Fate Story

Fate Story
Terjebak hujan


__ADS_3


đź’•đź’•đź’•


“Tahan dulu, lagian kenapa bisa begini sih?” tanya Fa’az sedikit meringis karena ia juga harus menahan sakit di kepala nya lantaran cengkraman Kaila.


“Gak tahu, piring nya gak suka sama gue. Makanya pas gue pegang dia lari terus, eh terakhir gue paksa malah dia lompat dan jatuh!” cerita Kaila lalu ia kembali menjerit ketika Fa’az hendak memasang perban pada kaki nya.


“Mana ada piring lompat!” cetus Fa’az menghela napas nya berat.


“Ya itu buktinya piring nya jatuh. Dan ngenain kaki gue, aduuhh sakitttt!” pekik Kaila lagi dengan begitu heboh nya.


“Astaga, Kaila sakittt!” pekik Fa’az menepis kasar tangan Kaila di kepala nya.


“Kaki gue lebih sakit Az, hiks hiks hiks.” Rengek nya dengan suara yang sudah lirih tidak berteriak lagi.

__ADS_1


“Makanya, kalau gak bisa jangan sok tahu! Kalau udah di larang itu nurut. Bukan ngeyel!” kata Fa’az lalu ia bangkit dari tempat duduk nya untuk membereskan kekacauan yang di buat oleh Kaila.


Wajar dan pantas saja, Kiano selalu berteriak dan marah kepada Kaila. Kini ia merasakan nya, dua hari bersama Kaila sepertinya esok ia harus memeriksakan tensi darah nya.


...đź’•đź’•đź’•...


Sementara itu, tepat nya di bawah gunung, rombongan Kiano masih belum bisa pulang karena terjadi banjir bandang, sehingga membuat jembatan di tutup. Ya, mereka terjebak hujan, padahal kemari cuaca begitu cerah. Bahkan, semalam bintang terlihat menghiasi langit, namun entah mengapa siang ini tiba tiba hujan turun dengan begitu deras nya.


Di satu sisi mereka juga berterimakasih kepada Kaila, karena kalau bukan karena Kaila, mereka tidak akan buru buru untuk turun. Dan rencana mereka akan pulang siang harinya setelah lewat jam dua belas, dan kemungkinan akan sampai di bawah sore hari. Namun, karena Kaila sudah turun duluan, jadilah mereka buru buru dan sampai di bawah jam sebelas siang, dan saat itu juga hujan langsung turun degan deras nya hingga saat ini.


“Terus ini gimana?” tanya Fayya yang sudah menahan dingin sejak tadi. Tangan nya saling meremas satu sama lain karena benar benar sudah kedinginan.


Ingin sekali rasanya ia memeluk gadis itu, namun ia tidak berani melakukan itu apalagi di depan para sahabat nya. Jadilah Kiano hanya bisa menatap Fayya dengan raut wajah cemas nya.


“Ya udah, gue coba tanya tanya dulu ya,” ucap Victor bergegas untuk bertanya dimana adanya penginapan yang bisa ia tempati untuk satu malam ini. Setidaknya sampai jalanan kembali di buka.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Victor kembali dengan membawa kabar baik. Tak jauh dari tempat nya berada, ada sebuah penginapan kecil yang sering di gunakan oleh wisatawan untuk menginap.


“Mobil nya gimana?” tanya Kiano mengerutkan dahi.


"Bisa kok di bawa, karena tempat nya ini belum sampai di jembatan, jadi masih aman. Jadi besok pagi kita gak perlu naik kesini lagi.” Jawab Victor mempersilahkan para anak perempuan untuk masuk terlebih dulu.


“Baiklah, bawa mobil nya.” Kata Kiano melemparkan kunci mobil kepada Victor, lalu ia segera masuk ke dalam mobil yang duduk bersebelahan dengan Fayya. Sementara Salsa dan Bella sudah berada anteng di kursi paling belakang. Dan tentu saja Victor dan Vito yang berada di depan .


“Kaila gimana?” tanya Fayya membuka suara menatap Kiano.


“Dia udah gapapa. Fa’az sudah membawa nya ke klinik, jadi dia udah di tangani,” jawab Kiano menghela napas nya berat.


“Kaila punya phobia sama ulat bulu ya? Kayaknya kalau cuma alergi gak akan sampai segitunya deh?” tanya Salsa yang berada di kursi belakang ikut bersuara.


Deg!

__ADS_1


Seketika itu juga Kiano langsung terdiam, wajah nya berubah menjadi datar kembali dan seolah enggan untuk menjawab.


...~To be continue .... ...


__ADS_2