
"G-Gue... Juga cinta sama elo, Gar" Zayna kembali terisak di pelukan Sagara.
Jantung Sagara berdetak dua kali lebih cepat ketika Zayna mengatakan 'cinta' padanya. Berarti selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan.?
Sagara melepas pelukan itu, lalu memegang kedua bahu gadis itu. "Lo.. beneran cinta sama gue.?" tanya Sagara tak percaya.
Zayna hanya mengangguk. "T-tapi... Itu dulu, Gar"
Wajah Sagara langsung berubah. "Iyaa, gue tau.! Sekarang elo udah punya Areksa, jadi elo nggak usah pikirin perasaan gue. Gue udah seneng, ternyata cinta gue dulu nggak bertepuk sebelah tangan" tatapan cowok itu berubah menjadi sayu.
Impian terbesarnya pupus begitu saja. Impiannya adalah memiliki Zayna untuk selamanya.
"Lo nggak salah, Gar.! Nggak usah minta maaf terus, di sini gue yang salah karena telah menyakiti hati elo.! Jujur, gue kecewa sama elo dulu. Karena elo tiba-tiba ngilang gitu aja.! Ternyata elo udah pergi ke Korea bersama orang tua lo"
Cowok itu memejamkan matanya. Seandainya waktu bisa di putar kembali, ia akan menyatakan cintanya dari dulu jika kedepannya seperti ini.
"Maaf.! Gue udah buat Lo kecewa. Tapi ingat, Lo tetep ada di sini" cowok itu menunjuk bagian dadanya.
__ADS_1
Mata Zayna kembali berkaca-kaca. Sungguh ia tidak bisa melihat lelaki yang sempat ia cintai ini terluka seperti ini.
"Mulai sekarang... Lo harus bahagia bersama lelaki itu" ujar Sagara tulus, walau ada guratan kekecewaan di sana. Tetapi itu bukan masalah, selagi gadis yang ia cintai bahagia. Ia akan ikut bahagia.
"S-sagara... Lo..."
Sagara mengangguk. "Gue udah lepasin Lo sekarang, Nia. Nggak ada harapan lagi buat gue bisa dapetin elo kan.? Gue nggak mau ngrebut kebahagiaan elo.! Kebahagiaan elo adalah kebahagiaan gue juga" cowok itu meraih tangan Zayna. Lalu menggenggamnya erat. "Satu kata buat elo ingat.! Gue cinta dan sayang sama elo, Zayna Aghnia"
.
.
.
Kini Zayna berada di rumah orang tuanya. Sepi, itulah yang di rasakannya saat ini. Tadi memang Anis sudah menghubungi nya, menanyakan kabar kepadanya.
Gadis itu menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Pikirannya masih terbayang ucapan Sagara tadi. Gadis itu mendesah berat. Memang ia akui ia masih mencintai Sagara.
__ADS_1
Ia ingin sekali menerima cinta dari Sagara. Tetapi apa boleh buat.? Statusnya sekarang sudah menjadi tunangan cowok lain.? Ia tak mau lelaki itu kecewa kepadanya, tetapi di sisi lain lelaki yang dulu mencintainya juga merasa kecewa.
"Gue nggak mungkin kan nerima Sagara di hidup gue.? Apalagi sekarang ada Areksa.?" Zayna terus saja bergumam.
_________
Di sisi lain, seorang lelaki tampan sedang menyenderkan bahunya di dekat balkon kamarnya. Memandang padatnya jalanan di siang hari. Hari yang cerah dan indah tetapi tidak dengan hati lelaki itu.
Berkali-kali lelaki itu menghembuskan nafasnya berat. Susah untuk bernafas saat ini. Ya, lelaki itu tak lain adalah Sagara. Yang sedang menerima takdir yang pahit ini.
"Zayna Aghnia, gue pengecut ya.? Gue keduluan orang lain di hidup Lo.?" gumamnya menatap nanar pemandangan pusat kota.
Lelaki itu tersenyum getir, meratapi nasibnya. Memang berat untuk mengikhlaskan orang yang kita cintai. Tapi mau bagaimana lagi.? Ia tak mungkin merebut Zayna dari tunangannya bukan.? Ia tak mau menjadi perusak hubungan orang yang ia cintai.
"Semoga elo bahagia sama laki-laki yang udah jadi tunangan elo" gumamnya lagi
Lelaki itu mendesah berat, dadanya seperti terhimpit batu besar yang menghalangi rongga dadanya. Lelaki itu mendongak, agar air mata yang sedari tadi ia tahan tidak keluar. Tapi sayang, walau ia sudah mendongak, air matanya masih tetap mengalir membasahi pipi putihnya. Karena terlalu lama ia bendung.
__ADS_1
Mata cowok itu sudah memerah, air matanya mengalir deras. "Walau sulit untuk melupakan Lo, tapi gue tetep akan berusaha menerima kenyataan pahit ini..." Lelaki itu menghapus air matanya sendiri.
______________