Gadis Bercadar Milik CEO Tampan

Gadis Bercadar Milik CEO Tampan
Bab 49


__ADS_3

Fanya mengangguk tersenyum sumringah. 'Dasar polisi payah' batinnya. Fanya kini pura-pura mencari toilet karena ia masih di pantau oleh polisi itu. Saat ia sudah menemukan toilet umum, dia segera masuk. Sedangkan polisi itu menunggu di luar toilet.


Kini fanya berjalan di lorong toilet, dia mencari cara untuk kabur dari polisi tersebut. Matanya menangkap sebuah lubang di ujung toilet, ia mendekat ke lubang itu.


"Sepertinya hari ini keberuntungan berpihak kepada ku" gumamnya tersenyum girang.


Ternyata lubang itu sebuah kerusakan yang belum di tambal. Fanya celingak celinguk kesana kemari memastikan jika tidak ada siapa-siapa.


"Aman.!"


Fanya segera masuk ke dalam lubang yang lumayan besar untuk ukuran tubuhnya. Walau butuh perjuangan.


"Berhasil" gumamnya ketika ia berhasil keluar dari area toilet.


"Gue harus kesana, tapi baju yang gue pakai tahanan.! Nanti orang-orang tau kalo gue buronan yang kabur.!" gumamnya.


Tapi, tak apalah. Ia akan berhati-hati dan was-was.


Sedangkan kini polisi itu masih menunggu Fanya keluar dari toilet. "Tuhh anak ngapain.? Lamaa banget.!"


Kemudian, ada orang yang baru saja keluar dari toilet yang sama. Polisi itu kemudian berjalan menghampiri wanita itu untuk bertanya. "Maaf mbak, mau nanya.! Apa mbak lihat gadis yang pakai baju tahanan di dalam kamar mandi.?" tanya polisi itu berharap wanita itu tau.


"Nggak ada pak.! d-di dalam tadi cuma ada saya.!" jawabnya sedikit gugup.


Bagaimana tidak gugup coba.? Ia di tanya oleh polisi.


Polisi itu mengangguk. "Ya udah, terima kasih mbak"


Wanita itu berjalan cepat meninggalkan polisi itu .


"Apa jangan-jangan dia kabur.?" tebak polisi tersebut.


Ia segera menelpon seseorang untuk membantunya mencari keberadaan Fanya yang kabur. Setelah beberapa menit, sebuah mobil polisi datang. Lalu turunlah sosok pemuda tampan dari mobil.


"Bagaimana anda bisa lengah.? Padahal hanya seorang gadis.?" tanya pemuda itu dengan tegas.


"M-Maaf T-Tuan Bima.! S-sayaa tadi di tipu katanya dia mau ke toilet tadi" ucapnya gugup.


"Jadi polisi itu jangan lengah seperti ini.! Harus tegas, apalagi dengan gadis yang seperti itu.!" peringat Bima geram.

__ADS_1


Lalu datanglah sosok polisi lainnya untuk mencari Fanya yang kabur. "Cari dan temukan dia" instruksi Bima pada bawahannya.


"Baik Tuan" ucap mereka serempak.


.


.


.


Kini Zayna di kirim pesan oleh sahabatnya untuk joging pagi hari ini. Padahal ia malas sekali jika harus joging, ia tidak pernah sama sekali joging.


"Ahh males banget gue.! Mending nonton drakor aja kali ya.!" ucapnya


Dddrrrttt


Zayna meraih ponselnya. "Bunda.?"


Zayna segera mengangkat telpon dari Anis, ia sudah tau pasti bundanya akan menyuruhnya pulang.


"Iyaa, halo Bund.?"


"......"


"......"


"Bentar Bund"


"......"


"Iya iya, nih mau siap-siap kok"


"......"


" bye... bye bund" Zayna langsung menekan tombol warna merah tanpa mengucapkan salam dulu.


Zayna segera bersiap. Ia sudah mengirimkan pesan pada Airin dan Lisa jika ia tidak bisa ikut joging karena orang tuanya menyuruhnya untuk pulang.


"Astaga.! Gue lupa.? Cadarnya.? Aduuuhhh gimana ini.?" bingungnya.

__ADS_1


Zayna baru sadar kalau ia melepas cadarnya di rumahnya. Lalu sekarang ia harus bagaimana.? Di apartemen ia tidak menyediakan seperti itu.


"Apa gue beli dulu ya.?" pikirnya.


"Kelamaan kali"


Tanpa ba-bi-bu ia langsung menyambar kunci motornya. Tak lupa penampilannya yang seperti semalam, tetapi kali ini Zayna mengenakan jaket kulit hitam. Ia segera mengendarai motor sport nya. Sepertinya ia harus membeli cadar dulu.


Di sisi lain, seorang lelaki dengan tatapan tajamnya sedang berhenti di lampu merah, menunggu warna lampu itu hijau. Ia menoleh ke kiri tepat dengan seorang gadis memakai jaket kulit hitam dan motor sport nya. Lelaki itu memicingkan matanya, seperti tidak asing dengan postur tubuhnya.


Dan..... Motor sport nya yang dibawanya itu seperti.....


"Tuan.! Ada apa dengan Tuan.?" tanya Fatir sekretaris Areksa membuat lamunannya buyar. Areksa menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa Tuan ngelamun.? Kita sebentar lagi ada meeting.?" peringat nya.


Ya, memang hari ini Areksa ada meeting dengan clien penting dari luar negeri. Ini sangat menguntungkan bukan.? Tapi bagi Areksa itu adalah hal biasa saja. Tidak ada yang lebih menarik kecuali gadisnya.


Lampu sudah berganti warna, Fatir segera menjalankan mobilnya kembali. Sedang Areksa.? Ia menoleh kembali ke arah di mana gadis tadi berada. Tetapi gadis itu sudah tidak ada disana. Ternyata sudah lebih dulu menyalip beberapa kendara lain.


'Siala gadis itu sebenarnya.?' batinnya


"Fat.! Apa yang saya perintahkan kemarin sudah kau lakukan.?" tanya Areksa membuat Fatir menatapnya dari kaca spion dalam mabil.


"Yang mencari tahu tentang gadis malam itu.?" tanya Fatir


"Hmmm"


"Maaf Tuan, saya belum sempat mencari tahu.! Tapi tadi saya sudah coba, tetapi sepertinya susah kalau tidak ada nomor plot motornya" ujar Fatir


Areksa menyesal, seharunya ia tadi melihat nomor plat motor pada gadis itu. Entah mengapa ia penasaran ingin tau siapa gadis itu. Seperti tidak asing untuknya.


Sedangkan Zayna kini tengah berada di sebuah mall, ia akan membeli yang ia butuhkan itu. Saat ia akan memilih sesuatu, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya sehingga ia hampir terjatuh jika tidak ada tangan kekar yang menahan pinggangnya.


Zayna memejamkan matanya. 'Kok nggak sakit sih.?' batinnya masih belum sadar. Perlahan ia membuka matanya, ia membulat sempurna ketika ia di tatap intens oleh lelaki yang menahannya.


"Minggir" Zayna mendorong tubuh lelaki itu membuatnya menjauh. Lelaki yang ada di hadapannya ini menurutnya sangat menakutkan. Karena penampilannya yang sangat misterius. Topi hitam, masker hitam, serta jaket yang ia kenakan juga hitam.


"Kalo jalan itu lihat-lihat" ketus Zayna

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum miring di balik masker hitamnya.


"Lo beneran nggak kenal gue Zayna Aghnia" bisik lelaki itu tepat di telinga Zayna.


__ADS_2