
Memasuki kamar asrama Kaila, seketika membuat tubuh Fa’az langsung mematung, di ambang pintu, masih dengan posisi menggendong tubuh sang pemilik kamar.
“Ayo masuk, gak usah sungkan.” Ucap Kaila tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Ini kandang?” celetuk Fa’az dengan raut wajah yang sulit untuk di ekspresi kan.
Siapapun yang melihat kondisi kamar Kaila saat ini, bisa Fa’az pastikan, orang itu akan trauma untuk datang.
“Sialan! Enak aja kandang!” cetus Kaila langsung memukul bahu Fa’az dengan kesal, “Mama belum kirim uang, nanti kalau udah kirim uang, baru aku biasanya panggil orang buat beresin dan bayar deh, selesai. Jadi ini karena tanggal tua, aku lagi miskin jadi biarlah gapapa. Ayo buruan masuk, gue pengen tiduran, sakit banget ini,” keluh Kaila memaksa Fa’az untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Gak bisa, Fa’az tidak bisa memasuki nya dan membiarkan Kaila tidur dalam keadaan kamar yang seperti kandang kambing habis kawin seperti itu. Dengan perlahan, Fa’az menurunkan Kaila di kursi yang berada di depan kamar Kaila.
“Masukin gue ke dalem Az, kenapa di luar?” tanya Kaila mendengus.
“Jaga cara bicara kamu Kai. Saring lagi perkataan kamu, atau orang akan salah paham saat mendengarkan nya,” kata Fa’az memberikan tatapan tajam pada Kaila.
“Diih emang ada yang salah sama omongan gue? Kayaknya enggak deh,” gumam Kaila bingung.
“Sudahlah, diem disini dulu!” ucap Fa’az menggelengkan kepala nya, ia pun segera masuk ke dalam kamar Kaila untuk membantu nya membersihkan kamar.
Cukup lama Fa’az berada di dalam kamar asrama milik Kaila, hampir satu jam lama nya. Dan ketika ia keluar, ia membawa dua buah kantung plastik keresek yang berisi sampah. Fa'az pun segera membuang nya keluar dan kembali masuk ke dalam, menghela napas nya berat, akhirnya kini kamar itu terlihat rapi seperti saat waktu Kaila baru tiba.
__ADS_1
Dan tanpa banyak berbicara, Fa’az kembali menggendong tubuh Kaila, mengantarkan nya ke dalam dan mendudukkan nya di tempat tidur.
Rapi, itulah yang di pikiran Kaila untuk pertama kalinya. Iri, tentu saja ia sedikit iri, mengapa Fa’az yang laki laki justru begitu pandai membersihkan kamar, mencuci piring dan bahkan juga masak. Sedangkan dirinya, anak perempuan, jangan kan membersihkan kamar atau memasak, cuci piring saja kini dua kaki nya menjadi korban.
“Pahala lo makin nambah banyak Az, beneran deh,” ucap Kaila dengan menyengir kuda menatap Fa’az, “Makasih, nanti gue transfer ke elo ya.”
“Buat apa?” tanya Fa’az langsung mengerutkan dahi nya.
“Pertama karena lo udah ngurusin gue, kedua karena lo semalem udah meluk gue, dan ketiga karena lo udah bantuin beresin kamar gue. Gue gak tahu mesti bayar lo berapa, duit jajan gue sama mama cuma di kasih lima juta, lo mau minta berapa?” tanya Kaila dengan wajah polos nya menatap sayu ke arah Fa’az.
Deg!
__ADS_1
Untuk sesaat, Fa’az langsung terdiam. Kini jantung nya semakin tidak aman ketika melihat sorot mata sayu Kaila yang terus menatap nya. Entah mengapa, beberapa hari ini bersama, sudah begitu banyak cerita yang ia dapatkan dari Kaila, membuat hidup nya banyak berubah. Tentu saja, belum ada satu minggu ia mengenal Kaila, namun ia merasa seolah ada sesuatu yang tidak biasa yang ia rasakan. Sesuatu yang sangta sulit untuk ia jelaskan dan ungkapkan.
...~To be continue .......