Gadis Bercadar Milik CEO Tampan

Gadis Bercadar Milik CEO Tampan
Bab 10


__ADS_3

Ia tidak mau hati putrinya terluka melihat pemandangan ini.


"Nggak.. Fanya masih mau di sini.!" Tolaknya


"Di sini cuma bikin kamu sakit hati" Fanya tidak menjawab ucapan Rena


"Saya sudah 3 bulan lamanya, menjadi kekasih Areksa" jawab Zayna ngawur


Areksa tersenyum di dalam hatinya, entah mengapa saat Zayna mengatakan 'kekasih' ia begitu sangat senang.


"Lumayan lama.. tapi kenapa Areksa tidak memberitahu Papa.?" Tanya Abriel beralih menatap Areksa.


"Private"


Abriel mengangkat sebelah alisnya "Seperti apa saja private" kekeh Abriel


"Tuan Abriel dan Nyonya Rita kami pamit pulang dulu ya.?" Ucap Aris


Abriel dan Rita menoleh bersamaan "Ohh iya, hati-hati" Rita berdiri dan menjabat tangan orang tua Fanya, begitu pun dengan Abriel


"Tante,, Fanya balik dulu ya" ucap Fanya sembari memeluk Rita, lalu Rita pun mengelus pucuk kepala Fanya dengan lembut.


"Iyaa, besok dateng ke sini lagi, Okey.?"


"Okey Tant" ucap Fanya antusias, kemudian ia melirik Areksa dan Zayna


"Areksa.. gue pamit pulang dulu ya.?" Pamit Fanya hendak memeluk Areksa, tetapi dengan cepat Areksa menghindar.


"Hmmm"


"Gue cuma mau peluk elo sebentar Sa" rengek Fanya terdengar manja


ia sengaja ingin memanas-manasi, Zayna. Sedangkan Zayna, ia bergidik ngeri melihat Fanya yang begitu menjijikkan menurutnya.


"Lo mau buat kekasih gue cemburu..?" Sentak Areksa

__ADS_1


Zayna yang melihat itu langsung membulatkan matanya.


Orang tua mereka langsung menoleh mendengar keributan tersebut.


"Fanya.. Ayoo kita pulang" Ajak Aris, dengan terpaksa Fanya berjalan gontai ke arah kedua orang tuanya.


.


.


.


Setelah fanya dan kedua orang tuanya pulang, kini Abriel membahas tunangan Areksa dan Zayna


"Jadi, kapan kalian akan tunangan.?" Tanya Abriel


Areksa dan Zayna saling pandang, padahal mereka baru kenal, dan Areksa belum mencari tau tentang identitas Zayna.


"Secepatnya Pa" jawab Areksa cepat membuat Zayna membulatkan matanya.


"Pa, kenapa secepat itu.?" gerutu Rita tak suka


"Lohh.. itu putra kita sendiri yang minta" jelas Abriel


"Tetep aja itu terlalu cepat, lagian Mama tidak merestui kalian berdua" hardik Rita, membuat tiga orang itu menoleh.


"Kenapa Ma.?" Tanya Areksa dingin


"Kenapa.? Mama nggak mau punya menantu seperti dia.! Areksa lebih pantas dengan Fanya.?" Tekan Rita


"Cukup Ma,! Areksa itu tidak mencintai Fanya" kesal Abriel


"Tapi Pa, ini demi kebahagiaan Areksa" balas Rita


"Kebahagiaan Mama bilang.? Bukan kebahagiaan yang Areksa dapet, Tapi penderitaan yang Areksa dapatkan" emosi Areksa sudah tak terbendung lagi, jika ia sudah emosi seperti ini, sangat sulit untuk emosinya reda.

__ADS_1


Abriel sudah hampir kalut, karena ia tau apa yang di lakukan putranya ketika emosi seperti ini.


"Ma, dengarkan apa ucapan Areksa.? Ia tidak akan dapat kebahagiaan tapi penderitaan, biarlah Areksa bahagia dengan pilihannya sendiri" tutur Abriel pada Rita yang kini diam.


Areksa mengusap wajah tampannya secara kasar, lalu ia bangkit dari duduknya, Abriel dan Rita yang melihat itu menjadi gelisah dan khawatir.


"Areksa, mau kemana kamu.?" Panggil Abriel ketika melihat Areksa menaiki tangga, mungkin ke kamar


"Biar saya Om" Zayna berdiri lalu mengejar Areksa


"Apa menurutmu Zayna bisa meredakan emosi Areksa.?" Tanya Rita khawatir


"Entah..."


Sedangkan Zayna kini mengikuti Areksa, tetapi ia kehilangan jejak saat sudah sampai lantai atas.


"Kemana sih tuh cowok.?" Gerutu Zayna kesal


Ia menatap pintu kamar paling ujung, pintunya sedikit terbuka.


Dengan perlahan Zayna melangkah mendekati kamar itu, ia sedikit membuka pintu kamar itu, terlihat lah lelaki ta


mpan bertubuh kekar sedang berada di balkon kamarnya. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Areksa" merasa namanya di panggil, Areksa lantas menoleh, ia sampai lupa jika masih ada Zayna di sini.


"Why.?" Tanya Zayna mendekat ke arah Areksa


Areksa hanya menggeleng, ia menatap dalam mata abu-abu milik Zayna yang begitu indah, Zayna juga menatap mata Areksa yang begitu tajam.


"Lo kenapa.?" Tanya Zayna sekali lagi


Zayna meraih kedua tangan Areksa yang berada di saku celana


"I-ini kenapa tangan Lo.? Kok bisa terluka.?" Panik Zayna saat melihat tangan kanan Areksa seperti habis meninju sesuatu.

__ADS_1


"Nggak.. itu cuma luka kecil" jawab Areksa enteng.


__ADS_2