
🍁🍁🍁
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, kini Fa’az dan Kaila sudah sampai di asrama tempat tinggal Fa’az. Ya, karena Asrama laki laki jauh lebih dekat. Sebenarnya, Fa’az akan mengantarkan Kaila langsung ke Asrama nya, hanya saja hujan sudah turun dan kembali mengguyur Kota Jogja, jadilah Fa’az memutar setang motor nya menuju ke asrama nya yang lebih dekat dan cepat.
Sudah setengah jam lebih berada di bawah guyuran air hujan, tentu saja tubuh keduanya sudah basah kuyup dan menggigil. Fa’az segera memarkirkan motor dan mengajak Kaila untuk masuk ke dalam kamar nya.
Tidak ada pikiran negatif apapun yang ada di benak Kaila, yang memang sejatinya dia tidak pernah kepikiran atau takut akan di apa- apain oleh Fa’az, atau bahkan justru malah dirinya yang akan membuat ulah di kamar tersebut.
“Mandilah dulu, ada air hangat nya di sana,” ujar Fa’az menyerahkan sebuah handuk yang baru saja ia ambil dari lemari untuk Kaila.
Untuk sesaat, Kaila merasa terpesona hingga membuatnya terdiam di tempat. Bukan terpesona dengan ketampanan Fa’az, bukan. Tapi ia terpesona oleh suasana kamar Fa’az yang terlihat jauh lebih rapi, wangi dan tentu saja lebih luas dari kamar nya. Entah mengapa, seketika dirinya merasa Insecure karena kamar nya sangat sangat jauh dari kata rapi.
“Mandi, Kai!” tegur Fa’az sekali lagi membuat lamunan Kaila seketika ambyar dan ia segera mengambil handuk dari tangan Fa’az lalu bergegas memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Lagi, Kaila di buat terpana dengan suasana kamar mandi Fa’az yang ternyata terdapat sebuah bathtub dan air hangat. Iri, tentu saja, sementara kamar nya sendiri saja kecil apalagi kamar mandi. Jangankan air hangat, bathtub saja tidak ada. Hanya terdapat bak kecil serta shower di dalam kamar mandi nya yang hanya berukuran dua kali dua meter saja. Kecil bukan? Batin Kaila.
'Gila, enak banget ada bathtub nya. Kenapa kamar gue gak ada.”
Hampir satu jam lamanya Kaila berendam di dalam kamar mandi, ia seperti merasa kembali pada kehidupan nya di Jakarta karena akhirnya ia menemukan bathtub untuk berendam. Sangat nikmat, batin Kaila tersenyum puas.
Sementara itu, Fa’az yang juga sudah selesai dengan acara ritual mandi nya, ia memilih untuk memasak sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh nya setelah habis kehujanan.
Ya, kamar Fa’az cukup komplit. Selain kamar mandi yang ada air hangat dan bathtub nya, namun kamar nya juga terdapat kulkas serta kompor untuk nya memasak.
“Kai, jangan terlalu lama!” panggil Fa’az mengetuk pintu kamar mandi saat sudah menyelesaikan masakan nya.
Kaila keluar dengan menggunakan kaos oblong milik Fa’az yang terlihat begitu kebesaran di tubuh Kaila. Bahkan, ****** ***** Fa’az saja ia bisa di jadikan celana short untuk Kaila. Tenang saja, untuk dalaman, Fa’az memberikan yang baru untuk Kaila, karena tidak mungkin ia memberikan nya yang bekas.
“Gue kaya kalong ya?” tanya Kaila seraya mengangkat kedua tangan nya ke udara, yang mana menampakkan bagaiman besar nya kaos yang ia pakai, bahkan kini terlihat bukanlah sebuah kaos, melainkan sebuah daster.
__ADS_1
Ingin rasanya Fa’az tertawa melihat penampilan Kaila yang ternyata sangat mungil, dengan pakaian nya dan rambut yang di gulung oleh handuk. Namun, ia berusaha menahan nya karena tidak ingin ribut atau berdebat.
“Makan dulu,” ucap Fa’az berusaha mati matian menahan tawa.
“Gak usah di tahan kalau mau ketawa.” Cetus Kaila yang sudah sadar bahwa Fa’az tengah ingin mentertawakan nya, “Lo itu sama aja kaya Kiano, kalau mau ketawa ketawa aja gak usah di tahan ntar keluar lewat jalur lain!” imbuh nya, seraya mendudukkan diri di lantai yang sudah beralas karpet bulu tipis halus.
“Ternyata tidak hanya dada kamu yang kecil tapi tubuh kamu juga semuanya kecil,” celetuk Fa’az dengan senyuman miring di wajah nya, seketika membuat mata Kaila langsung membola dan menatap nya tajam.
“Faaz!” seru Kaila spontan hendak menendang kaki Faaz, namun dengan cepat Faaz menahan kaki itu hingga membuat kini Kaila hanya berdiri dengan satu kaki.
“Bercanda Kai, astaga.” Kata Faaz yang masih menahan tawa nya.
“Lepasin gak!” seru Kaila berusaha menarik kaki nya namun Faaz justru semakin menggoda nya dengan mengajak Kaila berjalan hingga dalam kamr.
“Faaz lepassss!” pekik nya semakin kesal, dan akhirnya karena tidak tega, Faaz pun melepaskan kaki itu dengan di iringi tawa yang cukup renyah hingga membuat Kaila sedikit terpana karena ia belum pernah melihat laki laki itu tertawa.
__ADS_1
‘Ternyata dia bisa ketawa. Gue kirain gak bisa.’ Batin Kaila dalam hati tanpa sadar sampai membuat nya menyunggingkan senyuman.
...~To be continue .......