
...~Happy Reading~...
“Makan dulu ya? Habis itu minum obat, ini dari Bella,” ujar Faaz begitu lembut.
“Mau di suapin aja, boleh gak?” tanya Kaila dengan begitu lirih.
Karena kasihan dan tidak ingin melihat kekasihnya kembali menangis, akhirnya Faaz mengiyakan, dengan telaten dan penuh perhatian Faaz menyuapi soto hangat kepada Kaila. Gunung es yang sudah ia bangun sekian tahun, kini akhirnya runtuh hanya karena gadis seperti Kaila, yang mampu memberikan nya sinar matahari hingga membuat gunung es itu mencair.
Tidak ada lagi Faaz dingin dan cuek, bila sudah bersama Kaila. Melainkan Faaz yang begitu lembut, penyayang dan penuh perhatian, namun bila dengan orang lain, ia tetap masih mempertahankan gunung es nya.
“Bu, mau di peluk. Sebentar aja,” rengek Kaila dengan wajah sedih nya memohon.
__ADS_1
“Sebentar lagi, mereka semua naik. Nanti mereka tahu dan lihat gimana?” kata Faaz menghela napas nya berat, sejujur nya ia sangat ingin memeluk Kaila, hanya saja ia juga tidak bisa melakukan nya dengan sembarangan bukan.
“Kamu istirahat dulu. Nanti, saat bis sudah jalan, aku akan datang lagi,” imbuh Faaz yang langsung di balas anggukan lemah oleh Kaila.
Tak berapa lama, bis pun kembali berjalan. Setelah Kiano mamastikan bahwa adik nya sudah makan dan istirahat, ia pun segera kembali ke kursi nya yang berada di belakang.
Kursi dengan fasilitas kamar seperti Kaila hanya ada beberapa saja ya. Dan yang tersisa hanya dua, satu untuk Kaila dan satu lagi untuk Salsa yang bergantian dengan Bella. Sementara Fayya, ia memilih untuk duduk di kursi bersama yang lain nya. Bila saat berangkat tadi Salsa lah yang berada di kamar itu, maka kini setelah makan, maka bergantian dengan Bela dan Salsa duduk bersama Fayya dan anak laki laki.
“Lah iya, gue baru sadar. Dia gak ketinggalan kan?” saut Vito yang juga bingung.
“Bukan nya Faaz di depan?” kata Salsa yang memang tadi dia melihat keberadaan Faaz berada di kursi samping Kaila.
__ADS_1
Kiano pun bangkit dan menghampiri Faaz, yang ternyata memang benar, laki laki itu tengah tertidur sambil menelfon sang mama, mengabarkan bahwa ia sudah dalam perjalanan. Tidak ingin mengganggu, lalu Kiano beralih membuka horden Kaila kembali dan melihat saudara kembar nya sudah tertidur.
Perjalanan masih cukup lama, Kiano pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kursi nya dan tidur. Namun, angan hanyalah tinggal angan, nyatanya Kiano tidak bisa tidur melainkan malah banyak mengobrol dengan Fayya.
“Ternyata lebih seru naik Bis ya daripada Pesawat,” ucap Fayya terkekeh, “Harusnya kita berterimakasih sama Kaila. Karena berkat dia kita bisa terlambat dan di tinggal pesawat. Dan kita bisa jalan jalan begini hihihihi,”
“Kamu gak capek?” Tanya Kiano mengerutkan dahi nya, “Kalau naik pesawat, mungkin saat ini kita sudah sampai di rumah dan bisa tidur di kamar.” Imbuh nya seraya menghela napas nya berat.
“Enggak, justru aku malah seneng. Dan kayaknya aku bakal ketagihan deh, kalau tidak buru buru mungkin next aku bakal milih naik ini lagi. Apalagi kalau bisa dapat tempat duduk seperti Kaila. Pasti akan lebih seru,” ucap Fayya masih dengan senyuman ceria nya.
Seperti biasa, senyuman yang bisa membuat laki laki di dekat nya terpaku dan selalu candu. Hingga tanpa sadar, Kiano sampai menyunggingkan senyuman nya karena terpana melihat senyuman Fayya yang tengah menatap ke arah luar jendela, menikmati indahnya perjalanan siang itu.
__ADS_1
...~To be continue ......