
"Kenapa diem.? Kaget karena aku bisa tau kamu dimana.?
Zayna semakin bimbang, matanya melirik kesana kemari mencari seseorang. Tetapi sial, tidak ada seorang pun yang harus di curiga kan di sini.
"Beneran deh, aku lagi di kamar.!" elaknya lagi
"Nggak usah bohong,! Aku tau kamu ada dimana, jangan bohong, aku nggak suka kebohongan" suara dingin itu mampu membuat Zayna terdiam, takut jika Areksa akan marah.
"A-akuu..."
"Sama siapa.? Ngapain di sana.?" tanya Areksa dengan nada dingin dan datar.
"A-aku emang sedang ada di bengkel, dan aku sendiri.! Tadi cuma... Mau bilang servis mobil lagi kapan" jawabnya dengan gugup, takut jika Areksa tidak akan percaya.
"Begitu.? Tidak bohong kan.?"
"I-iyaa, nggak bohong kok, ngapain bohong"
"Kenapa kalo cuma servis mobil tadinya bohong.? Apa ada sesuatu yang harus kamu tutupi.?" tanya Areksa dari balik ponsel
"I-ituu... Karena aku takut kalo kamu nanti marah"
"Dan sekarang aku marah karena kamu keluar rumah malem-malem begini, gimana kalo terjadi sesuatu sama kamu.? Pulang cepat.!" titahnya
"Iyaa, iyaa. Ini mau pulang kok" Zayna pasrah sajalah. Sebenarnya ia ingin pergi ke rumahnya yang satu.
"Hmmmm"
"Ehh, kamu kok tau aku ada di bengkel.? Apa jangan-jangan kamu cenayang ya.?" tebak Zayna
"Nggak perlu tau.! Cepet pulang atau....."
"Iyaa, ini mau pulang" putus Zayna memotong ucapan Areksa
__ADS_1
"Ya udah kal....."
Tutt
Belum sempat Zayna berbicara sambungan teleponnya sudah di putus oleh Areksa. "Kenapa coba, pakek di matiin segala.?" gerutunya kesal.
Sedangkan Areksa, dia masih memantau lokasi Zayna.
"Bagaimana Tuan.? Nona ngapain.?" tanya Fatir
Areksa melirik sekilas. "Kepo.!" desisnya
'besok ada perlombaan.?' batin Areksa mengingat kembali apa yang di ucapkan temannya.
____________
Malam ini seorang gadis cantik sedang merencanakan sesuatu. "Jadi bagaimana.? Mengerti.?" tanya gadis itu pada tiga anak buahnya
Mereka mengangguk kompak. "Mengerti Nona"
"Sudah kalian cari tau lagi tentang gadis itu.?" tanyanya lagi pada anak buahnya.
"Sudah Nona.! Ini dia" salah satu dari mereka memberikan sebuah map.
"Ini yang asli kan.? Gue nggak mau di tipu lagi sama gadis sialan itu" ucap gadis itu yang tak lain ialah Bianca
"Kami tidak tau Nona, semoga saja itu yang asli karena kami berhasil mengambil sedikit data-datanya"
Bianca membuka map tersebut. Lalu membacanya dengan cermat. "Sepertinya Areksa cinta banget sama gadis ini. Bagaimana kalo gadis ini gue sandra.?" gumamnya tersenyum
"Tetapi... Kenapa tidak ada tentang bela dirinya lagi di sini.?" tanyanya pada anak buahnya.
Mereka bertiga saling pandang. "Gue cuma penasaran, kok dia bisa bela diri.?" gumamnya kami
__ADS_1
"Okey, kalian ikuti jika melihat gadis itu, jangan sampai dia lolos" peringatnya.
"Baik Nona"
_______
Keesokan harinya, gadis cantik itu sedang bergulat dengan guling bantal dan selimutnya.
Dddrrrttt
Suara ponsel itu mengganggu gadis itu. Membuatnya malas-malasan meraih benda pipih itu. Matanya menyipit ketika membaca nama yang tertera di ponselnya.
"Bunda" gumamnya
"Iyaa, halo Bund"
"......"
"Nggak Bund, ini masih jam 6 pagi" ucapnya masih menutup matanya.
"....."
Gadis itu langsung terjingkat ketika Bunda nya mengatakan jika ini sudah jam 8 pagi.
Ya, gadis itu Zayna. Biasa, tadi malam ia begadang nonton drakor seperti biasa. Mumpung di rumahnya sepi kan.? Kesempatan baginya.
"......."
"I-iyaa Bund, Zayna mau bangun kok"
Setelah selesai beberapa menit, telepon pun selesai. Gadis itu tadinya ingin segera bangun jadi malas. Tetapi tiba-tiba pikirannya melayang ke cowok itu, yaitu Areksa. Tumben cowok itu tidak menghubunginya. Ia menatap gelang pemberiannya kemarin. Zayna tersenyum membayangkan kemarin.
Gadis itu mengotak-atik ponselnya mencari kontak seseorang. Ia berhenti menscrol ketika melihat nama 'Areksa'
__ADS_1
Zayna hanya menatap nama tersebut tanpa ingin menelponnya. "Kok nggak nelpon sih.?" gumamnya berharap Areksa menelpon dirinya.
Tetapi nihil, lelaki itu tidak menelponnya.