
Sore harinya, semua teman dan sahabat Kaila juga Kiano berkumpul di asrama Kaila. Tentu saja mereka langsung datang berhamburan untuk menjenguk Kaila yang sedang sakit. Berbagai pertanyaan di lontarkan oleh beberapa teman nya, membuat Kaila merasa sedikit bingung.
“Jadi bagaimana Kai? Masih gak mau cerita? Gimana caranya lo dapet luka kaya gini?” tanya Salsa untuk terakhir kalinya karena sejak tadi Kaila tidak mau menjawab pertanyaan mereka.
“Iya Kai, kami khawatir lo,” ujar Victor yang sejak tadi diam, kini ia mulai berjalan mendekat ke arah Kaila.
“Gue jatuhin mangkok di kantin, dan pas gue mau bersihin malah kaki gue kena. Udah kan, puas kalian!” jawab Kaila dengan asal dan sedikit mendengus.
“Kok bisa kena kaki sampai separah ini? Lo nyeker ke kampus?” tanya Bela seolah tak percaya, “Terus yang bawa lo ke rumah sakit siapa? Kenapa lo gak telfon kita?”
“Heh dasar setan sialan kalian ya! Kalian dimana tadi pagi hah! Emang kalian udah sampai?” seru Kaila kembali mendengus, “Udah ah, gak penting banget pertanyaan kalian itu. Harusnya itu kalian datang bawain buah tangan, bukan nganggur kaya gini!”
“Kita panik Kai, kita khawatir, habis kelas makanya langsung kemari. Lagipula, lo tahu sendiri gimana Kiano,” kata Salsa menghela napas nya berat.
__ADS_1
Saat ini, di asrama Kaila memang sangat rame, semua sedang berkumpul, terkecuali Kiano dan Fayya. Karena kedua nya harus kembali ke kampus.
“Kai, lo tahu gak sih ini tuh artinya apa?” tanya Victor menatap Kaila, membuat gadis itu langsung mendongak dan mengerutkan dahi nya bingung.
“Izinin gue buat lebih deket sama lo. Biar gue bisa selalu lindungi elo, selalu ada buat lo dan—“
“Vic, udah deh jangan mulai lagi,” kata Kaila langsung memotong ucapan Victor, seraya menghela napas nya kasar.
“Kai, lo udah tahu perasaan gue tulus. Kasih gue kesempatan sekali aja buat deketin elo, jangan tutup hati lo, biarin gue masuk sebentar,” pinta Victor kembali memohon.
“Bener tuh Kai, kayaknya lo emang butuh cowok yang bisa jagain elo setiap waktu,” saut Bella seolah setuju dengan pernyataan Victor.
“Gue juga setuju kalau kalian sama sama. Soal Kiano, halah lo biasanya juga ngelanggar larangan dia kok.” Sambung Salsa menyengir.
“Gue janji gak akan nyakitin lo kaya cowok cowok lo lain nya. Dan kalau pun nanti kita tidak bisa saling mencintai, gue juga gak akan sakit hati apalagi ngejauhin lo, hubungan kita masih akan tetap sama, gue gak akan—“
__ADS_1
Dreettt!
Suara kursi yang di tarik secara kasar oleh seseorang dari arah luar, seketika membuat semua perhatian teralihkan. Faaz, laki laki itu sejak tadi memilih untuk duduk di kursi teras, hanya saja mendengar kata kata permohonan yang di utarakan oleh Victor, entah mengapa membuat nya merasa sedikit aneh.
“Aku harus kembali ke kampus, Kiano barusan kirim wa,” ucap Faaz dengan raut wajah datarnya menatap ke arah Kaila yang sedang berada di dalam kamar.
Apakah itu cara nya berpamitan? Batin Kaila mendengus.
“Az, buru buru banget. Bukan nya kelas lo masih ada setengah jam lagi?” tanya Vito yang sejak tadi duduk bersama Faaz di luar.
“Tau tuh, kenapa harus buru buru sih?” sambung Victor seolah tidak rela karena pernyataan nya belum di balas oleh Kaila.
“Kalau kalian mau disini ya sudah, aku jalan dulu.” Ucap Faaz datar, namun tatapan matanya terlihat begitu menusuk hati Kaila yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan ke arah Faaz.
...~To be continue......
__ADS_1