
___________
"Dua hari lagi, Lo bakal ikutan kan, Na.?" tanya Airin
Mereka kini sudah berada di markas mereka. "Hmmm... Gue mau bales ketua Black One itu.! Songong banget dia mentang-mentang dulu gue nggak ikut lomba, ya pastilah dia yang juara" kata Zayna sembari meneguk segelas wine.
Jangan berfikir jika Zayna ini anak yang kalem, rendah hati, sopan santun. Ohh now.! Zayna jauh dari kata itu, ia tidak sebaik yang di pikirkan. Aneh memang. Baru kali ini ada seorang gadis bercadar tetapi cadar itu hanya untuk menutupi depannya saja. Tetapi di belakang masih sama, belum berubah.
Dan inilah sifat asli seorang Zayna Aghnia. Bisa di bilang sih bar bar, galak, pemberani, jauh dari kata sopan, ngomong blak-blakan serta sifatnya yang tomboy.
"Ohh iya.. tunangan Lo gimana.? Udah tau soal ini.?" bisik Lisa
Zayna menoleh, lalu mengedikkan bahunya. "Jadi, belum Lo kasih tau jati diri elo yang sebenernya.?" tanya Airin
"Bisa parah nanti, Na. Kalau suatu saat elo ketahuan pasti dia marah besar karena elo nggak jujur dari awal"
"Nggak bakal" jawab Zayna sembari menuangkan sebotol A.M.
"Astaga Na. Elo kok minum campur-campur gitu sih.? Mabuk baru tau rasa" celetuk Lisa
Zayna menghiraukan ucapan Lisa. Ia sudah terbiasa minum seperti ini tetapi tidak terjadi apa-apa.
"Yuhuuu.... Kita makan dulu" suara Langga menggelegar sembari membawa nampan berisikan makanan.
"Berisik banget sih elo.?" gertak Airin
__ADS_1
"Hehehe... Gue cuma mau nganterin ini.! Kalian mah enak duduk duduk manis, lahh... Kita.? Bakar bakar sampek badan serasa ke bakar" ujar Langga
"Kalian kan laki-laki, ya wajib dong itu. Kita itu para cewek jadi tinggal terima bersihnya aja. Nggak perlu panas-panasan, ya nggak.?" ucap Lisa
Airin mengangguk menyetujui ucapan Lisa. Sedang Zayna.? Ia hanya menatap mereka semua datar.
"Udahh... Nggak usah banyak bac*t Lo pada" ucap Zayna mampu membuat mereka bungkam.
"Ya udah, nih buat kalian. Kita makan di sana saja" Langga meletakkan nampan berisi makanan itu di meja hadapan mereka.
"Thanks pelayan ku" ucap Lisa mengedipkan sebelah matanya.
"Iihhh.... Najis" Langga buru-buru pergi dari sana
"Ayoo kita makan" Airin, Luna segera mengambil satu tusuk sosis yang sudah di bakar.
"Na.! Kok diem aja.? Lo tidur ya.?"
Zayna memang mendengar, tetapi seolah ia menulikan pendengarannya. Kepalanya sedikit berdenyut, entah karena apa.?
"Biarin aja lah, mungkin dia udah ngantuk" Lisa memasukkan bakso yang sudah di bakar ke dalam mulutnya.
Akhirnya yang menghabiskan makanan itu dua curVt itu. Zayna sedari tadi hanya memejamkan matanya sembari menyenderkan punggungnya di sofa.
"Enak banget sih, kita jadi puas" ucap Lisa
__ADS_1
"Iyaa.. ehh tapi Zayna belum makan.?" mereka berdua lantas menoleh ke tempat Zayna. Masih sama posisinya. "Udah tidur kali"
Zayna perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat. "Ehh, Na. Udah bangun.?"
Airin dan Lisa saling pandang, bagaimana jika nanti Zayna mencari makanannya yang sudah mereka habiskan.? Bisa marah nanti si Zayna.
"K-kita ambilkan elo makanan lagi ya.? Soalnya yang tadi itu.. kurang enak" ucap Lisa
Zayna menatap mereka bingung. "Gue mau balik" tiga kata itu mampu membuat kedua temannya itu dag dig dug.
"Lohh... Kenapa nggak tidur sini aja.? Lagian elo juga udah lama nggak nginep sini loh, ini juga udah malem kan.?"
Zayna menggelengkan kepalanya. "Nggak.! Gue ada urusan, gue mau balik" Zayna beranjak dari duduknya. Tangan kanannya memegang sisi sofa untuk berpegangan karena kepalanya semakin berdenyut.
"Lo kenapa Na.? Lo sakit.?" tanya Airin khawatir karena Zayna berjalan seperti zombie
"Apa jangan-jangan Zayna mabuk lagi.?" tebak Lisa
Airin menatap Zayna tak percaya. "Zayna.! Apa beneran elo mabuk.?" tanya Airin. Berusaha mendekat.
"Kalo elo mabuk, mending jangan balik dulu. Nanti di tengah jalan malah nyungsep gimana.?" ujar Lisa asal
"Bener Na.! Mending elo nginep sini aja"
"Lepas" desis Zayna ketika Airin hendak menyentuh tangannya.
__ADS_1
"Aduuuhhh... Gimana nih.? Zayna mabuk.?" Airin terlihat begitu gelisah
Mata Lisa menatap botol dan gelas yang tadi di gunakan Zayna untuk minum.