelak akan berimbas pada saudara, atau anak kita. Jadi—“


“Tidak perlu di perjelas!” ucap Kiano dengan cepat memotong ucapan Salsa yang langsung menyengir kuda.


“Hehehe, gapapa ya Fay, gue sama Bella,” kata Salsa lagi menatap ke arah Fayya.

__ADS_1


“Gapapa kok,” jawab Fayya sedikit tersenyum kikuk.


“Ya udah yok, masuk ke kamar masing masing, gue mau tidur, sumpah capek banget!” keluh Vito mengajak Victor untuk memasuki kamar nya.


Begitu pun dengan Salsa dan Bella yang juga berangsur pamit untuk menuju kamar nya. Dan kini, tinggallah Kiano juga Fayya yang sedang di landa kecanggungan.


“Ayo,” ajak Kiano yang tanpa sadar langsung menggenggam tangan Fayya dan mengajak nya untuk masuk ke dalam kamar.


Merasa tangan nya di genggam oleh Kiano, membuat jantung Fayya seketika langsung berdetak dengan begitu cepat. Namun, ia berusaha untuk menetralkan degup jantung itu, meskipun sulit, dengan menarik napas sedalam yang ia bisa dan hembuskan perlahan. Itu Fayya lakukan berulang hingga saat sudah tiba di kamar.


“Kamu yakin mau tidur di lantai?” tanya Fayya mengerutkan dahi nya, saat ini cuaca sedang teramat dingin. Mana mungkin Fayya membiarkan Kiano kedinginan dengan tidur di lantai.


“Lalu kamu mau aku tidur dimana?” tanya Kiano langsung menatap Fayya hingga membuat gadis itu ter gugup dan langsung memalingkan wajah nya.


Ingin rasanya Fayya mengatakan dan menyuruh Kiano agar tidur di tempat tidur, namun ia begitu gengsi dan takut bila dirinya di cap sebagai gadis murahan atau gadis penggoda.

__ADS_1


“Ayo istirahat,” kata Kiano dengan tersenyum tipis, mengajak Fayya untuk merebahkan diri di tempat tidur.


Tempat tidur dengan ukuran queen size yang memang sangat pas untuk ukuran dua orang. Membuat keduanya di landa kecanggungan. Namun, Kiano begitu pandai menutupi rasa canggung nya, seperti biasa wajah nya selalu datar dan terkesan dingin.


“Kiano,” panggil Fayya membuka suara, kini keduanya sudah berada di atas tempat tidur dan di bawah selimut yang sama. Dengan posisi terlentang, keduanya sama sama menatap langit langit kamar.


“Iya?” jawab Kiano tanpa menatap sang empunya.


“Kamu tadi belum jawab soal Kaila. Apakah ada sesuatu yang—“


Kiano langsung menghela napas nya dengan berat. Ia enggan untuk bercerita, namun sepertinya ia memang membutuhkan teman cerita untuk mencurahkan segala kegundahan nya selama ini. Rasa bersalah yang terus menghantui benak dan pikiran nya hingga saat ini.


“Kalau kamu gak mau cerita gapapa kok. Aku gak maksa,” imbuh Fayya, ia tidak ingin memaksa Kiano, meskipun sebenarnya ia sangat penasaran.


...~To be continue ..... ...

__ADS_1


__ADS_2