
...~Happy Reading~...
Keesokan harinya, Faaz berniat untuk menjemput Kaila di Asrama. Namun, saat ia mengetuk pintu kamar nya, ia tidak mendapatkan jawaban dari sang kekasih. Awalnya, Faaz berfikir bahwa Kaila mungkin sedang mandi, namun setelah hampir setengah jam lebih, kini Faaz sama sekali tidak menemukan tanda tanda Kaila akan membuka pintu.
Mengerutkan dahi nya dengan bingung, Faaz berusaha menghubungi Kaila kembali. Namun, sejak tadi nomor nya sibuk dan ketika tersambung, maka akan langsung di reject.
“Fay, Kaila dimana?” tanya Faaz ketika melihat Fayya melewati depan kamar Kaila.
“Lah, kan Kaila balik ke Jakarta pagi tadi. Belum lama kok, sama om Kaisar.” Jawab Fayya terlihat bingung menatap Faaz, “Emang gak pamit sama kamu?”
“Gak ada,” jawab Faaz pelan, “Kiano gimana?”
“Kiano masih disini, nah itu dia. Panjang umur,” jawab Fayya tersenyum ketika melihat sebuah motor yang memasuki are asrama nya.
Melihat kedatangan Kiano, dengan cepat Faaz menghampiri Kiano untuk menanyakan Kaila. Namun, belum sempat Faaz melayangkan pertanyaan, tiba tiba Kiano sudah menjawab terlebih dulu seolah sudah tahu akan apa yang hendak di tanyakan oleh Faaz.
“Kalau lo emang serius sama Kaila. Lo samperin ke rumah gue, dan jangan lupa bawa orang tua lo. Itupun kalau lo emang serius sama Kaila. Tapi kalau lo gak serius, ya udah lepasin Kaila.” Ucap Kiano dengan ekspresi wajah datar nya.
__ADS_1
“Apa maksud kamu?” tanya Faaz dengan napas memburu.
“Kaila mau di pindahin ke Vietnam sama Papa. Karena di sana, ada Opa dan Oma yang akan mengurus Kaila, tidak seperti gue yang sudah gagal jagain dia,” ujar Kiano masih dengan wajah datarnya.
Seketika itu juga, Faaz baru tersadar bahwa wajah Kiano terluka. Faaz masih ingat dengan jelas, bahwa luka yang ia berikan kemarin tidak seberapa. Namun, kini ternyata lebam di wajah Kiano bertambah.
“K—kamu di pukul—“
“Udah jadi resiko kakak yang selalu di salahkan. Jadi sekarang, kalau lo ngehargai gue, lo susul Kaila dan segera selesai urusan lo. Jangan sampai pengorbanan gue sia sia. Gue tahu kalau kalian saling mencintai,” tutur Kiano lagi dan kini di sertai helaan napas berat.
Tanpa berlama lama, Faaz pun langsung menganggukkan kepala nya an segera berlari menaiki motor nya lagi menuju Bandara. Orang tua Faaz sudah pulang semalam tadi, karena sang mama yang merajuk dan marah kepada Faaz, hingga membuat papa nya mau tak mau harus mengajak istri nya kembali ke Jakarta. Padahal, hari ini papa nya masih ada beberapa pekerjaan penting, namun di urungkan karena permintaan istri nya.
“Kenapa sampai kaya gini?” tanya Fayya sedikit meringis ketika melihat wajah Kiano yang penuh dengan luka lebam.
“Gapapa kok, namanya juga lelaki,” jawab Kian tersenyum tipis.
"Pasti sakit banget ya?" tanya Fayya terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
"Gapapa kok, bentar doang, nanti juga ilang." jawab Kisno berusaha menahan nyeri saat tangan Fayya terulur menyentuh luka nya.
Bohong bila tidak sakit, setelah di pukul olehFaaz, dirinya kembali mendapatkan pukulan dari sang ayah. Double kill.
“Mau masuk dulu? Aku kompres biar gak terlalu bengkak,” ujar Fayya bukan memberikan penawaran, namun nada nya seperti sebuah pemaksaan.
“Langsung ke kampus aja,” tolak Kiano menggelengkan kepala nya.
“Ya udah sana pergi aja duluan.” Kata Fayya tiba tiba ber ekspresi datar, gadis itu segera berbalik dan berjalan kembai menuju kamar Asrama nya.
“Loh mau kemana Fayy!” panggil Kiano yang tahu bahwa gadis itu merajuk.
“Sana berangkat duluan! Mau cepet ketemu dia kan? Sana duluan! Kelas ku masih lama,” saut Fayya tanpa berbalik dan terus berjalan, membuat Kiano tanpa sadar menyunggingkan senyuman nya.
Ia tahu maksud Fayya seperti itu, karena dirinya menolak. Dan Fayya sengaja kembali ke Asrama agar dirinya menyusul dan Fayya bisa mengobati nya.
‘Dasar ya, cewek. Tukang ngambek,’ gumam Kiano berdecak pelan, dan menggelengkan kepala nya. Namun ia juga tetap menyusul Fayya ke dalam kamar dengan sebuah senyuman tersungging di wajah nya.
__ADS_1
...~To be continue .......