
Merasa bosan, Zayna mendorong kursi rodanya sendiri menuju taman. Nanti Bundanya biar menyusulnya.
"Udara pagi ini seger banget sih" gumamnya menatap bunga-bunga yang ada di taman tersebut. Saat ia hendak berbelok, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar.
Matanya membulat sempurna ketika seorang gadis sedang memeluk lelaki yang sangat Zayna kenali. "A-Areksa.? S-Sama siapa dia.?" gumamnya tak percaya, entah mengapa hatinya panas melihat adegan pelukan itu.
Tanpa Zayna sadari, kini matanya mulai memanas dan bulir bening mulai jatuh ke pipi mulusnya.
'Ternyata semua lelaki itu brengs*k' batinnya geram.
Tangannya sudah terkepal kuat. Apa ia sudah mencintai Areksa.? Kenapa Areksa di peluk gadis lain dadanya terasa sesak sekali.?
Zayna berbalik arah meninggalkan taman itu, niatnya ke taman mencari kesegaran. Tetapi mendapat kehancuran dan panas di dadanya.
Sedangkan Areksa yang kini mendapat pelukan tersebut, cukup terkejut. Dengan kasar, ia mendorong kuat tubuh gadis itu sehingga membuat gadis itu terjatuh.
"Aauuhh.." rintihnya memegang siku yang sedikit lecet.
"Gue peringatin sama Lo.! Jangan pernah sentuh gue.! Apalagi peluk gue seperti tadi.! INGAT.!" ucapnya dengan penuh emosi.
"Dan--- kalo elo cuma mau bicarain soal itu. Nggak penting bagi gue" desisnya tajam
"A-Areksa.! Lo tega sama gue.? Dorong g-gue.?" Bianca sudah menitikan air matanya, entah itu palsu atau tidak.
Areksa tidak memperdulikan itu, ia segera meninggalkan gadis itu sendiri.
'Kenapa gue tadi nurutin cewek sialan itu ke taman.?' batinnya geram dengan dirinya sendiri.
Ia berbelok ke kantin rumah sakit membeli makanan untuk Zayna. Sedang Zayna.? Saat ini ia kembali ke ruangannya. Anis saja bingung kenapa ia malah berbalik ke ruangannya.? Katanya tadi ia minta ke taman.?
__ADS_1
"Nak, kamu kenapa.?" tanya Anis mengelus pucuk kepala Zayna.
Sedangkan Zayna hanya memalingkan wajahnya. Merasa geram membayangkan adegan tadi.
Kini Areksa kembali ke ruangan
Zayna dengan menenteng plastik di tangannya. Ia melihat ada Anis di sana.
"Ehh, Areksa udah dateng" ujar Anis melihat Areksa yang kini berjalan ke arah keduanya.
"Bunda udah makan.?" tanya Areksa pada Anis
"Belum, tapi Bunda nanti aja di kantin rumah sakit.! Sekarang biar Zayna dulu" jawabnya
"Sekalian aja Bund, Areksa beli lumayan.!"
Areksa hanya mengangguk, lalu menatap Zayna yang kini bermain ponsel. Seolah tak melihat kehadirannya. Membuat Areksa mengernyitkan dahi bingung.
"Nak, Bunda ke kantin dulu ya.! Kamu di sini dulu sama Areksa.!" ucap Anis pada putrinya.
Zayna hanya melirik sekilas lalu berdehem sebagai jawaban. "Ya sudah, Sa.! Jagain Zayna sebentar ya.?" pintanya.
Areksa mengangguk, setelahnya Anis keluar berjalan ke kantin.
Kini Areksa menarik kursi di samping Zayna. Lalu meletakkan plastik tersebut di atas nakas.
"Main ponselnya nanti lagi, sekarang makan dulu" titah Areksa
Zayna tak menggubris ucapan Areksa, ia masih kesal dan geram dengan adegan tadi. Mendingan ia curhat ke Airin dan Lisa tentang perlombaan balapan yang akan di adakan 2 Minggu lagi.
__ADS_1
Areksa yang geram karena merasa di abaikan pun langsung merebut ponsel yang di pegang oleh Zayna. Sedang Zayna.? Tentu saja terkejut.
"Makan.!" ucap Areksa dingin
Zayna malah cuek. "Balikin" seru Zayna menatap tajam lelaki itu.
"Nggak.! Makan dulu"
"Gue nggak laper" desisnya tajam
Areksa terdiam sejenak. Zayna sudah menggunakan bahasa Lo-Gue lagi.?
Zayna geram dengan sifat Areksa. Lalu ia menatap nyalang lelaki itu, membuat Areksa mengernyitkan dahinya. Tak biasa tatapan Zayna begitu kepadanya. Apa ia mempunyai salah.? pikirnya.
"Kenapa elo perduliin gue.?" tanya Zayna, membuat Areksa semakin bingung.
Jelas ia peduli dengan gadis yang ada di depannya ini. "Zayna--- Kamu---"
"Sana pergi.! Urusin cewek yang tadi meluk Lo" ucap Zayna penuh tekanan di akhir kalimatnya.
"Apa maksud mu by.?"
"Jangan panggil gue dengan sebutan itu.! Gue jijik.!"
"Kenapa kamu memakai bahasa itu lagi.! Aku nggak suka kamu pakai Lo-Gue" ucap Areksa
"Bukan urusan Lo.! Sana pergi temuin cewek yang tadi nempel-nempel kek ulet bulu" celoteh Zayna menahan kekesalannya.
Areksa berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Dan--- Areksa ingat saat ia mendapat pelukan secara tiba-tiba dari Bianca.
__ADS_1