
...~Happy Reading~...
Hari berganti dengan hari, kini Kaila sudha di perblehkan untuk pulang ke Asrama. Awalnya, Kiara ingin membawa kaila kembali pulang ke Jakarta, namun Kaila menolak karena ia udah terlalu lama libur kuliah.
“Ma, ada Kiano disini,” rengek Kaila dengan penuh permohonan.
“Kiano sibuk Sayang. Mama gak bisa percayain kamu sama dia lagi. Pokoknya sekarang kita pulang ke Jakarta, setelah keadaan kamu benarbenar pulih, mama baru akan membiarkan kamu ke Jogja lagi.” Kata mama Kiara dengan tegas.
“Papa ... “ rengek gadis itu kini menatap sang ayah.
“Sayang, mama kamu benar. Kita pulang dulu ke Jakarta, papa juga khawatir sama kamu,” ucap papa Kaisar menghela napas nya berat.
Sementara itu, di tempat yang berbeda namun masih di kota yang sama. Michele juga datang mendatangi putra nya, karena sudah nekat pergi dan ternyata hanya ingin menemui kekasih nya.
“Kenapa kamu gak bisa ngertiin mama sih Az, hah!” tanya Michele pelan namun penuh penekanan.
“Masih kurang mengerti gimana, Faaz sama mama? Apa selama ini Faaz masih kurang jadi anak baik untuk mama?” kata Faaz balik bertanya.
__ADS_1
“Faaz gak suka ilmu kedokteran, tapi mama maksa Faaz untuk masuk kuliah kedokteran. Faaz tetap ambil karena tidak mau buat mama sedih. Faaz sudah menuruti semua permintaan mama, tapi kenapa hanya satu permintaan yang faaz minta, tidak mama berikan? Kenapa ma?” seru Faaz begitu frustasi.
“Jadi kamu terpaksa menuruti semua kemauan mama? Hiks hiks hiks?”
“Jangan menangis Ma.” Gumam Faaz selalu lemah bila melihat air mata dari mama nya.
“Baiklah, silahkan kamu teruskan hubungan kalian. Mmaa tidak akan melarang lagi, mama tidak apa bila harus kehilangan sahabat baik mama, silahkan.” Ucap Michele menahan isak tangis nya.
“Mama ... “ panggil Faaz namun mama Michele hanya diam dan terus menangis, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi. Tentu saja Faaz tidak membiarkan nya, Faaz langsung mengejar mama nya ke mobil.
“Mama mau kemana?” tanya Faaz ikut masuk ke dalam mobil.
“Ma, jangan sepertiini dong. Mama lagi marah jangan bawa mobil,”
“Gak usah perduliin mama, perdulikan saja pacar kamu itu!”
“Mah!” seru Faaz pada akhirnya karena sudah benar benar kecewa dengan mama nya.
__ADS_1
“Apa? Bahkan sekarang kamu berani berseru sama mama hiks hiks hiks.” Tangis mama Michele kembali pecah di dalam mobil, membuat Faaz menjadi serba salah.
Ia tidak menyangka, bahwa ternyata ibu nya jauh lebih rewel dari Kaila. Ia pikir ibu nya bisa memahami nya dan mengerti kemauan nya. Namun ternyata ia salah.
“Faaz telfon papa ya?” kata Faaz mengambil ponsel hendak menghubungi ayah nya.
“Enggak! Jangan coba coba hubungi papa kamu! Lebih baik kamu urus saja pacar kamu itu. Biar mama yang mengurus Erish dan tante Nisa.” Balas mama Michele dengan nada sedikit ketus.
“Mah—“
“Turun sekarang! Mama mau nenangin diri mama!” ucap mama Michele datar dan kembali mengusir Faaz dari mobil.
Dengan berat hati dan perasaan penuh rasa bersalah, akhirnya Faaz mengalah dan turun dari mobil. Dan saat itu juga mobil mama Michele langsung melesat dengan kecepatan tinggi, mmebuat Faaz semakin merasa bersalah dan khawatir.
Ia pun segera menghubungi ayah nya dan mengatakan apa yang terjadi dengan mama nya.
‘Biarkan saja. Gak usah khwatir, mama kamu itu mantan pembalap, tidak akan kenapa napa dia. Biarkan dia bermain dengan drama nya dulu. Kamu fokus perbaiki hubungan kamu. Kalau memang kamu mencintai gadis itu, perjuangkan. Pernikahan itu sekali seumur hidup, kamu yang merasakan dan kamu yang akan menjalani nya, bukan Mama apalagi Papa. Jadi tentutan pilihan kamu dengan yakin, jangan sampai menyesal. Untuk urusan Mama, serahkan sama Papa.”
__ADS_1
Mendengar nasehat dari papa nya, seketika membuat hati Faaz merasa lebih tenang dan lega. Setidaknya, kini ia memiliki pendukung di belakang nya. Ia semakin bersemangat untuk memperjuangkan Kaila dan melepaskan Erish.
...~To be continue ... ...