
💕💕💕
“Lihat baik baik kamu ada dimana?” kata Fa’az dengan datar menatap Kaila, namun posisi nya masih menindih tubuh Kaila di tempat tidur.
Seketika itu juga, Kaila langsung mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Dan saat itu juga ia tersadar bahwa ialah yang sedang menumpang di kamar Fa’az, bukan Fa’az yang menyelinap masuk ke dalam kamar nya.
“Pantes aja gue tidur nyenyak, ternyata bukan di kamar gue,” keluh Kaila yang langsung memanyunkan bibir nya kesal.
Deg!
Melihat bibir kaila dengan begitu dekat nyatanya mampu membuat degup jantung Fa’az berdetak dengan sangat cepat. Jauh lebih cepat dari yang biasa ia rasakan bahkan saat bersama seseorang pun, ia tidak bisa merasakan segugup ini.
“Fa’az, bangun dong,” pinta Kaila lagi dengan menatap wajah Fa’az.
‘Shittt!’ umpat Fa’az dan hatinya ketika melihat manik wajah Kaila yang justru semakin membuat perasaan nya tidak karuan.
Dengan cepat, ia langsung bangkit dan pergi meninggalkan Kaila. Tentu saja kaila merasa bingung, mengapa Fa’az langsung pergi tanpa mengucapkan satu buah kata apapun.
__ADS_1
‘Dia kebelet mau BAB kali ya?’ gumam Kaila ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang di tutup kasar oleh Fa’az.
Keadaan kembali hening. Dan Kaila hanya mampu terdiam kembali membayangkan mimpi yang tadi menimpa nya. Mimpi dimana ia di kerjai habis habisan oleh Kiano saat masih kecil yang membawa nya kepada trauma yang cukup besar hingga saat ini. Trauma itu juga yang membawa nya hingga terdampar di asrama Fa’az malam ini.
‘Mama ... ‘ tubuh Kaila kembali meringkuk dan meneteskan air mata.
Ya, dia kembali menangis. Biasanya, bila seperti ini, sang mama yang akan menenangkan nya dan memberikan nya pelukan, namun ini dirinya jauh dari mama nya. Dia sendiri, bahkan Kiano tidak ada di dekat nya.
“Kenapa lagi?” tanya Fa’az yang sudah keluar dari dalam toilet dan kembali mendapati Kaila terisak.
“Gue mimpi lagi, gue kangen sama nyokap. Pengen di peluk sama Mama hiks hiks,” tangis Kaila kembali pecah, namun gadis itu segera menutup wajah nya dengan bantal agar bisa meredam suara tangis.
“Bukan Kiano yang ninggalin, tapi kita yang ninggalin mereka,” ralat Fa’az seraya menghela napas nya berat.
“Ya itu maksud gue, sama aja. Intinya dia gak ada disini hiks hiis hiks.” Jawab Kaila masih dengan wajah tertutup bantal.
“Kalau kaya gini, kamu bisa mati kehabisan napas,” kata Fa’az membuka bantal dari wajah Kaila dengan perlahan.
“Gue pengen nangis, tapi gue takut hiks hiks hiks.” Ucap Kaila menatap Fa’az.
__ADS_1
“Takut kenapa?” tanya laki laki itu mengerutkan dahi karena tidka mengerti.
“Takut di kira kuntilanak,” jawab Kaila dengan cepat.
“Di hutan kamu gak takut nangis tengah malam. Kenapa disini justru kamu malah takut!” kata Fa’az berdecak dan menggelengkan kepala nya.
“Kemarin khilaf,” balas Kaila dengan cepat. Untuk sesaat keduanya kembali terdiam, namun Kaila masih sesekali terisak tanpa suara, hanya sesenggukan saja.
“Fa’az,” panggil Kaila menarik narik ujung kaos yang di kenakan oleh Fa’az.
“Hem,” jawab laki laki itu kembali menatap ke arah Kaila.
“Gue pengen di peluk, boleh gak? Sekali aja, gue beneran gak bisa tidur. Biasanya ada mama, tapi mama gak ada. Kiano juga gak ada, pliss, gue sewa lo malam ini aja buat meluk gue.” Ucap Kaila dengan begitu bdoh nya.
“Kamu pikir aku barang yang bisa di sewa! Lagipula darimana kamu dapat uang buat bayar sewa? Kamu aja masih minta duit ke Kiano!” cetus Fa’az langsung mengusap wajah nya dengan cukup kasar. Ia benar benar tidka habis pikir dengan tingkah Kaila yang setiap waktu selalu saja bisa membuat nya speechless.
“Kalau gak mau kaya barang, anggep aja lo gigolo dan gue sewa malam ini. Cuma meluk doang Faaz, gue gak bakal perkosa elo,” ucap Kaila benar benar memohon hingga membuat Faaz kembali menatap tak percaya pada gadis di sebelah nya.
‘Antara bodoh dan polos bedanya sangat tipis. Kamu gak bakal memperkosa ku tapi aku yang bakal perkosa kamu kalau kita tidur satu ranjang. Astaga, Kiano kamu dimana sih!’ umpat Faaz dalam hatinya begitu frustasi.
__ADS_1
...~To be continue ......