
...~Happy Reading~...
"Jadi, kamu mau kan memberikan ku satu kesempatan?" tanya Faaz sedikit memaksa.
"Bagaimana dengan Erish? mama kamu, dan juga tante Nisa?" kata Kaila sedikit menghela napas berat.
"Aku hanya butuh kesempatan dari kamu. Cukup beri aku kesempatan dan jangan perdulikan apapun lagi. Percayakan sama aku Mu,"
"Aku sudah percayakan semuanya sama kamu Bu, tapi apa yang ku dapat? kekecewaan, jadi apa aku masih bisa percaya sama kamu?" tanya Kaila dengan cepat, hingga membuat Faaz kembali terdiam.
"Pokoknya, aku akan melakukan apapun agar kita bisa bersama. Kalau kamu tidak mau, maka aku akan memaksa, dan aku bisa melakukan hal apapun !" ucap Faaz dengan tegas dan yakin.
"Tapi aku takut Bu," gumam Kaila menundukkan kepala nya.
"Percaya sama aku Mu, kita bisa jalan sama sama. Kita bisa melewati semua ini, plis aku mohon. Dukung aku, tetap lah bersama ku, apapun yang terjadi." pinta Faaz menggenggam tangan Kaila dan menatap nya dengan penuh permohonan.
Meskipun sedikit ragu, namun Kaila juga tidak bisa membohongi perasaan nya. Ia sangat mencintai Faaz, laki laki itu sudah banyak menorehkan warna dalam hidup nya. Dan akan sulit baginya untuk menghapus semua kenangan yang berwarna itu.
Tapi kembali lagi, ia juga memikirkan Erish, juga keluarga nya. Apakah keputusan nya untuk bertahan dengan Faaz tepat? atau justru akan menghancurkan tiga keluarga besar?
__ADS_1
Keluarga nya, Erish dan juga Faaz.
"Kepala ku pusing, Bu," gumam Kaila kembali memejamkan mata nya erat ketika kepala nya kembali berdenyut nyeri.
"Kamu istirahat, aku akan menemani kamu disini," kata Faaz membantu Kaila untuk kembali berbaring, lalu ia duduk di sebelah nya dan terus menggenggam tangan Kaila.
"Jangan pergi lagi," gumam Kaila sedikit mendesis dan memejamkan mata.
"Enggak, aku akan tetap disini, cup."
Lega, itulah yang Faaz rasakan saat ini. Melihat kekasih nya akhirnya mau memaafkan nya dan memberikan nya kesempatan. Namun tak bisa ia pungkiri, rasa bersalah juga bersarang di benak nya.
Cklek!
"Sayang!"
Deg!
Baru saja Faaz ingin ikut tertidur dengan merebahkan kepala nya di samping Kaila. Tiba tiba ia mendengar suara pintu terbuka dan suara yang cukup melengking mirip Kaila.
__ADS_1
"S—selamat siang, Tante, Om." ucap Faaz mengangguk sopan dan hendak bangkit. Namun tangan nya tengah di cengkram erat oleh Kaila sehingga membuat laki laki itu sedikit sulit untuk berdiri.
"Kamu Faaz kan? yang kemarin mencari Kaila? Kamu kenapa bisa disini? Kiano mana?" tanya Kiara menelisik ruang perawatan putri nya.
"Kiano sedang ada kelas pagi ini Tante. Jadi—"
"Ada hubungan apa kamu dengan putri ku?" tanya Kaisar dengan to the point dengan tatapan mata yang penuh intimidasi.
Sejak tadi, tangan Kaisar tidak lepas dari genggaman tangan sepasang anak muda di depan nya. Bahkan, sejak kedatangan nya dan istri, keduanya sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan itu.
"Papa..." gumam Kaila membuka mata dan menatap sayu kepada orang tua nya.
"Astaghfirullah, Sayang. Kamu gapapa? mana yang sakit? kenapa bisa kaya gini hem?" tanya Kiara beruntun dan langsung menghambur mendekati Kaila.
"Kepala sama perut Kaila sakit Ma," remgek nya manja, namun tangan nya masih begitu betah menggenggam tangan Faaz. Hingga membuat laki laki remaja itu tak bisa berkutik sama sekali, terlebih sejak tadi ayah Kaila benar benar tak melepaskan pandangan mata nya dari dirinya.
"Makanya kan mama bilang kemarin, kalau mau pergi itu makan dulu. Utamakan sarapan! bukan asal langsung ngacir aja kamu! Begini kan efek nya kalau gak mau dengerin mama nya! giliran udah sakit kaya gini di omelin pasti mikir yang enggak enggak!" omel mama Kiara panjang lebar hingga membuat Kaila kembali memejamkan mata dengan kesal.
'Anak pungut emang selalu salah.' gumam nya dalam hati.
__ADS_1
...~To be continue... ...