
Sementara itu, yang terjadi di dalam kamar Fa’az. Saat ini, ia sedang mengganti perban Kaila, karena luka nya kembali berdarah akibat pagi tadi gadis itu berlari ke kamar mandi karena terkejut melihat keberadaan Fa’az di tempat tidur nya.
Bukan, tempat tidur nya, melainkan tempat tidur Fa’az. Untuk kedua kalinya ia semakin merasa malu, akhirnya Kaila memutuskan untuk turun dan berlari. Tanpa ia sadari bahwa kaki nya masih terluka dan semakin berdarah. Jadilah mau tak mau kini Fa’az berusaha membuka perban dan mengganti nya.
“Sakit hiks hiks hiks.” Desis Kaila meringis menahan sakit, sudah hampir setengah jam gadis itu menangis di kamar mandi karena tidak bisa berjalan, akibat darah nya yang terus mengucur di kaki nya.
Hingga pada akhirnya Fa’az terbangun dan mengangkat tubuh Kaila dari atas closed dan membawa nya kembali ke tempat tidur. Maka tak heran bila suara Kaila terdengar serak, selain karena terlalu lama menangis, namun juga ia sedang berusaha menahan nya dengan membekap nya menggunakan bantal.
“Sabar sedikit, ini sedikit lagi.”
“Lo gak ngerasain Az, hiks hiks sakit bangettt!” jerit Kaila semakin erat mencengkram bantal dan menggigit nya.
Ternyata luka Kaila cukup dalam, sehingga Fa’az harus memasukkan obat ke dalam luka tersebut. Begitu syulit untuk memasukkan obat itu, karena kaki Kaila yang tidak bisa diam, jadi setiap kali Fa’az membuka luka itu maka Kaila akan berteriak dan menjambak rambut nya.
“Susah masuk nya kalau kaki kamu kaya gitu!” seru Fa’az mulai hilang kesabaran, “Atau kamu mau ke rumah sakit? Nanti bisa di jahit di sana!”
__ADS_1
“Gak mauuu!” tolak Kaila menggelengkan kepala nya. Di jahit, yang benar saja. Dia tidak akan seberani itu.
“Makanya diem, aku masukin obat ini. Setidaknya obat ini bisa menghentikan darah nya.” Kata Fa’az menghela napas nya kasar, “Diem!”
“Fa’az sakittt!! Tangan kamu! Tangan kamu jangan disitu, jangan di buka sakittt!”
Fa’az langsung berdiri dan ia tidak punya pilihan lain. Fa’az terpaksa harus mengikat tangan Kaila ke sisi tempat tidur, begitu juga dengan kaki nya, agar dia bisa mengobati luka kaki Kaila.
“Az lepasin! Ini kenapa harus kaya gini sih!”
“Gue udah berasa kaya mau di perkosa,” celetuk Kaila di sela isak tangis nya.
“Kalau kamu mau, habis ini gue bisa perkosa kamu!” jawab Fa’az dengan asal dan spontan. Hingga membuat Kaila hendak menjerit, namun urung karena Fa’az lebih cepat menutup mulut Kaila dengan kain.
"Diem Kai!" bisik Fa'az memberikan tatapan tajam pada Kaila.
Sadis memang, namun Fa’az tidak punya pilihan lain. Sudah hampir satu jam ia berdebat dengan Kaila, mendengarkan gadis itu menangis dan merengek karena kaki nya sakit. Namun di obatin begitu sulit, apalagi di bawa ke rumah sakit. Dia tidak mau karena Kaila masih trauma akan kata kata beberapa orang di klinik tempo hari yang menggibahi nya hamil di luar nikah.
__ADS_1
“Akhirnya selesai juga,” gumam Fa’az langsung menghela napas nya lega.
Fa’az segera membereskan obat obatan nya, ia menatap wajah Kaila yang hanya bisa menangis. Bukan kasihan, ia justru ingin tertawa. Gadis segalak, dan se bar bar Kaila ternyata begitu cengeng dan penakut.
Menghela napas kasar, akhirnya Fa’az membuka penutup mulut Kaila begitu juga dengan tangan dan kaki nya.
“Sorry,” ucap Fa’az tersenyum dan berdiri di depan Kaila.
“Jahat hiks hiks hiks.” Gumam Kaila menangis, namun tanpa di duga, gadis itu justru memeluk perut Fa’az dengan begitu erat. Tak lupa tangan nya juga terus memukul mukul punggung lebar laki laki itu, namun Fa’az sama sekali tak merasa kesakitan.
Dan entah setan darimana, tangan Fa’az kini terulur untuk mengusap kepala Kaila berniat agar membuat gadis itu tenang.
Tok ... tok ,. Tok ...
“Fa’az, ke kampus gak?” teriak seorang laki laki dari arah luar kamar Fa’az sambil mengetuk pintu kamar nya. Dan seketika itu juga Kaila langsung melepaskan pelukan nya dan saling menatap panik.
...~To be continue ... ...
__ADS_1